
Zee segera membukakan pintu kamarnya, matanya terbelalak kaget saat melihat Ansell yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan kaos oblong hitam. Wajahnya terlihat basah, seperti habis mencuci muka.
"Ansell, lo-"
Belum selesai Zee merampungkan kalimatnya, Ansell mendorong Zee masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu.
"Ansell-"
Tanpa aba-aba, Ansell membungkam mulut Zee dengan mulutnya. Membuat Zee membesarkan matanya kaget.
Dengan segera mungkin Zee menggunakan keahliannya sebagai ketua mafia. Di injaknya kaki Ansell hingga membuat ciuman mereka terlepas.
"Brengsek!" umpat Zee, matanya memanas saat mengingat Ansell menciumnya. Seharusnya Ansell tak melakukan ini semua.
"Zee, kenapa lo-"
"Apa?! Lo mikir! Gue udah jadi istri orang! Dengan seenak jidat lo, lo cium gue kayak tadi!" murka Zee wajahnya memerah marah, matanya menatap Ansell penuh amarah.
"Zee-"
"Pergi!"
"Zee, dengerin gue dulu."
"Pergi!"
"Gue jug-"
"Per-"
"GUE JUGA UDAH MENIKAH, ZEE!" bentak Ansell membuat tubuh Zee lemas seketika.
Zee menatap miris Ansell, "kenapa? Kenapa lo kayak gini? Lo udah menikahkan? Lo punya istri kan? Urus istri lo! Cium bibirnya! Bukan gue!"
Ansell menatap Zee dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lo tau? Dengan lo bersikap seperti tadi, itu buat hati gue sakit, Sell... Lo pikir lo nembak Cala di depan gue dan mengaku bahwa lo udah menikah gak bikin hati gue sakit?!"
Zee tertawa miris, "orang seperti gue emang gak berhak jatuh cinta."
Ansell masih manatapnya dengan tatapan yang sama, tanpa bersuara, mulutnya terbungkam, sedangkan perutnya sudah menggelitik.
"Tolong pergi dari kamar gue, sebentar lagi suami gue mau dateng kesini. Gue gak mau pernikahan gue berantakan," usir Zee secara halus. Jari telunjukknya mengarah kearah pintu.
Ansell melipat tangannya, manatap Zee masih dengan tatapan yang sama, "Oke," Ansell melangkahkan kaki nya menju kearah pintu.
Zee menatap punggung Ansell dengan sebulir airmata yang tak sengaja jatuh dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Zee membalikkan tubuhnya, mengusap air matanya yang terasa sangat sulit untuk berhenti.
Bunyi decitan pintu terbuka membuat Zee tersadar. Apa dia suami gue? Pikir Zee.
Zee mengusap airmatanya, ia tak ingin mengecewakan suaminya yang sedari tadi sudah sabar menunggu.
Zee membalikkan badannya dengan kepala tertunduk. Ingatlah, mata Zee masih bengkak, dan ia masih setengah belum siap bertatapan langsung dengan suaminya. Apalagi, mereka sama sekali belum bertemu.
Lelaki itu hanya diam menatap Zee. Ia tau, Zee masih belum siap, jadi dirinya tak ingin memaksakan Zee.
Zee menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai menaikkan pandangannya.
Dari kaki putih milik lelaki itu yang sudah tak terbalut celana pernikahannya yang menyulitkan, kearah dada bidang miliknya, dan Zee berhenti sampai di leher suaminya.
Zee belum siap, sungguh.
Zee meremas-remas baju pernikahannya yang seharga kisaran ratusan juta. Ia menggigit bibir bawahnya, hingga mengeluarkan darah.
Suami Zee terkekeh kecil melihat tingkah Zee. Ia memberanikan diri, mengangkat dagu mungil Zee dan ******* lembut bibir mungil Zee, membuat Zee sedikit terkejut.
Dengan mata terpejam, dan masih belum mengetahui wajah suaminya, Zee membalas ciuman itu. Bahkan, ia membukakan mulutnya untuk memberikan akses bebas melakukan kiss nya.
Suami Zee tersenyum senang saat Zee membalas lumatannya. Ia mulai memperdalam lumatannya.
Ciuman panas terjadi.
Zee memberanikan diri membuka matanya. Saat matanya, menangkap bola mata teduh yang sangat ia dambakan, Zee melepaskan ciumannya.
"Hanya mencium apa yang gue miliki," jawab lelaki itu santai.
Bugh!
"Ansell, lo bener-bener brengsek tau gak," Zee mendaratkan tinjuanya kearah rahang kokoh mili Ansell.
Ansell yang belum siap pun tersungkur kelantai, dan mendapati sudut bibirnya berdarah.
Sial! Sepertinya Zee telah mematahkan tulang rahangnya.
"Pergi!" teriak Zee murka.
"Gak akan!"
"Ansell lo gila!"
"Ya!"
"Keluar dari kamar gue sekarang!" bentak Zee sekali lagi. Benar-benar memuakkan, bagaimana jika suami Zee melihat adegan panas mereka tadi? Zee benar-benar merasa bersalah pada suaminya.
__ADS_1
"Oke, tapi sebelum gue pergi, gue mau memperkenalkan lo sama istri gue."
Jleb.
Sakit, itu yang Zee rasakan. Bahkan disaat seperti ini, Ansell masih saja menguji hatinya.
Lagi, Zee hanya bisa menahan airmatanya.
"O...oke," jawab Zee bergetar. Ia juga sedikit penasaran, siapa wanita yang berhasil menaklukan hati Ansell. Walaupun Zee tau, itu akan sangat menyakitkan.
Ansell menarik pergelangan tangan Zee, namun dengan cepat Zee melepaskannya.
Ansell memakluminya. Biarlah. Ansell berjalan duluan kedalam kamar Zee, menuju meja hias tempat Zee berias sebelum pernikahan tadi.
Zee mengikuti langkah Ansell dengan kaki lemas. Kenapa? Kenapa Ansell seolah mempermainkan hatinya saat ini?
Ansell berhenti sebelum pantulannya terlihat di kaca. Melihat Ansell berhenti, Zee juga ikut berhenti.
"Kenapa lo malah masuk kekamar gue?" tanya Zee sedikit heran.
Ansell mengambil penutup mata dari saku celananya dan memberikanya kearah Zee.
Zee mengernyit bingung, "Apa?"
"Pakai," suruh Ansell.
Zee yang masih bingung pun hanya menuruti perintah Ansell dan segera memakai penutup mata.
Ansell menggiring Zee kedepan cermin fullbody dekat meja rias. Menampilkan pantulan dirinya dan Zee di cermin itu.
"Sekarang biar gue yang buka," ucap Ansell. Zee mengangguk kikuk. Dalam hatinya ia masih terus menekankan rasa sakit.
Ansell berhasil membukakan seluruh penutup mata yang menutup mata Zee tadi.
Zee mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menetralisir cahaya yang masuk kedalam retinanya.
Setelah normal, Zee mendapati dirinya tengah berada didepan cermin bersama Ansell dibelakangnya.
"M...mana istri lo?" tanya Zee enggan.
Ansell tersenyum kecil, ia menunjuk pantulan Zee di dalam cermin, "Itu istri gue."
Zee merasakan degupan jantungnya berpacu dengan cepat, nafasnya tidak terdengar tidak teratur.
Apa? Apa ini maksudnya? Apa istri Ansell itu....
"Elo," ucap Ansell sambil memutar balik tubuh Zee menjadi menghadap dirinya.
__ADS_1
"Elo istri gue."
Tepat disaat itu juga Ansell mengecup kening Zee lama.