Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 30


__ADS_3

"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin... Nona Zee dinyatakan meninggal dunia."


Petir bagai menyambar mereka semua. Tubuh menegang, kuping seakan sunyi, lidah terasa kelu. Rasa ketidakpercayaan itu ada. Bahkan saat ini.


"Enggak! Enggak mungkin! Lo pasti salah ngecek. Cepet balikin temen gue lagi! BALIKIN!" teriak Vania.


Kaila sudah menangis dipenuhi rasa bersalah, kalau saja ia yang ditembak, sudah pasti Zee masih ada. Ini semua karena nya!


"Bang, ini karena gue kan, bang? Zee udah gak ada bang. Udah gak ada! Harusnya gue yang mati!"


Rangga memeluk Kaila sambil menggeleng keras, "ini bukan salah lo!" Rangga pun larut dalam kesedihan. Tapi sebisa mungkin ia tahan tangisnya. Jika ia menangis, maka siapa yang menjadi bahu untuk teman-temannya.


"Gue yang bikin Zee mati! Gue yang harusnya mati! HARUSNYA GUE!! ARRGHH!"


Kaila menjambak rambutnya sendiri. Frustasi yang ia rasakan menganggu psikisnya.


Zalfa menghampiri Kaila.


Plak!


"SADAR! LO PIKIR KALO LO TERIAK-TERIAK GITU ZEE BAKAL BALIK! JANGAN BUAT DIRI LO GILA, KAI. Kita juga sama kehilangan Zee!" Zalfa menampar Kaila, lalu memeluknya. Perasaan campur aduk yang mereka rasakan saat ini. Ingin marah, ingin benci, ingin melampiaskan, tapi pada siapa?


Vania sudah sesenggukan di pelukan Cleo.


"Ini mimpi kan, kak? Ini mimpi kan? Tolong bangunin gue! Bangunin gue kak, hiks!" racau Kaila dalam pelukan Zalfa.


Zalfa tidak menyauhut ia juga ikut menangis sambil memeluk Kaila.


"ARRGGH!"


"Kaila!"


Kail menerobos masuk keruang operasi. Dilihatnya Zee yang sudah tertutup selimut rumah sakit.


Tangis Kaila semakin pecah.


"Zee! Bangun Zee! Gue mohon, lo boleh pukul gue. Pukul! Lo boleh hukum gue semau lo, hukum gue. Tapi jangan tinggalin gue gini, Zee. Bangun! BANGUN!!!" Kaila mengguncang tubuh Zee yang sudah kaku.


Vania datang memeluk Kaila dari belakang, "jangan buat Zee kesakitan, gue mohon..."


Kaila panik, ia lantas memegang pipi Zee dengan lembut, "Zee sakit? Mana yang sakit. Maafin Kaila ya? Kaila kekencengan ya?" Kaila seperti hilang akal, rasa bersalah yang membuatnya seperti ini.


"KAILA SADAR! ISTIGHFAR!"


Kaila tak menghiraukan nya, ia masih mengelus pipi Zee yang dingin. Lalu tertawa sendiri, seolah ada yang melucu.


Vania semakin menangis melihatnya. Bahkan disaat seperti ini, Vania tidak bisa melakukan apapun selain menangis.


Zalfa datang, lalu memeluk Kaila dengan erat. Ia membisikkan lafaz Allah pada kuping Kaila.


"Istighfar, Astaghfirullah hal adzim, Astaghfirullah hal adzim, Astaghfirullah hal adzim..." Kaila mengikuti nya walau terkadang terkikik, tapi Zalfa masih membisikkan kalimatnya. Sedih rasanya melihat sahabatnya seperti ini.


Kaila merasa tenang. Ia sudah kembali menjadi dirinya. Tapi masih belum luput dari tangisnya.


"Zee, kak, hiks..."

__ADS_1


"Tuhan lebih sayang Zee...biarin Zee pergi dengan tenang. Jangan buat beban Zee berat," bisik Zalfa yang masih mendekap Kaila.


Rangga dan Cleo di luar ruangan menatap ketiganya dengan tatapan pilu.


"Kita harus cari Gilang!"


****


Semua terjadi begitu cepat. Seakan tak percaya apa yang sudah terjadi. Tanah gundukan didepannya. Kini menjadi tempat peristirahatan Zee.


Nissan yang ditulis dengan ukiran menyatukan kata-kata.


...Zeline Zakeisha Jovanka...


...Binti...


...Smith Endlles...


Dalam hukum agama, saat meninggal nama ayah kandung yang dipakai sebagai garis keturunan anak perempuan. Williams sudah setuju, karena memang itu sudah hukum agama.


Haru tangis masih terdengar di sepanjang pemakaman, apalagi Kaila yang sedari tadi tak bisa diam menangis histeris.


