Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 35


__ADS_3

Ini flashback Zee ketemu Karan sehari sesudah Zee dinyatakan meninggal.


****


"Zaline?" kata Karan kaget.


Cewek dihadapannya ini hanya menatap Karan dengan tatapan tenang, "Gue Zee, bukan Zaline."


Karan turun dari rumah pohonnya, dan menghampiri cewek yang amat dirindukannya ini, "Bagaimana mungkin? Ini Zaline. Bukannya kamu-"


"Ya, Zaline meninggal," potong cewek itu.


Karan terkejut, lalu terkekeh, "Bercanda kamu gak lucu."


"Gue lagi gak bercanda."


Karan menatap Zee dengan tatapan heran, "Maksud kamu?"


Zee menghembuskan nafasnya berat, "bisa kita naik kesana?"


Zee menunjuk kearah rumah pohon buatan Karan. Dengan keadaan setengah bingung, Karan mengangguk dan mengajak Zee ke rumah pohonnya.


"Darimana lo nemu tempat sebagus ini?" tanya Zee saat sudah sampai didalam rumah pohon.


"Nyari sendiri," saut Karan santai.


Zee menatap sekitarnya. Banyak foto dirinya yang di foto candid entah itu sedang makan, tertawa dikantin, tertidur, dan masih banyak lagi.


"Lo fotoin gue diem-diem?" tanya Zee menusuk.


Karan menyengir khasnya, "Maaf..." ia sadar akan kesalahannya yang tak sopan memotret orang diam-diam.


Zee tersenyum, lalu menengadahkan tangannya kedepan wajah Karan. Membuat Karan mengernyit bingung.


"Ngapain?"


"Minta Hp lo?"


"Buat apa?"


"Sini!"


Karan pasrah, ia mengeluarkan Hp nya yang harganya tak sampai seperempat harga Hp milik Zee.


Zee merampasnya dari tangan Karan, dan menekan ikon kamera.


Zee menyerahkan nya kembali ke Karan, "Gak sopan, motoin orang diem-diem. Gue nya kan jadi jelek di foto itu. Nih, fotoin gue balik," seru Zee yang semakin membuat Karan bingung.


"Kamu sakit?"


"Enggak."


"Terus kamu kenapa?"


"Kenapa gimana?" tanya Zee balik.


"Kenapa kamu bersikap kayak gini? Biasanya kan kamu dingin, kaku, antisosial-"


"Lo bilang gue anti sosial?" Zee menyentil kening Karan, membuat Karan meringis pelan, "Ngaca! Yang ada elo yang anti sosial!"


"Tapi kamu kenapa begini?"


"Begini gimana?"


Karan menghela nafas berat, "Gak jadi!"


Zee tersenyum kecil. Ia mengerti kebingungan Karan. Zee harus menjelaskannya, ini demi Zaline.


Zee mengeluarkan botol kaca bening yang mulut botolnya di sumpal oleh kayu, didalamnya terdapat secarik kertas tergulung rapi dengan pita merah yang terikat.


Zee menyerahkannya kepada Karan.


"Apa ini?"


Zee tersenyum kecil, sepertinya ia banyak tersenyum hari ini. Entah arti apa senyum itu, "Baca aja."


Karan menerimanya. Ia membuka tutup kayu itu, dan mengeluarkan kertas dari dalamnya.


Zee hanya memperhatikan aktivitas Karan dengan sedikit menahan air mata.


Karan melepaskan ikatan pitanya, dan membuka gulungan kertas yang didalamnya terdapat bait-bait puisi.

__ADS_1


"Tolong bacain yang keras," ucap Zee.


Karan menoleh kearah Zee, lalu mengangguk.


Kutatap matamu dari kejauhan.


Walau yang kau lihat,


Hanyalah objek lain.


Ku baca setiap bait puisi indahmu.


Mengisahkan kenangan indah masa kecil.


Ketika mata hanya bisa menatap mu yng tersenyum.


Ketika mulut tak mampu berucap kata.


Ketika telinga hanya bisa mendengar dirimu tertawa.


Meski tak tau harus berbuat apa.


Matahari tak bersenja.


Itulah aku yang sebenarnya.


Aku mencintaimu...


Tak bisa kah aku mengucapkan itu?


Kata yang sulit kuucapkan.


Kata yang seharusnya keluar dari bibir ini.


Tapi, hanya bisa dipendam dalam hati.


Membuat rasa sesak yang mendalam.


Jika mata ini tertutup,


Jika mulut ini terkunci,


Aku mohon,


Jangan lupakan matahari yang tenggelam ini.


KLMN. Terimakasih atas puisi mu.


-Zaline, teman kecil mu-


Karan reflek menatap Zee dengan kening berkerut.


