
"Cari informasi tentang orang ini," Suruh Zee pada seluruh bodyguardnya. Ia menunjukkan seorang mahasiswa incarannya yang diduga ada hubungannya dengan keabngkrutan perusahaan Dady nya.
"Siap, Non!"
Satu persatu bodyguard keluar dari kamar Zee, mereka mulai mencari tau orang yang ditujukan oleh Zee.
Zee menghembuskan nafasnya. Seharian ini ia belum makan, bahkan dari sekolah tadi pun ia tak sempat makan apapun, karena memang belum jam istirahat.
"Gue cari makan dulu deh."
Zee memakai syal dan jaket berbulunya. Pagi ini masih sangat dingin. Musim salju mungkin akan tiba.
Zee keluar dari kamar apart nya. Ia melangkah menuju lift. Dan menekan tombol satu.
Didalam lift terdapat lima orang, tiga diantaranya laki-laki yang masih terlihat muda, dan dua diantaranya adalah perempuan, termasuk Zee.
Zee memperhatikan salah satu cowok yang seperti tak asing baginya.
Mata Zee melebar kaget, sekelibat tau siapa orang itu. Itukan mahasiswa yang dikantor Dady. Kebetulan banget. Batin Zee tersenyum miring.
Orang itu menggunakan baju lengan panjang berwarna biru pekat, dan syal yang melingkar di lehernya.
'Makan bisa menunggu.'
Ting!
Pintu lift terbuka. Semua orang mulai keluar, bertukar balik dengan bebrap orang yang menunggu didepan lift untuk menunggu giliran.
Zee mengikuti mahasiswa itu dari belakang. Ia bersikap sepeti turis biasa. Yang berpura-pura tidak tau apa-apa.
Orang itu berhenti di sebuah halte bus. Zee pun sama. Zee duduk dibangku halte dengan santainya. Tanpa ada gelagat mencurigakan. Orang itu pun tak mencurigakan Zee. Bagus!
Satu bus berhenti di depan halte tempat mereka duduk. Semua orang yang berada di halte itu mulai memasuki Bus nya. Tak terkecuali orang itu dan Zee.
Drrtt..drrrtt
Ponsel milik Zee bergetar, Zee memang sudah mengatur nada dering menjadi getaran saja. Menurutnya sangat berisik dan menganggu jika dengan nada.
"Halo?"
"Halo nona, kami sudah menemukan orang yang nona suruh."
"Kirim lewat email saya."
"Baik, nona."
Tut!
Zee mematikan ponselnya.
Tring!
Satu email masuk, Zee segera membukanya. Tiba-tiba bis berhenti. Zee mengalihkan pandangannya. Mengedarkan pandangan mencoba mencari sosok yang ia cari. Dan hasilnya tidak ada!
Sial!
Zee menoleh kearah jendela. Tidak ada juga. Kenapa cepat sekali?
__ADS_1
Zee ikut turun dari bis. Ia menghela nafas, orang itu sudah menghilang. Sepertinya, tidak untuk saat ini. Zee sudah benar-benar lapar.
"Cati makan dimana ya?"
Zee mengedarkan pandangannya. Kini ia berada di sekerumunan seperti pasar. Disekelilingnya, ada banyak orang berlalu lalang. Benar, ini pasar. Disana ada beberap pedagang penjual topi, pakaian musim dingin, sarung tangan, resto, sampai makanan ringan khas Perancis. Zee datang di tempat yang tepat.
"Shooping dulu enak kali ya?" Zee mengangguk, ia berniat mencari makanan, lalu memanjakan dirinya sejenak. Mencoba merilexan fikirannya yang dua minggu ini membuat pikirannya membuncah.
****
"Kita atur tempat. Gue memprediksi penyerangan GB'Gangster ini akan terjadi 2 minggu lagi. Lo ingat kata Zee? Katanya dia hanya punya waktu 1 bulan-4 minggu. Atau bisa aja mereka nyerang sebelum itu."
"Tapi motif mereka nyerang kita apaan?"
Rangga menggeleng tidak tau, "Gue rasa ini masih ada hubungannya dengan Ansell dan Zee."
"Penyerangannya? Apa sih, kok gue masih belum ngerti, untuk pertama kalinya gue ngerasa bodoh, dan itu hanya untuk GB'Gangster. Hebat!" keluh Kaila kesal.
"Tenang, Kai. Gue bakal cari tau semuanya. Bahkan sampe keakar-akarnya.
****
(Anggap aja mereka berbahasa Perancis:v)
Seringan nada mengalun merdu di telinganya. Ditemani dengan sebotol wine dan beberapa wanita di depannya.
Seorang cowok sebaya dengannya menghampiri dengan raut wajah cemas, "Sebaiknya kita cepat meninggalkan tempat ini."
Dirinya yang sedari tadi tengah digoda beberapa wanita sexi, kini menatap temannya dengan tampang jengkel, "Heyy, tidak perlu cemas seperti itu. Kau tau, kau lebih terlihat menjengkelkan jika seperti itu. Nikmati saja apa yang kita punya," ucapnya setengah mabuk.