Ansell dan teman-temannya datang. Sebisa mungkin, Ansell menahan air matanya. Ia tak ingin dianggap cengeng oleh teman-temannya. Walaupun status Ansell dengan Zee sebagai pacar bohongan, tapi Ansell menyadari satu hal.


Ia sudah jatuh hati pada Zee.


Teman satu sekolah, keluarga, kerabat, maupun rekan bisnis datang berkunjung ke pemakaman Zee.


Sama seperti apa yang dimimpi Zee.


Dimana Gavin meninju rahang Rangga dan menampar Vania di rumah sakit.


Dari keluarga Smith, hanya Dito yang datang. Sedangkan Dika sedang mengikuti olimpiade matematika dibandung. Dan masih belum pulang. Zaline? Entahlah ia dimana. Apa yang kemarin hanya jebakan?


Semua sudah pulang setelah menaruh bunga di atas makam Zee.


Sekarang, hanya tersisa Dito. Ia menangis di depan makam adik tersayangnya. Mau apapun yang terjadi beberapa tahun yang lalu,  rasa kasih sayang Dito kepada Zee tak akan pernah berubah.


"Hai, Dek?"


Sapaan pertama saja sudah membuat hati Dito bergetar. Air matanya kembali menghambat perlihatannya. Tenggorokan rasa nya tercekat.


"Gimana kabar kamu? Abang cariin kamu kesekolah kok gak ada, malah disini. Ayok pulang, dady sama momy udah nungguin lhoo. Mereka kangen kamu," dusta Dito.


"Abang kangen kamu..."


Dito menumpahkan air matanya, penyesalan yang besar ia rasakan. Kenapa? Kenapa harus Zee? Kenapa bukan dirinya saja?


Dito menarik nafas yang oanjang, "maafin abang... Abang belum bisa jadi abang yang baik buat kamu."


Dito meletakkan sebuket mawar merah di pemakaman Zee. Lalu beranjak pergi setelah mencium nissan Zee.


****


"Jelaskan sejelas-jelasnya!" tuntut Williams tegas, pada sahabat Zee.

__ADS_1


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di kediaman Williams. Orangtua Kaila dan Vania juga ada.


Kevuali keluarga Rangga, Cleo dan Zalfa.


Mereka berlima saling berpandangan. Menanyakan siapa yang akan menjelaskan semuanya?


Rangga menghela nafasnya gusar, "biar gue yang jelasin!"


"Kami, anggota DBD," satu pembukaan sudah membuat semuanya terkejut, termasuk Gavin, Davin, Prim dan Satria. Mereka kira perktaan mereka di rumah sakit tadi hanya gurauan biasa.


"Boh-"


"Jangan menyela!" potong Rangga menatap Gavin tajam.


"Lanjutkan!" suruh Williams. Ny. Williams sudah kembali menitihkan air matanya. Seolah tidak percaya apa yang barusan terjadi.


"Zee yang membuatnya. Awal nya memang hanya sekadar iseng, tapi, Zee ingin meminta kami membantunya membalaskan dendam pada keluarga Smith."


"Atas dasar?" tanya Satria.


"Pengusiran."


Semua nampak menghembuskan nafasnya.


"Lalu?"


"Sebagian anggota DBD berkhianat. Gilang, tangan kanan DBD, orang yang dipercayai Zee. Dia mengkhianati nya," tangan Rangga mengepal. Kaila menundukkan kepalanya. Air matanya juga kembali turun.


"Gilang membuat gangster GB'Gangster dan menyerang kami. Selanjutnya, kalian tau apa yang terjadi..." lirih Rangga.


"Lalu sekarang apa yang akan kalian lakukan?" tanya Prim.


"Membalaskan dendam Zee, dan membalas perbuatan Gilang!" sela Zalfa.


Semua terkejut menatap Zalfa.


"Tapi-"


"Tolong jaga identitas kami. Hanya kalian yang mengetahuinya!" potong Rangga.


"Kalian akan celaka!"


"Jika Zee saja bisa mengorbankan nyawanya demi kami, kenapa tidak?"


Semua terdiam. Orang tua Kaila dan Vania menatap putri nya cemas. Mereka ingin sekali mencegah putrinya untuk bergabung pada dunia hitam lagi. Tapi, apa daya, Kaila dan Vania sangat memantapkan dirinya tanpa bantah.


"Kalian jangan khawatir. Kami bisa jaga diri."


****


Karan menatap kearah langit yang dipenuhi bintang. Tatapannya sendu menatap satu persatu bintang.


"Rasanya, baru kemarin kita bertemu..." Karan tersenyum miris, "tapi kamu udah tinggalin aku..."


"Dunia jahat ya. Merebut semua yang aku miliki. Mama, papa, dan kamu."

__ADS_1


"Sekarang, aku udah gak punya siapa-siapa lagi."


Mata Karan menatap satu bintang yang berkedip padanya, "Semoga bahagia..."


__ADS_2