Sedangkan Zee, di pipi nya sudah berlinang air mata.


"Apa maksud semua ini?"


Zee mengambil nafas dalam-dalam, ia berusaha menjelaskan ke Karan perlahan, "Gue Zeline, Kembarannya Zaline."


"Z...Zeline? Zee maksud kamu?"


Zee mengangguk pelan.


Tubuh Karan melemas. Jadi selama ini ia salah mengirimkan puisi?


"Enggak. Lo.gak salah mengirim puisi," ucap Zee tiba-tiba, seperti tau apa yang Karan fikirkan, "Zaline selalu mengambilnya pagi-pagi setelah lo naruh puisi lo di kolong meja gue. Makanya gue gak pernah tau, kalau lo ngirim puisi."


"Lalu kemana Zaline?"


"Pergi."


"Pergi?" ulang Karan tak mengerti.


"Zaline menggantikan gue di perang kemarin."


"Apa?!"


"Semua salah gue! Harusnya gue lebih tegas buat menghalang dia! Seharusnya gue yang mati. Harusnya gue! Bukan Zaline!" Zee kembali menitihkan airmatanya.


Jika kalian bertanya-tanya, Zee yang meninggal atau bukan.


Tentu saja Zee merasa separuh jiwanya meninggal. Rasa sakit yang diderita Zaline, juga dirasakan oleh Zee. Begitupun sebaliknya. Ini karena keterikatan persaudaraan.

__ADS_1


Nasiblah yang menyuruh nya untuk tetap hidup.


Zaline bisa mengubah takdir!


Karan menatap Zee dengan tatapan tak percaya, rasa senangnya melihat Zee pudar. Ia kira Zee adalah Zaline yang sebenarnya.


Jadi selama ini ia keliru?


Matanya buta hanya karena melihat fisik.


Bodoh.


Karan menyadari kesalahannya, ia terlalu buta.


Karan telah melukai hati Zaline. Ketika Zaline menatapnya, ia justru menatap Zee.


Itu yang dijelaskan puisi tadi.


"Maaf..."


****


Ansell berjalan kearah Zee.


"Udah?"


Perlahan Zee mengangguk.


"Jangan sedih lagi. Gue gak suka! Zaline juga bakal sedih kalau ngeliat lo begini!"


Zee tak membalasnya. Tatapannya kosong. Ia teringat akan pesan Zaline sebelumturun ke pertemuran.


"Tolong titipkan ini ke Karan," Zaline menyerahkan sebotol dengan kertas didalamnya.


"Karan? Karan siapa?"


"Pokoknya harus cari! Gue pengen lo usaha! Awas kalau gak dikasihin," ancam Zaline dengan tawanya. Tawa terakhir yang Zee lihat.


"Iye iye, bawel."


"Biar gue yang gantiin lo ke perang itu," kata Zaline tiba-tiba setelah keheningan cukup lama.


Ansell dan Zee menatap Zaline kaget.


"Gue pengen buktikan kalau takdir bisa diubah!" ucap Zaline dengan mantap.


"Lo gak bisa ngerubah takdir!"


"Gue bisa! Semua yang terjadi ini karena gue! Kalau lo gak diusir, lo gak akan ikut dunia bahaya ini! Lo masih jadi Zeline polos yang gue kenal!" bentak Zaline.


Zee menatap Zaline tak percaya.


Zaline mengenggam tangan Zee erat, "Percaya sama gue. Gunakan imajinasi lo, dalam mimpi itu, itu gue. Bukan Zeline."


"Tolong jagain momy sama dad. Bang Dito, Bng Dika..." lirih Zaline.


"Jangan ngomong gitu! Itu tugas gue, semua ini gak ada hubungannya dengan lo. Jadi tolong jangan ngomong yang bersikap seolah-olah besok lo gak ada lagi disini!" tegas Zee. Ia tidak suka kembarannya berucap demikian.


Zaline tersenyum tipis, "intinya harus gue yang menggantikan lo."


"Jangan diinget-inget lagi!" tegur Ansell, membuyarkan lamunan Zee.


"Ish! Ngagetin aja lo!" kesal Zee mengerucutkan bibir.


"Jalan-jalan yuk? Biar lo hepi!" ajak Ansell dengan senyum sumringahnya.


"Mager ah."


"Udah lah ayoo. Gue yang traktir deh," bujuk Ansell.


"Bener ya?"


"Iya."


"Yaudah, ayoo!"


Zee harus bisa menutup lembaran kisah yang mengenaskan, dan kembali ke Zee yang asli. Sesuai permintaan Zaline.


"Semoga bahagia..."


Detik itu juga bintang berkedip manja padanya. Zaline tersenyun dari atas sana.

__ADS_1


__ADS_2