Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 46


__ADS_3

Zee menatap tajam semua keluarga dan sahabatnya yang tengah menyengir tak bersalah.


Zee menghembuskan nafasnya lelah, bagaimana mungkin ia tak diberitahu bahwa acara perjodohan ini direncanakaa oleh orang-orang terdekatnya?


"Ada yang bisa jelasin ini semua?" tanya Zee dengan nada dingin.


Semua temannya menutup mulutnya yang giginya sudah mengering akibat terlalu lama menyengir.


"Ekhem, dengan segala hormat gue akan menjelaskan semuanya," ucap Kaila dengan lagak nya.


Zee mulai fokus dengan Kaila. Ia sedikit mengangkat dagunya. Menunjukkan hawa menyeramkan tersendiri bagi mereka.


Ansell, menatap Zee dengan kekehan kecil. Istri gue lucu amat sih, batinnya terkikik geli.


"Jadi..."


Flashback on!


"Apa?!"


"Sst. Mom, jangan teriak-teriak gitu juga dong!"


"Kamu serius sama keputusan kamu?"


Ansell mengangguk dengan tegas.


Saat ini, ia berada ditengah keluarga Rendra. Ansell mengatakan, bahwa dirinya akan menikahkan Zee dan mencukupi kehidupannya. Sepertinya Ansell sudah tak sabar menanti.


Ny. Rendra menggaruk tengkuknya yang terasa gatal, "emangnya Zee mau?" tanya Ny. Rendra meragukan.


Ansell menghela nafasnya pelan, ini yang ia bimbangkan selama 2 minggu ini. Apa Zee punya perasaan padanya? Apa Zee tidak ada akan memberikan sedikit pun hatinya?


'Sepertinya gue harus minta bantuan' batin Ansell.


****


Ansell mendatangi markas untuk meminta saran pada teman-temannya. Mungkin, mereka semua bisa membantu Ansell dalam menyelesaikan masalah ini.


"Woyy!" teriak Ansell dari depan pintu. Membuat semua anggotanya yang sedang tertawa itu menoleh reflek. Ansell menghampiri semua teman-temannya. "Seru banget kayaknya, lagi ngapain?"


"Si Cala," Rama sengaja menggantungkan kalimatnya.


Ansell mengerutkan keningnya, "kenapa si Cala?"


"Si Cala jadian sama Haikal," celetus Rama. Membuat semua teman-temannya kembali tertawa.


Entah apa yang mereka tawakan.


Ansell reflek menatap Haikal yang nampak sudah jengah dengan tawa teman-temannya, "Lo serius, Kal?"


Haikal mendelik pada Ansell, "Iya. Emang kenapa sih kalo gue jadian sama Cala? Salah?" tanya Haikal ketus.


"Bukan gitu, Kal. Lo kan tau sendiri kalo dari dulu si Cala sukanya sama Ansell. Hati-hati aja dijadiin tempat plampiasan," ucap Sean sedikit memberi pengertian.


"GAK GITU YA!" teriak seorang gadis dari ambang pintu. Ia menghampiri Haikal dan mengaitkan lengannya ke lengan Haikal, "Gue beneran suka kok sama Haikal."


Haikal tersenyum tulus pada Cala, ia mengelus lembut pucuk kepala Cala. Lalu pendangannya menatap ke arah teman-temannya dengan senyum jail, "Cala sayang gue! Dia udah move on dari Ansell!" ucap Haikal menegaskan.


"Iya dah iya!"


'Bagus, Cala udah gak ganggu gue lagi. Itu artinya, gue bisa leluasa sama Zee' batin Ansell.


"Tumben lo kesini, Sell? Ada apa?" tanya Dandi.


Ansell nampak terdiam merenungkan, "engh. Gini, gue butuh bantuan kalian."


Haikal mengerutkan kening, "bantuan apa?"


"Gue, mau nikah sama Zee."


Rama yang tadinya sedang meminum es teh manis, seketika menyemburkan nya lagi tepat dimuka Sean.


"Shit!" desis Sean menatap tajam Rama. Lalu membersihkan nya dengan sapu tangan yang ada di meja.


"Lo...serius?" tanya Dandi terbata-bata.


"Apa muka gue keliatan bercanda?" tanya Ansell balik.


"Terus?"


"Gue butuh bantuan kalian."


"Untuk?"


"Untuk mengetahui apa Zee punya perasaan sama kayak gue."

