
Langkah Zee tercekat, ketika mendapati Arsyaf yang sudah berada di depan gerbang sekolahnya.
"Ar-"
Perkataan Zee terhenti ketika Arsyaf langsung memeluknya erat. Tubuh Zee mematung, ia tak menyangka jika Arsyaf benar-benar ke Indonesia hanya untuk menemuinya.
"Cukup, cukup bikin gue cemas. Gue gak mau kehilangan lo lagi," lirih Arsyaf yang masih mendekap Zee dalam pelukannya.
Zee hanya mengangguk penuh sesal di dalam pelukan Arsyaf.
Yah, sepertinya kini mereka sudah menjadi bahan tontonan orang.
"Jangan gitu lagi, inget!" peringat Arsyaf sambil melepaskan pelukannya.
Zee hanya mengangguk, nampaknya ia masih terkejut atas perlakuan Arsyaf.
Arsyaf menggiring Zee untuk keluar dari area sekolah, dan mengajak Zee kecafe terdekat.
"Mau pesen apa?" tanya Arsyaf memandang Zee.
"Gak nafsu," ucap Zee tak bersemangat.
"Lo udah makan?" tany Arsyaf lagi.
Zee menggeleng.
"Setidaknya isi dulu perut lo."
Zee lagi-lagi hanya menggeleng.
Arsyaf menarik lengan Zee menuju meja nomor 22, dekat dengan jendela.
Seorang pelayan perempuan menghampiri meja mereka. Tapi sepertinya, ia salah fokus dengan ketampanan Arsyaf. Membuatnya tidak konsen bekerja.
Menyadari hal itu, Zee berdehem, "Matanya biasa aja dong mbak," sindir Zee ketus.
Pelayan itu terkesiap, ia menunduk bersalah, "Maaf. Ingin pesan apa?"
"Spagetti 2 sama air lemon 2," ucap Arsyaf santai.
"Spagetti 2 sama air lemon 2, ada lagi?"
Arsyaf menggeleng.
"Baiklah, mohon ditunggu 15 menit."
Pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka. Matanya tak henti-henti fokus kepada Arsyaf. Membuat Zee rasanya ingin mencongkel mata pelayan itu.
"Kenapa?" tanya Arsyaf ketika mendapati Zee terdiam.
"Gak."
__ADS_1
"Masih gak mau cerita?"
"Gak."
"Ish," gemas Arsyaf. Ia mencubit pipi Zee yang tidak terlalu tembam itu dengan gemas. Arsyaf selalu melakukan ini saat mereka kecil dulu.
"Sakit!" omel Zee kesal, ia mengelus pipinya yang memerah karena cubitan Arsyaf.
Hal itu, membuat Arsyaf terkekeh geli.
Pesanan sampai, yang mengantarnya pun berbeda dengan pelayan tadi.
"Makan dulu," suruh Arsyaf pada Zee.
"Ogah ah, kan gue bilang gak nafsu makan!"
Arsyaf menghela nafasnya lelah, ia mengangka mie Spagetti yang diapit dua buah sumpit kayu, lalu menyodorkannya ke arah mulut Zee.
"Nih, AAAAA...."
"Arsyaf..." geram Zee kesal.
Arsyaf terkekeh, "Makanya makan. Mau makan sendiri apa gue suapin?" goda Arsyaf.
"Ck. Gue mau sekolah, 3 menit lagi bel masuk."
"Gue udah minta izin sama guru piket," saut Arsyaf santai. Ia mulai memakan Spagetti miliknya.
"Denger-denger, lo abis patah hati," ledek Arsyaf sambil terkekeh.
"Enggak tuh! Kata siapa?" kilah Zee.
Arsyaf mengangkat kedua alisnya, dan menatap Zee dengan senyum menjengkelkan, "Kemarin siapa ya yang nelpon gue, katanya lagi patah hati. Segala dimatiin lagi teleponnya," ledek Arsyaf. Membuat pipi Zee memerah malu.
"Untung bukan gue!"
"Hm?"
"Ish, Arsyaf!!!"
Arsyaf tertawa puas. Menyenangkan rasanya meledek Zee hingga membuatnya gemas bukan main.
"Sebentar lagi gue mau nikah," ucap Zee tiba-tiba.
Arsyaf yang tadinya tengah meminum air lemonnya, tersedak kaget, "Apa?"
"Gue dijodohin, sama Dad, sama Mom."
Arsyaf menatap Zee dengan kening berkerut. Kabar ini mampu membuatnya terkejut. Ia tak mendengar berita apa-apa setelah Zee dikabarkan meninggal tempo hari lalu.
"Terus kenapa lo terima?" tanya Arsyaf.
__ADS_1
"Gue gak mau buat Mom sama Dad kecewa. Mereka keliatan seneng banget," ucap Zee lesu.
"Terus kenapa lo gak seneng?"
"Ya karena gue gak suka!"
"Terus lo suka sama siapa?"
"Ya sama Ansell lah!" teruak Zee tepat di muka Arsyaf.
Arsyaf berdehem canggung.
Zee menutup mulutnya yang tak sengaja keceplosan. **** ****. Pasti dia bakal ngeledin gue! Argghh Zee oon!
Arsyaf menghabiskan makanannya cepat, lalu bangkit.
"Lo gak jadi makan kan? Pulang yuk," ajak Arsyaf. Membuat kening Zee berkerut.
Ada apa dengan Arsyaf?
Zee mengangguk mengiyakan, ia bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Arsyaf yang tengah membayar makanan di kasir.
****
Mulut Ansell menganga lebar, ia tak percaya akan secepat ini pernikahannya.
"Apa gak bisa diundur? Ini terlalu cepat," kata Ansell sambil menatap keluarganya.
"Bukannya kamu yang menginginkan pernikahan ini?" tanya Rendra setengah menggoda.
Ansell menggaruk tengkuknya, "Tapi kalau dia gak bisa nerima Ansell gimana?"
"Dia pasti akan menerima kamu," kata Ny. Rendra.
"Ciee abang, bentar lagi kawin," ledek Kia.
"Diem lo anak kecil! Gue itu mau nikah! Bukan kawin!" kesal Ansell.
"Sama aja, nanti juga abis nikah, pasti kawin kan?" tanya Kia ambigu.
Ansell mendesis pada adik perempuannya.
"Jangan lupa bikinin gue pnakan yang unyu-unyu," ledek Kia semakin ngaco.
"Kalau itu udah pasti."
Ny. Rendra dan tuan Rendra hanya tersenyum menatap kedua anaknya.
Tak ia sangka, kedua anaknya akan tumbuh secepat ini.
"Intinya jangan lepas daritanggung jawab, mengerti Ansell?"
__ADS_1
"Yeah, Mom."