Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 19


__ADS_3

Paris, 05.00


Matahari belum menampakkan dirinya, hanya cahaya remang-remang yang menembus awan yang sedikit gelap itu. Cuaca yang jauh dari kata hangat, membuat semua orang memilih mendekam dirumah dan menghangatkan diri.


Butiran putih salju mulai turun menutupi kota Paris. Menambah kesan indah nan dingin di kota indah itu.


Zee memakai syal, jaket berbulu, sarung tangan, dan topi rajut yang sekiranya dapat menghangatkan tubuhnya di luar.


Zee melangkah keluar pintu.


"DORRRR!"


"Astagfirullah!"


Zee tersentak kaget melihat teman-temannya dengan tampang tak berdosa sudah berada di depan pintu apartementnya.


"Kalian?!"


"Kejutan!!!"


Zee berdecak geram, "Kalian ngapain disini? Tau darimana kalo gue ada disini?"


Kaila dan lainnya tidak menjawab, mereka malah melengos masuk kedalam kamar Zee.


"Kan ada gue yang pinter lacak!" ucap Zalfa dengan bangganya. Lalu menghempaskan tubuhnya di sofa tamu.


Zee memutar bola matanya malas, "gue mau pergi bentar. Jangan bikin berantakan kamar gue, jangan sentuh apapun. Gue balik, semua benda disini gak ada yang bergeser sedikitpun. Awas lo!" ancam Zee, lalu melangkah keluar untuk pergi ke kantor.


****


Zee mengeliarkan kartu ATM nya pada Sekretaris kantor.


"Ini hasil uang yang dicuri. Ingat! Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Jika ada yang mencurigakan, segera hubungi saya atau beritahu bodyguard saya, nanti akan saya kirim mereka ke sini. Dan, tolong pecat satpam yang bekerja disini, namanya Glen. Dia sudah bekerja sama dengan pelaku merencanakan pencurian kemarin, kalau bisa, laporkan saja mereka ke polisi," jelas Zee panjang lebar.


"Baik, Nyonya."


"Kalau begitu, saya permisi."


Sekretaris itu merunduk hormat.


Zee segera keluar dari kantor, dan beranjak untuk mencari sarapan dirinya dan teman-temannya.


****


"Makan tuh!" Zee menaruh kresek hitam berisi burgerdan beberapa camilan lainnya ke meja makan.


Sedangkan teman-temannya sedang asik sendiri memainkan PS milik Zee.


Zee menghembuskan nafas kesal, ia melangkah menuju saklar dan mencabut tv nya. Membuat permainan berhenti dan semua temannya menatap Zee dengan tatapan tajam.


"Gue udah ketemu rajanya! Astaga, Zee!!" Geram Cleo.


"Apaan? Udah ah, makan dulu, abis itu kita balik!" bentak Zee.


Vania berdecak kesal, "jalan-jalan dulu lah," ia menaik turunkan alisnya.


Zee menatapnya datar, "Gak!"


"Yaelah, gaasik lo!"


"Hari ini kita sekolah, pokoknya gue gak mau tau, hari ini kita harus pergi kesekolah. Titik!"


"Zee!!" rengek teman-temannya, berusaha membujuk Zee agar memberi waktu mereka satu hari saja untuk bersenang-senang. Tapi Zee tetaplah Zee, ia tak merubah keputusan dan tak mau keputusannya di kekang.


"Enggak!" ucap Zee penuh penekanan, "siapin barang-barang kalian. Kita take off 1jam lagi."


Zee berlalu meninggalakan mereka dan menuju ke kamar untuk membereskan pakaiannya.


"Ck. Gimana nih? Gue pengen babget balapan!" Kaila merengek.


"Gue juga!"


"Gue punya edi!"  celetuk Cleo.


"Ide!" koreksi Rangga.


"Iya, nah gini-gini..." mereka semua berkumpul dan berdiskusi mendengarkan ide Cleo, "...Gimana?"


Zalfa tersenyum senang, "otak lo lagi encer, Cle!"


"Bagus! Bagus!"


"Yaudah, Kai. Lo ngomong sama Zee gih!" suruh Vania pada Kaila. Kaila mengangguk dan memasuki kamar Zee.


"Zee?"


"Hm?"


"Kitaa, pergi balapan yuk!" ajak Kaila dengan senyum sumringahnya.


"Kan gue bilang enggak!"

__ADS_1


"Tapi biasanya lo juga yang semangat banget kalo masalah balapan!" Kaila mengerucutkan bibir. Membuat Zee menghela nafas lelah, sepertinya mereka berlima itu belum menyadari cuaca.


Zee menyeret lengan Kaila menuju jendela.


"Sini!" sekarang mereka sudah sampai di depan jendela, terpampang salju turun sedikit demi sedikit, "lo liat? Sekarang salju lagi turun, kalo kita turun buat balapan, yang ada lo jatoh tergelincur! Otak dipake sayang kuu!"


