Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 37


__ADS_3

"Lo yakin?" tanya Ansell ragu.


Pagi ini, Zee berniat ingin memunculkan dirinya di depan keluarga dan sahabatnya.


Zee menarik nafas dalam-dalam, lalu mengangguk mantap.


Ansell menggenggam telapak tangan Zee erat, "Yuk."


Ansell dan Zee keluar dari markas DBM, tempat yang selama ini menjadi persembunyian Zee.


"My Bebep Ansell yuhuu!!"


Teriakan dari luar markas menyerbu telinga mereka berdua.


"******, Cala!" pekik Ansell kaget.


"Apa? Aduhh kenapa Cala bisa kesini sih?!" pekik Zee ikut panik.


"Kan kata elo mau nunjukkin diri lo kalo masih hidup. Itu Cala, Saudara lo. Ya gak papa kali," kata Ansell.


Zee menghembuskan nafasnya pasrah. Lalu mengangguk. Yang dikatakan Ansell memang benar. Lantas, untuk apa ia panik?


Terlihat tubuh mungil Cala dari pintu yang berlari seperti anak kecil menghampiri Ansell.


"Hai, Sayang," sambut Cala setelah menempelkan lengannya ke lengan Ansell.


Sungguh, Ansell merasa risih jika Cala bersikap seperti ini.


"Cal, lepas!" suruh Ansell.


Cala menggeleng tegas, "gak mau!"


"Lepas Atau lo bisa pergi dari sini!"


"Ck iya iya!"


Cala melepaskan lengannya dari lengan Ansell.


Tak sengaja, matanya menatap Zee yang disebelah Ansell.


"Kak Zee?!"


Zee tersenyum kaku, ia mencoba meredam panas yang tiba-tiba menyerbunya.


"Kak Zee? Kok...." Cala kehabisan kata-kata


Sungguh ini dirinya yang salah lihat kah?


"Kita pulang dulu yuk. Nanti gue jelasin," ucap Zee santai.


Cala mengerjapkan matanya berulang-ulang, lalu mengangguk kaku, "i-iya."


****


Dikediaman Williams, ada tamu tak diundang datang dengan air mata berlinang. Membuat Williams menatapnya risih.

__ADS_1


"Sungguh, kami sangat menyesal telah mengusir Zee. Kami ingin berterima kasih pada mu, karena telah merawat Zee," Kata Friska dengan air matanya.


Williams benci berada di situasi seperti ini. Ketika keluarganya sudah mengikhlaskan kepergian Zee. Kedua insan ini datang dan mengimgatkannya akan kenangan Zee yang buruk.


"Tidak apa. Kami juga ingin berterima kasih pada mu, karena telah membuang anak sekecil Zee dan membuatnya menjadi bagian dari keluarga Williams," kata Ny. Williams, lebih terdengar seperti sindiran halus.


"Zee pul.....lang," teriakan Zee terhenti saat melihat keluarga kandungnya ada disini.


Semua menatap Zee kaget. Mereka refleks berdiri akibat keterkejutan yang sangat.


"Z..Zeline?"


"Princess?"


Zee menatap datar keluarga Smith, dan beralih ke keluarga Williams.


Ia tersenyum lembut, lalu menghampiri Williams yang masih mematung, Zee memuluknya dengan erat. Membuat Friska tersenyum getir. Setelah sebulan penuh tak berinteraksi dengan Dady nya ini.


"Zee? I...Ini kamu princess?" tanya Ny. Williams terbata-bata.


Zee melepaskan pelukan Williams. Dan beralih pada Momy nya. "Iya ini Zee. Princess kalian," Ucap Zee seraya terkekeh kecil.


Air mata Ny. Williams langsung tumpah. Ia menarik Zee kedalam dekapannya. Mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


Zee membalas pelukan itu, ia menghapus air mata Momy nya dengan tangan lembutnya.


"Jangan nangis lagi. Zee gak suka."


Ny. Williams mengangguk sambil tersenyum.


"Zeline?" panggil Friska. Membuat Zee menoleh.


"Hm."


Tapi disisi lain, ia juga merasa dendamnya belum terbalas.


Apa yang harus Zee lakukan?


Smith merangkul bahu Friska. Mencoba menguatkan hati istrinya.


Mereka sadar, mereka salah.


Tapi, tak bisakah, mereka melihat putri kesayangannya itu memeluk mereka seperti terakhir kalinya sebelum kejadian naas itu?


Zee menoleh kearah Ny. Williams.


"Bagaimana pun mereka orang tua kandung kamu, Princess," kata Ny. Williams.


Zee menarik nafasnya dalam-dalam. Sebelum akhirnya memutuskan.


Zee berlari ke arah Friska dan memeluknya erat. Airmata Zee tumpah, sudah lama ia tak merasakan pelukan hangat ini dari Momy nya.


Friska menangis sesenggukan. Ia membalas pelukan Zee. Dan membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Maaf, maaf, Zeline, maaf."

__ADS_1


Zee melepaskan pelukannya, lalu mengusap airmata Friska yang berjatuhan, "Jangan nangis lagi. Zee gak suka," kata Zee menirukan kata-kata nya sendiri.


Zee beralih pada Smith yang sedari tadi menahan air mata, Zee tersenyum lembut, dan memeluk Smith dengan erat.


"Zeline kangen Dady," kata Zee lirih. Semua anggota keluarga Williams tersenyum lembut.


"Maafin dad, maaf..."


Zee melepaskan pelukannya, "Bang Dito sama Bang Dika mana?"


"Sekolah, Sayang," kata Friska lembut.


Hati Zee bersorak senang. Mendengar suara Momy nya yang kembali lembut. Itu membuatnya senang.


"Zeline kangen Zaline," ucap Zee tiba-tiba setelah keheningan melanda mereka.


Semua nya terkejut bukan main. Bukan kah seharusnya Zee membenci anak sialan itu?


"Zaline itu pembohong, say-"


"Jangan berbicara buruk tentang Zaline!"


"Ke-kenapa?"


"Karena Zaline yang udah nyelamatin nyawa Zee!"


Ansell yang sedari diam mematung, kini menghampiri Zee dan merangkulnya, memberi kekuatan agar Zee tidak kembali menumpahkan air matanya.


Perlakuan lembut Ansell pada Zee membuat hati Cala sakit.


Tidak pernah Ansell merangkulnya seperti itu.


"M..maksud kamu?"


Flashback on.


Zaline dan Zee sedang berada di pantai, menikmati sore yang indah dengan matahari yamg akan tenggelam, orang-orang menyebutnya, Sunset.


"Lo tau?" Zaline membuka percakapan.


"Hm."


"Kalau kita ini adalah satu."


Zee menoleh ke arah Zeline dengan kening berkerut.


"Maksud lo? Karena kita kembar?"


Zaline terkekeh pelan, "Bukan, oon. Masa lo masih gak peka juga. Lo ngerasa gak sih, kalau lo tiba-tiba ngerasa gak enak badan gitu, apa ngerasa seperti ngelakuin sesuatu tapi lo gak tau apa itu."


Kening Zee berekerut. Ya memang itu yang terjadi padanya. Tapi kenapa Zaline bisa tau?


"Dari tingkah lo membuktikan, bahwa itu benar," Kata Zaline.


"Lo tau? Siapa yang bunuh Oma dan Opa?" tanya Zaline lagi.

__ADS_1


"Elo."


Zaline menggeleng pelan, "bukan gue. Tapi elo...."


__ADS_2