Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 23


__ADS_3

Zee menutup mulutnya yang menguap. Mendengar penjelasan guru didepan hanya membuatnya mengantuk. Terlebih lagi, tadi malam Zee bergadang semalaman. Membuat ngantuk semakin menjajah tubuhnya.


"Stt...stt. Kai?" bisik Zee pada Kaila didepan mejanya.


Kaila menoleh kebelakang, lalu mengernyitkan dahi, "apa?"


"Izinin gue gek. Bilang gue sakit kek, ngantuk dengerin ceramah si botak."


Vania terkekeh mendengar ucapan Zee, "yaudah bentar. Kasian gue liat muka lo."


Zee tersenyum senang, lalu mulai berakting memegang perutnya sakit.


Vania mengacungkan tangannya.


"Ya ada apa Vania?" tanya Pak Budi.


"Zee sakit pak. Tadi katanya sakit perut pak, saya bawa ke UKS aja ya?"


Pak Budi menatap ke arah Zee. Dilihat Zee seperti sedang mengerang kesakitan, Pak Budi sedikit panik, lantas menyuruh Vania dan Kaila untuk membawa Zee ke UKS.


"Makasih pak," ucap Vania sambil tersenyum kemenangan.


Zee di bopong Kaila dan Vania keluar kelas. Sampai diluar Zee menyudahkan aktingnya.


"Thanks. Gue pengen jalan-jalan dulu. Byee!" Zee segera meninggalkan Kaila dan Vania berdua.


Kaila mendengus kesal, "Terus kita ngapain? Masa harus dengerin ceramah tu guru sih?"


"Cabut aja yu!"


"Bilang abang sama kak Zalfa dulu!"


Vania mengangguk, ia mengeluarkan handphone nya dan mengirim pesan untuk mereka.


"Udah?"


Vania mengangguk.


****


Zee pergi ke arah gerbang belakang. Tak ada penjaga disana, karena memang gerbang itu sudah ditutup sejak lama. Gerbang itu juga biasa digunakan untuk membolos bagi murid-murid nakal seperti Zee.


"Five days again..."


Zee menoleh kebelakang, lalu tersentak kaget saat melihat Zaline sudah berada di belakangnya.


Zee mengerutkan keningnya samar, 5 hari lagi? Maksudnya?


"Mau apa lo?" Zee mengangkat sesikit dagunya. Menatap Zaline dengan tatapan kebencian.


Bukannya menjawab Zaline justru mengekuarkan senyum kmiringnya, lalu pergi dari hadapan Zee.

__ADS_1


Zee mengepalkan tanganya saat Zaline mengabaikan dirinya. Inilah yang tidak bisa Zee kontrol, emosinya. Emosi seseorang memang selalu naik turun kan?


"Lima hari lagi?"


Zee memijat pelipisnya, "maksudnya apa?"


Mengingat-ingat. Ada apa dengan 5 hari lagi.


Zee memelotot kaget saat mengingat sesuatu. Zee mengeluarkan handphonenya dan melihat ke kalender.


Ia membesarkan matanya saat melihat tanggal hati ini, "Tanggal 25. Lima hari lagi genap satu bulan. Dan itu penyerangan GB'Gangster! Astaga...kenapa lo baru nyadar Zee!"


Zee membuka aplikasi Wa nya lalu mengirimkan pesan pada kelima sahabatnya.


Zee : Kita kemarkas sekarang. Penting!


Zee melompati gerbang belakang dengan mudahnya. Lalu pergi keparkiran khusus pemilik untuk mengambil mobilnya.


Setelahnya, mobil Zee melesat dari perkarangan sekolah.


"Five days again..."


Zee teringat perkataan Zaline. Apa Zaline ada hubungannya dengan ini semua? Tapi bisa saja kan Zaline mengartikan dengan maksud yang lain. Ah, ini membuatnya bingung.


Mobil Zee sampai di Markas DBD. Ia segera memasuki ruangannya.


"Gilang!"


"Gilang!"


Salah satu anggota DBD datang, dan mengabarkan bahwa gilang tidak ada disini.


Zee menghela nafas pasrah, ia memijit pelipisnya yang terasa pening. Ini masih pagi, kenapa sudah datang masalah saja?


"Suruh Gilang kesini. Ada yang mau gue omongin. Ini perintah!" ucap Zee tegas.


Anggota DBD tadi mengangguk lalu segera menghubungi Gilang sambil keluar dari ruangan Zee.


Kaila dan yang lain datang berbondong-bondong. Mereka sama-sama menatap Zee bingung.


"Lo kenapa? Tumbenan amat myuruh kita kesini?"


Zee menghela nafasnya kasar, "penyerangan GB'Gangster 5 hari lagi."


"Apa?!" kaget nwreka serempak.


"Terus rencana kita kali ini apa?"


Zee menggeleng pelan, "gak ada."


"What? Terus gimana kita bisa ngalahin mereka sedangkan kita gak ada persiapan apa-apa?" omel Zalfa geram.

__ADS_1


"Kita pake rencana dulu," kata Rangga tiba-tiba.


"Rencana yang mana?"


"Lo inget yang kayta lo ketua DBM menyerahkan satu markas nya buat di bom? Kita akan melakukan hal yang sama. Feeling gue, GB'Gangster udah lama tau soal perjanjian konyol Zee dan ketu DBM itu."


"Kenapa mereka bisa tau?"


"GB'Gangster kan peernah ngirim mata-mata ke DBM. Lo inget Zee? Cowok yang lo bunuh waktu itu."


Zee mengangguk mengerti.


"Jadi rencana kita?" tanya Cleo.


"Memasang bom di 5 titik. Ada kemungkinan mereka datang ke markas kita," bukan Rangga yang menjawab, itu Zee.


Rangga mengangguk membenarkan , "pasang juga di bawah tanah. Kita gak tau mereka akan datang disana apa enggak."


Semua mengangguk mengerti.


"Tapi ada satu yang masih jadi misteri," Zalfa angkat suara, "apa maksud mereka menyerang kita? Maksudnya, kita gak pernah ada urusan sama mereka."


"Mungkin dia pengen jadi yang pertama, tapi dengan cara menyingkirkan kita dulu," terka Vania.


"Masuk akal!"


Zee teringat perkataan Zaline, haruskah ia menceritakan ke teman-temannya?


"Tadi gue ketemu Zaline," ucap Zee yang tentunya mengagetkan semua orang.


"Terus?"


"Dia bilang five days again. Dia seperti tau apa yang terjadi di lima hari kemudian. Gue ngerasa...janggal."


Mereka semua terdiam.


"Mungkin dia pengen buat lo pusing. Udah gak usah dipikirin orang kayak dia. Gak penting," kata Kaila ketus. Mendengar nama Zaline membuat darahnya mendidih.


Mereka mengangguk, "sekarang yang terpenting adalah menggagalkan rencana GB'Gangster," ucap Cleo.


****


Arsyaf menoleh ke kanan kiri. Ia tidak melihat Zee dan teman-temannya, kemana Zee?


"Shit! Gue lupa kalo mereka doyan bolos!"


Arsyaf membuka laptopnya, lalu melacak keberadaan Zee.


Arsyaf mengerutkan kening, saat tidak bisa melacak Zee. Hal itu membuatnya sesikit cemas.


"Bisa aja buat gue khawatir tuh anak!"

__ADS_1


__ADS_2