Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 49


__ADS_3

...Terkadang, ada satu hal yang terjadi tanpa kita duga....


...****...


Vania menatap jenuh gelas berisi tequila dihadapannya. Seketika ia rindu dengan teman-temannya.


"Vania!" panggil seorang cowok sebaya dengannya, melambaikan tangan dan berlari menuju kearahnya.


"Wow, aku baru tau kalau kamu kembali kesini," ucapnya menggunakan bahasa inggris. Vania melirik sejenak kearahnya lalu membuang muka nya.


"Kamu lupa?"


"Hm."


Cowok itu mencubit hidung Vania gemas. Membuat Vania mau tak mau menatapnya lagi.


"Apasih?!" tanya Vania kesal. Sepertinya ia tak menyadari dengan siapa ia berbicara.


"Kamu lupa?"


"Apa? Lo siapa? Lo Kev- KEVIN?!" pekik Vania kaget, membuat beberapa pasang mata menatap kearah mereka.


"Akhirnya nggak lupa."


Vania memeluk tubuh cowok yang ia panggil Kevin tadi.


Cowok dengan rahang mengeras , dan kerutan dahi yang sangat terlihat, tubuh ramping namun kekar, dan bibir merahmuda tipis membuatnya semakin terlihat sexy dimalam ini.


"Hiks,..."


Dahi Kevin berkerut, mendengar isakan Vania, "You oke?"


Vania melepas pelukannya, matanya terlihat sembab, namun segera ia hapus dan mengangguk.


Kevin tersenyum tipis, "Gimana di Indonesia? Aku dengar, gangster sana sudah mendapat kemajuan yang tinggi."


Vania tersenyum lebar, ia mengangguk dan menjawab, "tentu saja. Ada gue disana!"


"G..gue?"


"Oh, ya, sorry. Aku lupa ini di Inggris," kata Vania meringis.


"Santai."


"Kalau begitu, mau kita berdansa disini?"


Vania tersenyum lalu mengangguk. Ia meraih tangan Kevin yang mengajaknya berdansa di tengah-tengah orang berpakaian kurang bahan.


Vani meneguk tequila yang tadi tak sempat ia minum, badannya berjoget mengikuti irama, melupakan sejenak fikirannya. Tubuhnya yang sempurna, membuat beberapa pasang mata menatapnya takjub dan ingin menyeretnya untuk bermalam. Sayang, Vania masih dalam keadaan sadar.

__ADS_1


"Good girl," takjub Kevin dibalas senyuman tipis dari Vania.


Sementara itu di Indonesia, tepatnya di kediaman Zalfa. Keluarganya sedang berkumpul. Ada Cleo juga disana. Sedari tadi ia hanya menunduk, entah rasa apa yang sedari bergemuruh didadanya. Tapi setelah berhadapan dengan momy Zalfa yang tak lain adalah Ny. Lexa.


Ny. Lexa adalah single mother, ia membesarkan Zalfa sendiri tanpa bantuan orang lain. Jadi jangan heran, kalau Zalfa selalu bersikap manja pada momy nya. Walaupun terkadang Ny. Lexa jarang pulang kerumah karena sibuk pekerjaan, tapi beliau tidak pernah lupa memberikan kasih sayang lebih pada Zalfa.


Ny. Lexa menatap Cleo dengan tatapan sendu nya. Merindukan sosok laki-laki muda dihadapannya. Kini sudah beranjak dewasa.


"Ma...ma..." panggil Cleo pelan. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup kencang, saat mengucapkan kata sakral yang tak pernah ia ucapkan sejak 16 tahun terakhir, saat kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah.


Ny. Lexa tak dapat membendung airmatanya. Ia membentangkan kedua tangannya, membiarkan Cleo memeluknya leluasa.


Cleo mengeratkan pelukannya. Seberusaha mungkin ia menahan airmata yang sebentar lagi akan tumpah.


Kedua insan yang sejak lama terpisahkan.


Zalfa memandang keduanya dengan senyum tipis. Lega rasanya, setelah mencoba menyatukan keduanya kembali.


Seorang putra dengan ibunya. Kini kembali bersatu.


"Maaf..." lirih Ny. Lexa.