"Hmm, ya ya. Aku akan baik-baik saja. Jika kau tidak menyukai ini semua, lebih baik pergi, kau merusak mood ku!"
"Cih! Yang benar saja!" temannya segera pergi, merasa muak pada cowok itu yang tergila-gila akan harta!
****
Di dapur, Ansell sedang merebus air untuk memasak mie instannya. Sambil menunggu, Ansell mencari kontak Zee, ia mencoba menghubungi Zee hari ini, untuk membahas masalah pertolongan dari Zee.
Terdengar bunyi dering 2 kali. Baru diangkat.
"Halo?"
"Halo, Zee? Lo dimana? Bisa ketemu hari ini?"
"Gue gak bisa."
"Lah, Kenapa?"
"Gue lagi di Perancis hari ini. Mungkin sampai minggu depan, btw, ada apa? Tumben lo nelpon."
Ansell berdecak kesal, "yaudah gak usah. Nanti aja gue ngomongnya langsung aja. Takutnya lo nggak ngerti kalo ngomong di telpon."
"Cerita aja. IQ gue lebih tinggi dari yang lo bayangin," kekeh Zee sombong. Rupanya dia sedang memakan sarapan khas Perancis disana.
"Dasar sombong! Nanti aja minggu depan gue ceritanya. Cepet pulang! Jaga kesehatan, biar bisa bantuin gue!"
"Dih apaan. Kayak bocah SMP pacaran aja. Alay lo!"
__ADS_1
"Bodo! Yang penting gue mau lo sehat-sehat aja disaat gue butuh lo. Ngerti!"
Terdengar decakan dari Zee, "iye iye bawel. Ada lagi yang mau lo omongin? Gue lagi makan nih."
"Gak ada. Udah lanjut makan, sorry ganggu. Minggu depan inget!"
"Hm."
"Bye!"
Zee tak menyahut, Zee langsung mematikan teleponnya.
Ansell tersenyum kecil. Entah apa yang membuatnya menjadi segembira ini. Padahal dari tadi pagi, ia biasa-biasa saja.
Ansell menggedikan bahu nya acuh, tak lama ia mengerutkan keningnya, teringat akan sesuatu.
"Tadi gue ngapain ya?"
"Bang? Ini bau apa ya? Kok kayak bau gosong?" tanya Kia yang baru saja keluar dari lift.
Ansell menoleh kearah kompor, tepat di detik itu juga ia menepuk keningnya.
"Gue lagi masak air kan tadi?!"
Dengan segera, Ansell mematikan kompornya. Dan menatap miris panci dihadapannya.
Kia berdecak prihatin, "Mom! Abang hangusin panci yang Momy baru beli kemarin!" teriak Kia mengadu.
Ansell segera membekap mulut adiknya itu.
"Sutt. Bisa mati gue. Kia adikku yang jelek, jangan adu ke Momy ya. Nanti gue beliin permen deh!"
Kia menggigit tangan Ansell keras-keras, "lo ngatain gue jelek! Dan lo nyogok gue dengan permen doang. Big no!"
Ansell sedikit meringis kesakitan sambil memegang telapak tangannya yang memerah akibat gigirtan Kia yang lumayan cukup kuat, "yaelah perhitungan amat, permen juga makanan. Lo harusnya bersyukur. Dan gue ngatain lo jelek juga karena itu fakta!"
"Ish! Mom-"
Ansell segera membungkam mulut Kia dengan mulutnya. Membuat Kia membesarkan matanya kaget.
Kia mendorong kasar bahu Ansell. Ia segera mengelap-elap lodahnya, berharap kuman dari mulut Ansell keluar dari mulutnya.
Kia menatap marah ke Ansell, "Abang mesum! Dasar. Balikin first kiss gue!!!"
"Mana bisa dibalikin! Lagian lo nya sih!" balas Ansell tak mau disalahkan.
"Ish! Huaaa, first kiss gue yang gue jaga selama 17 tahun 5bulan dan dengan mudahnya lo ambil gitu aja! Ansell lo gilaaa!" Pekik Kia marah. Ia mulai mengeluarkan air matanya. Kebiasaan kalo Kia marah padanya pasti tak pernah menyebut Ansell dengan embel-embel 'abang'.
Ansell menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia juga bingung kenapa bisa ia membungkam bibir Kia dengan bibirnya. Tapi itu Ansell lakukan secara sponstan. Benar deh. Gak boong.
Dan lebih parahnya, itu hanya karena sebuah panci gosong!
Ansell berjanji akan membuat panci itu menjadi bengkok tak berbentuk.
Kia berlari kearah lift dengan mata sembab. Ia menangis. Benar benar menangis. Sampai lift tertutup dan Kia masuk ke kamarnya, Ansell juga masih tak beranjak dari tempatnya.
"Gue harus gimana?"
__ADS_1