
Vania menatap Cleo kesal.
Bukan, sebenarnya bukan kesal, hanya saja, cemburu. Cemburu karena Cleo dan Zalfa semakin hari semakin dekat. Membuat Vania harus menahan rasa perih di dadanya.
"Curang lo, Bang! Gue kan udah kertas duluan, lu malah ubah jadi gunting!" kesal Zalfa saat permainan gunting kertas batunya di curangi oleh Cleo.
Cleo tadi memasang kepalan tangan yang menunjukkan batu, dan Zalfa memasang kertas. Tapi dengan curang nya Cleo mengubah kepalan tangannya menjadi angka dua, yaitu gunting.
"Yang penting gue menang, sini hidung lo!" palak Cleo membuat Zalfa mendesis kesal.
Cleo dengan jailnya, menarik paksa hidung Zalfa dengan jepitan tangannya, membuat hidung Zalfa memerah.
"Aw...sakit!"
Cleo menjulurkan lidahnya mengejek, lihatlah sekarang Vania sudah terbakar api cemburu. Muak sudah melihat drama yang dibuat mereka berdua.
Cleo yang tidak peka. Dan Zalfa yang tidak bisa mengerti perasaannya. Padahal semua teman-temannya tau bahwa Vania menyukai Cleo. Termasuk Zalfa.
Vania menuju ke belakang sekolah. Ia hanya ingin menikmati pemandangan.
Suara derap kaki dibelakangnya membuat Vania menoleh.
"Lho? Vania?"
Vania membesarkan kedua matanya, "Dion?"
"Elo? Elo ngapain disini?" tanya pemuda yang Vania panggil Dion.
"Gue sekolah disini, lah elo ngapain disini?" tanya Vania balik.
Cowok berperawakan kurus dengan rambut ikalnya dan tindik di telinga kanannya, duduk disebelah Vania, "Gue juga sekolah disini."
"Wah bisa pas gitu ya."
"Mungkin jodoh," saut Dion, membuat Vania menoleh kearah Dion.
"Apa kata lo?" tanyanya.
"Enggak."
Dion Ergaputra. Cowok nakal yang dulu nya sekolah bersama Vania di SMP Rajawali. Dion terkenal dengan kenakalannya dan pergaulannya yang liar. Dan juga playboy. Ya, parasnya yang tampan membuat dirinya menjadi incaran para gadis.
"Kok gue gak pernah ngeliat lo ya?" kata Vania.
Dion menggedikkan bahunya, "Gue baru aja pindah kesini."
Vania hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Eh, btw, lu udah punya doi belum?" tanya Dion dengan kedua alis terangkat keatas dan kebawah. Ia menunjukkan sifat ke playboy-annya.
Sudah 24 jam ia menjomblo, dan itu tidak baik untuk kesehatan. Apalagi, saat-saat ini, nama Vania lagi naik karena memiliki sahabat pemilik yayasan sekolah terkenal ini. Itu Zee.
Vania yang mendengarkan ucapan Dion hanya berdecak malas, "Gak usah bujuk gue buat jadi pacar lo! Basi!"
"Jual mahal amat!" cibir Dion. Walaupun begitu ia tak akan menyerah, mungkin ia harus menggaet Vania kali ini, "Tapi, boleh lah gue minta no WA nya..."
Vania mendesis kesal, lantas ia berdiri dan berjalan menjauhi Dion.
Dion terkekeh kecil melihat tingkah Vania, biasanya cewek-cewek tuh pada gampang dimintai no teleponnya. Tapi sepertinya untuk Vania. Big no!
"Tertarik..."
****
Zee menatap figuranya di cermin besar kamarnya.
Malam ini, ia akan jalan, bukan dinner, atau jajan? Ahh entahlah, ia tak tau Ansell akan membawa nya kemana. Absell hanya bilang, ia akan menjemput Zee di depan Mansion Smith.
Zee turun dari kamarnya dengan menggunakan lift.
Ting!
Dito dan Dika yang tadinya ingin masuk ke lift, kini mengurungkan niatnya saat melihat penampilan Zee yang agak rapi.
Baju putih polos, crlana jeans hitam, dan sepatu kets putih. Rambutnga di kuncir kuda, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih, dan sedikit polesan bedak di wajah Zee.
__ADS_1
"Mau kemana, dek?" tanya Dito heran.
Zee menoleh kearah abangnya, lalu tersenyum sumringah, "mau jalan-jalan dongg..."
"Ama siapa?" kini giliran Dika yang bertanya.
"Sama-"
Belum selesai Zee merampungkan kalimatnya, Bik Hana datang dan memberi kabar bahwa Ansell ada di depan Mansion.
"Sama Ansell?" terka Dito saat nama Ansell disebut dalm kalimat Bik Hana.
Zee mengangguk.
"Zeline pamit, byee!!!"
Zee bergegas keluar dan menghampiri Ansell yang sudah bertengger di motor ninja hitam kesayangannya.
Dito dan Dika melihatnya dari belakang.
"Udah?" tanya Ansell. Zee hanya mengangguk.
"Yuk, berangkat." lagi Zee hanya mengangguk.
Dito dan Dika menghampiri kedua sejoli didepannya.
Dito menatap Ansell tegas, "Jagain adek gue."
"Pasti, bang!"
"Jangan ngebut-ngebut!" peringat Dika.
"Siap!"
"Hati-hati. Jangan malem-malem pulangnya."
"Iya iya. Kita berangkat nib?"