__ADS_1


"Ternyata takut cintanya gak dibales, ciah," cibir Sean membuat Ansell menatapnya tajam.


Rama nampak berpikir.


Ets, dia kan gak punya otak!


"Aha, gue punya edi!" pekik Rama setelah medapati lampu diatas kepalanya yang menyala.


"Ide!" koreksi Cala.


"Jadi gini, lo harus nembak Cala!"


"Byurssss!!!" kini Sean yang menyemburkan minumannya ke Rama.


"Apa-apaan, kenapa cewek gue jadi dibawa-bawa! Enggak-enggak!" protes Haikal kesal. Tak setuju dengan pendapat Rama.


"Keuntungan gue nembak Cala apa?" geram Ansell pada Rama.


"Karena..." Rama menggantungkan kalimatnya, ia membersihkan sisa-sisa kuman dari liur Sean yang menempel di wajah tampannya.


Teman-temannya menata Rama dengan sedikit mulut terbuka, menantikan kalimat yang akan Rama keluarkan.


Rama menoleh kearah temannya setelah membersihkan wajah, ia tersenyum jail, "Penasaran yaaaa,"


"*******!"


"Setan!"


"*** lo, Ram!"


"Gak lucu!"


Desis keempat pria tampan itu.


Cala terkekeh kecil, melihat Rama yang berhasil menipu keempat temannya, hampir saja Cala juga ikut penasaran.


"Jadi gini, kalo lo nembak Cala, lo bisa melihat perubahan apa yang terjadi-"


"Gaya bahasa lo biasa aja, bisa gak? Jijik gue degernya," potong Dandi yang Rama abaikan.


"Terus, terus?"


"Jadi kalo Zee cemburu itu artinya dia punya rasa sama lo. Lo tau sendiri, kalo cemburu itu tanda cinta," tumben Rama otak nya jalan.


Ansell memikirkan pendapat Rama, tidak ada salahnya juga mencoba. Tapi yang Ansell takuti jika tidak ada reaksi sama sekali dari Zee. Ia takut patah hati. Ia takut Zee tidak cemburu.


Cala yang mengerti tatapan itu, hanya tersenyum kecil, "Tenang, gue bantuin. Itung-itung selain karena ini menyangkut sepupu gue, Zee. Gue juga bisa ngerasain ditembak oleh matan gebetan gue. Yaa, walaupun hanya akting. Gak papa kan, sayang?" tanya Cala sambil menatap Haikal.


Haikal hanya menghembuskan nafasnya pasrah, terpaksa ia harus merelakan hatinya untuk tidak bersikap egois.


Haikal tersenyum kaku, "Iya gak papa."


"Kita latihan sekarang."


****


Hari itu, tepat dihari Ansell membawa Zee ke tempat markas kedua DBM, dengan akting kepura-puraannya menembak Cala.


Semua teman-tema Ansell sudah mempersiapkan semuanya, hanya saja mereka bersembunyi seperti dibalik layar. Bak sutradara yang mengatur jadwal syuting.


Saat Ansell dan Zee berada dititik yang sengaja ditentukan, Ansell berteriak lantang. Ini salah satu rencananya.


"Tolong minta perhatiannya sebentar!" teriak Ansell.


Tepat saat itu juga Cala masuk dengan pakaian dress selutut berwarna biru laut, itu dress yang ditentukan oleh Haikal.


Ansell menatap Cala dengan senyum kecil. Ia malah membayangkan Zee yang mengenakan dress itu.


Ansell menghampiri Cala yang sekarang menjadi pusat perhatian penonton bayaran yang disewa Ansell.


Cala memulaiaktingnya dengan mengerutkan kening. Berpura-pura tidak tau apa-apa dan seperti orang bodoh dihadapan Zee.


Teman-teman Ansell menatap Ansell dari kejauhan dengan senyum lebarnya. Ansell memang punya bakat akting, pikir mereka.


Ansell mengulurkan tangannya saat sudah sampai didepan Cala.


Cala senang bukan main, ia meraih tangan Ansell dan berjalan mendekati Ansell lebih dekat. Tentu saja senang, hal yang tidak pernah Asell lakukan padanya kini dilakukan, walaupun hanya sekadar akting.


Hati Cala kini sudah sepenuhnya diisi oleh Haikal. Walau sedikit nya masih ada nama Ansell.


Move on itu tidak mudah.


