Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 34


__ADS_3

Markas GB'Gangster, 05.00 WIB


Gilang bersiap untuk pergi, ia sudah izin kepada ayahnya untuk pergi ke Amerika dengan alasan untuk kuliah.


Tentu saja Ayahmya langsung menyetujuinya.


"Gue harus cepat-cepat pergi dari sini!" kata Gilang sambil menutup ransel nya.


Gilang keluar dari markasnya dan pergi ke parkiran untuk mengambil mobil nya.


Gilang melajukan mobilnya. 1 jam lagi ia akan lepas landas dan terlepas dari masalah taman-teman Zee.


"Gue bebas! Yah gue bebas! HAHA!" Gilang tertawa puas. Senang rasanya ketika sudah terbebas dari masalah yang selalu menghantuinya.


Citt!


Gilang memberhentikan mobilnya ketika ada beberapa orang berpakaian hitam tertutup menghadang jalannya.


Tin! Tin!


"Woyy! Minggir!"


Gilang kalut, ia keluar dari mobilnya dan menatap orang didepannya dengan tatapan murka.


"Punya kuping gak? Budek? Lo ngalangin mobil hue. Sekarang minggir, atau-"


"Atau apa?" sela salah satu dari mereka.


"Atau lo akan dapat hukuman dari gue!"


Mereka menatap satu sama lain. Lalu kembali menatap Gilang datar.


"Lo salah!"


Bugh!


Kepala Gilang terasa pusing setelah mendapat pukulan keras dari belakang kepalanya.


Salah satu dari mereka mengeluarkan ponselnya. Nampak menghubungi seseorang.


"Kami sudah mendapatkannya."


"...."


"Baik!"


Tut!


Telepon dimatikan sepihak dari seberang. Ia menatap teman-temannya.


"Bawa ketempat bos."


****


"Sial!" desis Zalfa.


"Kenapa?" tanya Vania. Mereka berlima mulai mengerubungi Zalfa yang berhadapan dengan komputer.


"Gue kehilangan jejaknya," kata Zalfa.


"Bagaimana mungkin? Lo salah kali. Coba lagi!" suruh Rangga.


"Gue gak mungkin salah. Gue udah nyari lagi, tapi dia benar-benar hilang langsung, tanpa jejak!" kata Zalfa frustasi.

__ADS_1


"Dimana lokasi terakhir nya?" tanya Rangga.


Zalfa mulai mengotak-atik komputernya lagi.


"Jalan mangga."


"Kita cari kesana!"


****


Gilang membuka matanya, tangan dan kaki terikan menggantung di sebuah tiang.


Dimana ini?


"Apa tidurmu nyenyak?" tanya seorang cewek dengan smirknya.


"E..elo?"


"Sstt.."


Cewek itu mengambil sarung tinju nya. Lalu mendekat ke arah Gilang.


"E..elo? B..bagaimana bisa?"


Zee mengernyitkan dahi. Menatap Gilang yang tirkat keatas dalam keadaan menggantung.


"Bisa apanya?"


Zee bersiap di hadapan Gilang, lalu memukul perut six pack milik Gilang.


"ARRGGH!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Zee menghentikan kegiatannya sejenak, lalu menatap Gilang dengan tajam. "Jangan berisik, jeritan lo gak enak!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Aarrghh, stop..s-sakit!"


Gilang menjerit kesakitan, Perutnya terasa terkoyak didalam. Mungkin organ dalam nya sudah bercampur aduk.


Zee tidak memperdulikan jeritan Gilang, ia masuh terus meninju Gilang seperti guling tinju.


"HAAA!"


BUGH!


"Arrrrggghh! Hueek!!"


Gilang memuntahkan darah segar dari bibirnya.


"Ini buat lo yang khianatin DBD!"


Zee menatap Gilang dengan tatapan menyalang.

__ADS_1


Ia mengambil pisau kecilnya lalu memutuskan tali ditangannya. membuat Gilang terjatuh ke lantai.


Tanpa rasa ampun, Zee menarik kasar tangan Gilang dan memotong asal jari nya, hingga tulang-tulang jarinya patah.


"Ini buat lo yang udah buat sahabat gue hampir gila!"


"ARRRGGHH!"


Zee mengambil gunting di meja. Dan menusuknya ke dalam mata Gilang.


"Itu karena lo udah bunuh Zaline, Anjing!"


"Z...zaline?"


Zee kembali menarik gunting nya, dan menusukkan ke bola mata Gilang yang sebelahnya.


"ARRRGGHH, Stop..m-maafin gue! gue minta maaf Zee," ujarnya tulus walau disela-sela sekaratnya.


Zee tidak mendengarkannya, ia justru tertawa. Peduli setan dengan semua dosa nya. Yang hanya ingin ia lakukan adalah dendam yang belum terbalaskan, dendam yang awalnya untuk Zaline, kini berbanding kepada Gilang.


"Arrgghhh! Gue benci lo! Gue benci! Anjing lo anjing! Lo iblis!"


Zee menusukkan gunting itu ke wajah Gilang dengan penuh brutal. Entah itu terkena keseluruh wajahnya atau kadang meleset. Zee hanya ingin membuat Gilang tersiksa.


Wajah Gilang kini penuh dengan darah. Matanya mengeluarkan darah, buta sudah, ia tidak bisa melihat lagi. Bola matanya telah ditusuk oleh Zee.


Menangis? Tentu, Gilang menangis! Tangisan darah. Rasa perih teramat sangat ia rasakan.


Lidahnya terlalu kelu untuk berbicara bahkan untuk menjerit.


Zee kehilangan akal sehat. Ia mengambil palu besi dan memukulnya ke kepala Gilang hingga bocor.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Mati! Mati lo mati!"


Zee melakukannya dengan keadaan berlinang air mata. Penglihatannya buram karena airmatanya.


Sedih rasanya kehilangan separuh jiwanya dan membunuh setan di hadapannya ini.


Rasa bencinya pada Gilang sudah tak terhitung lagi.


Muak sudah mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut ******** itu.


"ARRGGHH!"


BUGH!


Pukulan terakhir tepat menembus otak membuat Gilang menghembuskan nafas terakhirnya.


Nafas Zee terdengar ngos-ngosan. Ia menatap mayat Gilang dengan tatapan tajam, bahkan saat Gilang sudah mati saja masih membuat Zee kurang puas.


Zee merobek perut Gilang dengan pisaunya.


Menadangkan tangannya membentuk mangkuk, mengambil darah Gilang denan tangannya dan meminumnya tanpa ragu.


Glek!


Sungguh menyiksa psikisnya. Zee bahkan meminum darah Gilang secara berulang-ulang tanpa rasa jijik.

__ADS_1


Zee tersenyum dan tertawa puas seperti orang kehilangan akal.


"Mati! Lo mati! HAHAHA!"


__ADS_2