Terpisah selama belasan tahun dengan putranya sendiri bukan lah hal yang diinginkan Ny. Lexa. Tapi apa daya, saat itu ia tak mempunyai apa-apa untuk melawan mantan Suaminya, Tn. Andro yang notabenya sebagai pria kaya yang egois. Beliau bahkan tak segan-segan berbuat curang dengan mengandalkan uangnya agar hak asuh anak jatuh ke tangannya.


Cleo melepaskan pelukannya, ia mengambil telapak tangan Ny. Lexa, mendekatkan kearah bibirnya, lalu menciumnya lama.


Zalfa menatap keduanya dengan tatapan sendu. Sekilas ia teringat dengan Vania.


Zalfa tau, apa yang Vania rasakan beberapa hari terakhir sebelum ia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Zalfa jadi merasa bersalah. Pasti Vania cemburu. Mengingat betapa besar rasa cinta Vania terhadap Cleo, yang kini tanpa ia sangka adalah kakak kandungnya sendiri.


"Zal..."


Zalfa tersadar dari lamunannya, ia menoleh kearah Cleo yang memanggilnya.


Ia tersenyum kecil, saat Cleo memberi isyarat untuk berpelukan bersama. Dengan senang hati, Zalfa menurutinya.


Memeluk sang ibu dan kakaknya dengan erat. Seolah tak akan melepaskannya.


Zalfa Putri Lexa dan Heandro Cleo Putra.


Namanya saja sudah memang menyatukan mereka. Mungkin dari sebagian kalian tidak menyadarinya.


Takdir tak bisa ditebak.


Apapun yang sudah terjadi dimasa lalu mu, bisa saja menjadi bagian dari masa depanmu.


Ini kisah mereka, lalu bagaimana dngan kisah kedua insan yang sedang bercumbu asmara ini?


****

__ADS_1


Mata mereka beradu lekat. Saling memberikan tempat ternyaman yang pernah kedua bola mata itu lihat.


Untuk pertama kalinya Zee dan Ansell merasa sebahagia ini.


Menikah?


Bahkan pacaran saja Zee enggan membayangkannya.


Ansell sendiri masih tak percaya apa yang ia lakukan. Seperti saat ini.


Keduanya baru saja bangun tidur dari malam pertama mereka.


Eitss jangan kotor dulu pikirannya!


Maksudnya tidur biasa setelah malam pernikahan yang begitu mengesankan.


Mereka memutuskan untuk tidak melakukan hubungan itu dulu. Itu karena Ansell yang memintanya, ia hanya ingin melakukannya disaat mereka berlibur ke London untuk bulan madu. Zee sih pasrah aja.


Jika kalian bertanya-tanya, kenapa harus London? Itu karena Davin yang meminta. Bocah satu ini menagih janji Momy nya yang ingin mengajak hangout bareng selepas ujian-ujian yang begitu menyeramkan.


Awalnya Zee menolak, karena ia hanya ingin berdua bersama Ansell. Tapi, Ansell mengatakan tidak apa-apa, asal mereka tidak menganggu acara mereka.


Zee lagi hanya menurut saja pada suaminya itu. Ciee elah manggilnya udah suami!


Lo kapan??!!!


Ansell masih enggan berhenti menatap mata Zee yang begitu indah.


Zee jadi salah tingkah, ia berdehem untuk menyadarkan Ansell. Namun cowok itu malah demakin melebarkan senyumannya.


"Morning kiss, wife..." pinta Ansell manja dengan suara seraknya. Khas orang bangun tidur.


Permintaan Ansell semakin membuat Zee blushing.


Zee sudah membunuh lebih dari 5000 orang diseluruh dunia, dan sudah banyak menelan darah dari korbannya. Tapi kenapa hanya untuk berciuman saja ia merasa malu?


Zee meneguk ludahnya ketika Ansell memejamkan mata, bersiap menerima kecupan darinya.


Jantung Zee berdegup kencang, ia mendrkatkan bibitrnya kearah bibir Ansell. Saat hampir mendarat, tiba-tiba Ansell membuka matanya kembali.


Dan mengecup bibir Zee singkat.


"Makasih istri," ucap Ansell lalu bangkit dari kasur dan menuju kamar mandi untuk mandi.


Zee mengerjapkan matanya berulang kali. Tanpa sadar jarinya bergerak menyentuh bibirnya yang baru saja dikecup oleh Ansell.


Zee sedikit menarik kedua sudut bibirnya. Semakin lama semakin besar, membentuk senyuman malu-malu Zee.


"Dasar."

__ADS_1


__ADS_2