Benar, mereka melupakan fakta itu, salju turun pasti membuat jalanan semakin licin, apalagi diaspal dan mereka akan melakukan balapan yang tentunya dengan kecepatan diatas rata-rata, darisitu tak menutup kemungkinan akan mengalami kecelakaan yang cukup parah.


Kaila menghela nafas pasrah, "tapi kalo kita juga langsung terbang sekarang juga bahaya!" Kaila tak mau kalah.


Zee tak segan-segan menyentil dahi Kaila, membuat Kaila meringis dan mengusap dahi nya yang sakit, "otak lo kayaknya perlu di servis, Kai! Kalo salju kayak gini doang gak bakal ngehambat penerbangan, kecuali ada badai salju! Gue udah liat di BMKG Perancis mengenai cuaca hari ini, dan itu gak terlalu buruk untuk penerbangan."


Skak mat!


Sudahlah, Kaila kalah saja dengan Zee. Memang, otak mereka tidak sebaya dengan otak Zee yang sudah terlalu pintar dalam mengambil tindakan.


"Iya iya, kita berangkat sekarang deh!" Kaila mengalah, lalu pergi keluar dari kamar untuk memberitahu yang lain.


Zee melihat teman-temannya tidak tega. Zee menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "yaudah kuta stay disini satu hari, tapi inget bukan balapan! Kita ke Club Vania aja."


Seketika senyum terpancar dari wajah teman-temannya. Lalu bersorak ria. Mereka sama-sama memeluk Zee dengan bahagianya.


"Thanks sayangkuuu!"


"Emang lo yang terbaik!"


"Emuacchh:3"


"Jadi?" Zee mengangkat kedua alisnya, membuat teman-temannya mengernyitkan dahinya.


"Jadi?" ulang mereka serempak.


"Ayo lets go!" Zee menarik tangan Kaila dan Vania, yang juga mengggandeng tangan Zalfa, Rangga, dan Cleo. Alhasil mereka sama-sama tertarik.


"Lets goo! Yuhuuu!"


Hari itu, mereka menghabiskan waktu bersama di club milik Vania.


****


"Lo yakin mau dateng ke acara Cala?" tanya Dandi meyakinkan Ansell. Pasalnya Ansell sangat risih jika berhadapan dengan si cewek cerewet yang megejar-ngejar Ansell.


"Iya, lagian dia juga udah ngundang, kasian tautnya nanti gak ada yang dateng lagi," Kata Ansell membuat tawa menggema.


"Parah lo, Sell," Sean ikut tertawa.


"Ayo cuyy, kita udah telat ini," Rama menyambar.


"Yoi,lets go guys!" ajak Rama dengan alaynya, membuat Ansell menjitak kepala belakangnya.


Ansell, Sean, Dandi, Rama, dan Haikal menaiki mobil Ansell. Dan beberapa anggota DBM terpilih menaiki mobil Sean.


Ansell menancapkan gas menuju rumah Cala.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di parkiran khusus. Jauh dari dugaan Ansell, ia kira pesta Cala sepi, tapi justru ini sangat ramai. Banyak dari kalangan atas yang hadir, dan itu membuat teman-teman Ansell gelisah.


"Woi, gimana ini. Kita pake jaket DBM lagi, entar mereka semua takut berabe!" Celetuk Rama.


"Apa kita lepas aja?"


"Iya iya! Kita lepas jaketnya, jangan ada yang pake jaket DBM, bilangin mobil sebelah," perintah Ansell, semua temannya segera mematuhi.


"Udah? Masa kita cuma pake kaos item sih!" protes Haikal.


"Yang penting dateng elah! Ribet-ribet amat lo pada!" ucao Sean santai.


"Pinter!"


"Ada yang bawa kado?" tanya Haikal lagi.


"Udah gue siapin di bagasi mobil. Ambil masing-masing satu," kata Ansell lalu keluar dari mobilnya dengan kacamata hitam.


"Yang kayak gini gue demen!"


"Udah yuk."


Mereka turun berbarengan, dengan kado kecil disetiap tangan mereka. Kedatangan mereka membuat seluruh pasang mata mengarah kearahnya. Terutama Ansell, yang paling menonjol di antara mereka semua.


'Itu siapa ya?'


'Ganteng nya'


'Ada pangeran nyasar!'


'Apa mereka temennya Cala?'


Bisik-bisik mulai terdengar, tapi Ansell lebih memilih mengabikannya dan melangkah menuju Cala yang berada di dekat kolam renang.


"HBD, Cal!" ucap Ansell singkat sambil menyerahkan kadonya. Dengan senang hati, Cala menerimanya.


"Makasih, Sell."

__ADS_1


Bergantian dengan teman-temannya yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Cala.


"Jadi, kue nya mana?" tanya Rama sumringah.


Teman-temannya tertawa mendengar ucaoan Rama yang sepertinya tak henti-henti dari kata Makanan.