"Hari ini. Gue mau nembak orang! Mungkin, ini adalah hal teralay yang pernah gue lakuin. Tapi, demi dia, gue akan lakukan apapun." jantung Ansell berdetak cepat saat mengatakan itu. Seakan-akan dirinya akan menyatakan cinta pada Zee sekarang.


Ini bagian inti!

__ADS_1


Ansell menatap Cala dengan tatapan lembut. Lalu merendahkan tubuhnya, dengan lutut yang ditempelkan ketanah sebagai tumpuan.


"Izinin gue buat masuk ke hati lo..." Zee, lanjut Ansell dalam hati.


Penonton bayaran yang disewa Ansell mulai teriak dan bertepuk tangan. Itu memang tugas mereka.


Mereka bertepuk tangan sambil berteriak serempak.


"Terima!"


"Terima!"


"Terima!"


Sungguh, Ansell sangat ingin melihat ekspresi wajah Zee sekarang.


Nampak Zee yang tiba-tiba pergi, Ansell sangat ingin mengejarnya. Namun tangannya di tahan oleh Cala.


"Lo gak mau rencana lo gagal,  'kan?"


Ansell menghela nafasnya pasrah, lalu menggeleng.


Prok! Prok! Prok!


"BRAVO! BRAVO!" decak Rama terkagum-kagum.


"Hebat, Sell," puji Sean ia mengangkat jempolnya tinggi-tinggi dan menunjukkannya kearah Ansell.


"Akting yang bagus," ketus Haikal, ia menarik pergelangan Cala dari sisi Ansell. Haikal menahan rasa cemburunya dari tadi. Kalau bukan mengingat Ansell temannya, sudah pasti Haikal sudah meninju rahang cowok yang berani menyentuh miliknya.


"Yaelah possesive amat," cibir Dandi.


Cala tersenyum kecil, kakinya berjinjit menggapai wajah Haikal, lalu menciumi pipi Haikal singkat.


Haikal yang tak siap pun kaget dengan perlakuan Cala, ia terkekeh senang sambil memengusap puncuk keapala Cala dengan kasih penuh kasih sayang, "Curang. Harusnya aku yang cium kamu duluan,"


Cala menanggapinya dengan senyum menjengkelkan, "Yaudah coba aja,"


Tanpa aba-aba, Haikal mencium bibir Cala singkat, Cala mendelik kesal pada Haikal, "kok di bibir sih?"


"Biarin."


"Kamu lebih curang, ih!"


"Udah woy, kasian yang baca, nanti iri," cibir Sean meracau suasana.


"Ck. Jomblo diem aja!" balas Haikal.


"Udah, udah ah. Dandi, gue liat video yang lo rekam," tagih Ansell.


"Ooh, iya iya," Dandi mengangguk-anggukan kepalanya lalu menganbil sebuah kamera yamg terselip dibelakang pot bunga, dan memberikannya kepada Ansell.


"Nih."


Ansell merampasnya begitu saja, lalu mengecek rekaman nya, ia mengerutkan keningnya ketika melihat Zee tampak seperti mengusap air mata disaat ia sedang dalam akting berlutut di depan Cala.


"Kok Zee nangis?" tanya Ansell heran.


"Masa sih?" Sean merampas kamera dari tangan Ansell. Memang benar, Zee menangis dikala menit ke 2:16.


Sean tersenyum lebar menatap Ansell.


Pipi Ansell berkedut ngeri melihat Sean begitu. Ia fikir, Sean kerasukan.


"Sean? Lo baik-baik aja, 'kan?" tanya Dandi berpikiran sama dengan Ansell.


"Kerasukan jin tomang kali dia," saut Rama sekenanya.


"Ih, kok serem ya," pekik Cala sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh Haikal.


"Selamat, Sell," ucap Sean yang masih tersenyum misterius.


"Hah? Jin nya ngomong apa tadi?" tanya Ansell pada teman-temannya.


"Dia ngucapin selamat ke elo," jawab Dandi tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Sean.


"Selamat? Se...selamat apa?" tanya Ansell lagi.


"Selamat ulang tahun kali," saut Rama lagi.


"Gue gak ulang tahun," kilah Ansell.


"Selamat," kata Sean lagi.


"Selamat apasih nih anak? Kerasukan jin pak selamet tetangga gue apa ya?" terka Rama ngaco.

__ADS_1


"Selamat, lo bisa nikah."


__ADS_2