"Hati-hati."
Ansell pun sama, ia memakai helm full face berwarna hitam. Dan mulai menstater motornya.
Ansell menarik gasnya dan meninggalkan pekarangan mansion Smith.
"Mau kemana, Sell?" tanya Zee.
"Ada. Lo pegangan aja," suruh Ansell.
"Ogah!"
Ansell berdecak dalam balik helm nya. Ia melepas satu pegangan stangnya. Dan mengambil alih tangan Zee.
Membuat tangannya melingkar dipinggangnya.
"Kan enak," katanya, setelah membuat jantung Zee mau meledak.
Pipi Zee memanas. Perlakuan Ansell menurutnya begitu manis. Mungkin karena Zee belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.
30 menit Ansell membawanya berputar-putar di ibu kota, tapi masih belum sampai. Membuat Zee sedikit pegal akibat terlalu lama duduk.
"Ini mau kemana sih? Pantat gue udah pegel, Sell!" Racau Zee.
"Sebentar lagi sampai," selalu seperti itu jawaban Ansell. 15 menit yang lalu, Zee menanyakan hal yang sama, begitupula jawabannya. Itu lagi itu lagi!
Zee jadi kesal sendiri.
"Tuh bensi kagak abis apa. Udah 30 menit. Setengah jam!" runtuk Zee pelan. Samar-samar Ansell mendengar omelan Zee, membuatnya tersenyum kecil. Ia sangat ingin melihat ekspresi Zee. Tapi tak bisa, menyetir juga butuh konsentrasi.
Nanti konsentrasinya hilang lagi, gara-gara parno liat muka cantik Zee.
Eh:v
Motor Ansell berhenti di sebuah gedung kosong, gelap, dan tak berpenghuni.
Dahi Zee berkernyit heran. Kemana Ansell membawanya pergi?
__ADS_1
"Ini dimana?" tanya Zee saat sudah turun dari motor.
Ansell merapikan tataan rambutnya dengn menggunakan tangan yang dianggapnya sisir.
Setelah dikata rapi, ia ikut turun dari motor, dan menggandeng Zee erat.
Zee mencekal tangan Ansell. Ia enggan masuk.
Ansell menatap Zee dengan tatapan heran, "kenapa?"
Zee menggeleng patah-patah, "pulang aja yuk."
Tiba-tiba tawa Ansell membunvcah. Tak ia sangka Ze yang notabenya sebagai ketua Gangster terkuat no 2 didunia, takut hanya karena sebuah gedung tua?
"Lo takut?" terka Ansell menahan tawa.
Zee mendesis. Tidak, Zee bukan takut. Hanya saja, sedikit iseng.
Ansell tersenyum kecil, ekspresi Zee saat ini sangatlah menggemaskan.
Ansell menggenggam tangan Zee erat, sambil berkata, "Gak usah takut. Ada gue. Lo bisa pakai ini kalau lo takut gue apa-apain."
Zee menatap pisau kecil yang disodorkan Ansell.
"Gue percaya sama lo."
"Jangan terlalu percaya sama orang."
"Kalau begitu, gue gak jadi percaya sama lo!"
"Kecuali sama gue!" saut Ansell lagi membuat Zee tertawa.
"Haha. Udah ah, masuk nih?" tanya Zee.
Ansell mengangguk, dan menggiring Zee masuk kedalam gedung tua, yang seperti bekas stadion lama.
Zee menatap sekitar nya takut. Tempat ini benar-benar mengerikan, banyak sarang laba-laba di setiap pojok sudut dinding. Zee yakin, disini juga pasti banyak ular!
Zee mengenggam telapak tangan Ansell kuat
Ia berada di titik ketakutan sekarang. Tak lagi bisa berpikir jernih. Lain halnya dengan Ansell. Ia justru serasa menang banyak bisa di gandeng seperti ini.
Seharusnya Ansell membawa Zee ketempat ini lebih sering!
Hingga akhirnya mereka sampai di bagian lapangan stadion.
Zee dibuat terperangah dengan tempat ini.
Tak ia sangka, temlat yang dari depannya terlihat seram, tapi saat berada di dalam banyak kunang-kunang yang berterbangan, cahaya di tempat ini juga netral. Tidak terlalu gelap, dan tidak terlalu terang.
Banyak anak-anak seumurannya yang bermain, seperti bermain bola kasti, sepak bola, bahkan ada juga yang berpacaran di tempat tribun penonton.
"Ini markas kedua gue," ucap Ansell membuyarkan lamunan Zee.
"Ini? Markas? Gila. Gak mungkin banget markas gangster kayak gini. Ini tuh cocoknya jadi taman bermain tau gak!" oceh Zee.
"Gimana? Bagus gak?"
"Lebih dari kata bagus. Ini Amazing!"
"Alay!" ledek Ansell.
"Serius. Kalau gue bawa Kaila sama Vania, udah pasti mereka jingkrak-jingkrak ditempat ini."
"Tadi aja di luar ngomongnya, balik aja yuk. Pergi aja yuk, pulang yuk..." ledek Ansell menirukan gaya bahasa Zee. Yang membuat Zee mengerucutkan bibirnya.
"Gue gak gitu!"
"Masa?"
"Ish!"
Ansell terkekeh. Sekarang puncaknya...
"GUYS!" teriak Ansell tiba-tiba.
__ADS_1
Zee mengernyitkan kening, saat Ansell teriak tiba-tiba.