Cala ikut tertawa, lalu menunjuk ke stan makanan, "ambil aja disitu. Makan sepuas lo!"


Seketika mereka semua tercengang, melihat makanan yang bejibun banyaknya. Ada cake, aneka kue kering basah, nasi beserta lauk, kerupuk juga tentunya, kue ulang tahun, jus jeruk juga berkeliling dengan para maid.


Haikal menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal, "ini acara ulang tahun apa kondangan ya? Banyak banget!"


Cala menoleh kearah Haikal, lantas mengerutkan keningnya, wajah Haikal nampak asing baginya, "siapa lo?"


"Haikal, temen lamanya Absell. Lo belum kenal gue kan?" Haikal memperkenalkan diri, tangannya terulur mengkode berjabatan.


Cala menerma jabatan itu, "Cala, pacarnya Ansell."


"Dih, pacar darimana?!" Ansell menyahut.


"Ck. Otw pacar!" koreksi Cala dengan kesal, membuat Haikal tersenyum kecil, wajah Cala tampak cantik dengan make up tipis di wajahnya dan dress biru laut yang panjang.


Sayang, Cala segera melepaskan jabatannya. Karena ia melihat kearah empat orang cowok yang baru datang dengan tuxedo hitamnya.


"Bang Satria, Bang Gavin, Bang Davin, Bang Prim!" panggil Cala.


"Woy, Kal! Sini!" panggil Ansell. Rernyata ia terpisah oleh teman-temannya. Haikal segera menghampiri Ansell.


Keempat cowok itu yang merasa terpanggil segera menghampiri Cala.


"Selamat ulang tahun, sayang," Ucap Davin sambil menyerahkan kotak kadonya.


"Makasih bang," seketika kening Cala berkerut, ketika tak mendapati sosok yang ia cari, "Zee mana?"


"Dia ditugasin dady buat ngurus perusahaan dady yang di Perancis," jawab Gavin.


Cala mengerucutkan bibirnya, "Kenapa gak abang aja? Cala kangen banget tau sama Zee!"


"Abang kan gak bisa, kalau abang bisa pasti abang yang gantiin princess," ucap Gavin sesal. Ia jug tak tega dengan Zee yang terus-terusan menggantikan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan.


"Lagian, makanya abang belajar!"


"Mereka gak mau," saut Satria santai.


"Bukan gak mau, bang. Tapi belum waktunya!" bela Davin.


"Ck, princess aja belum waktunya udah bisa tuh!" timpal Prim.


"Ya tapikan princess itu hebat!"


"Berarti lo berdua yang ****!" ucap Satria, Cala dan Prim berbarengan. Membuat mereka bertiga tertawa.


"Ya gak **** juga!"


"Udah-udah, hari ini Cala ulang tahun. Gak boleh ada yang sedih. Abang-abang ku yang Cala sayang, silahkan menikmati acaranya, Cala mau ketemu sama temen-temen Cala dulu. Bye!" pamit Cala.


"Bye!"


Cala segera menghampiri Ansell dan teman-temannya. Ternyata, mereka semua juga sedang memperhatikan Cala sedari tadi.


"Siapa itu?" tanya Sean penasaran.


"Sepupu," jawab Cala.


"Ooh."


"Kok kayak pernah liat mukanya ya?" tanya Ansell memicingkan matanya mencoba mengingat-ingat otaknya.


"Mereka anak-anak dari om Williams," jawab Cala membuat semuanya tersedak makanan yang mereka makan.


"Eh! Eh, kalian kenapa? Nih, nih minum!"


Cala menyerahkan minumannya.


"Keluarga Williams?" tanya Ansell tak percaya.


Cala mengangguk santai.


"Gila, ternyata itu anak pengusaha kaya sedunia, mirip banget sama tuan Williams yaa," Sean beropini.


"Berarti lo sepupuan sama Zee?" tanya Ansell.


Cala sedikit terkejut dengan Ansell yang tau tentang Zee, "kok lo tau Zee?"


"Ya karena, Zee itu pac- Emppphhhh!" ucapan Rama terpotong ketika Ansell mebekap mulutnya, Ansell menatap taman-temannya agar tidak membocorkan dirinya yang berpacaran dengan Zee, padahal jelas-jelas itu hanya bohongan, dan itu juga sudah tidak berlaku lagi.


Mengerti tatapan itu, Dandi mulai menyahut, "ya krena Zee itu kan pernah ada dalam majalah tentang keluarga Tuan Williams," Jawab Dandi asal.


Cala mengangguk mengerti, "ooh."


"Lpphhasss!" Ansell segera melepaskan bungkaman Rama.

__ADS_1


"Lo ******, pengn bunuh gue lo ya!" kesal Rama.


"Udah diem lo. Makan lagi nih," Ansell menyumpal roti yang ia pegang ke mulut Rama.


__ADS_2