
...Jangan pergi pergi lagi...
...Ku takut kamu terbiasa sendiri...
...Tak mau begini tetap disini...
...Jangan lagi kau pergi tinggalkan aku...
...🎶jangan pergi-salshabilla🎶...
...****...
Suasana kediaman Williams sangat ramai hari ini. Beliau mengadakan syukuran, ralat pesta, atas pernikahan Zee dan Ansell.
Mungkin lebih ke resepsi lah yaa.
Zee dan Ansell berada di ruang tengah, mereka nampak serasi dengan pakaian couple, Zee dengan gaun biru laut panjangnya, dan Ansell dengan kemeja hitam dipadukan dengan Tuxedo biru sebaya dengan Zee.
Keduanya nampak anggun nan menawan.
Teman-teman Ansell pun banyak yang datang, tak terkecuali dengan Sean, Rama, Haikal, dan Dandi. Mereka seperti air dengan wadahnya. Tak terpisahkan.
"Selamat, broo!" ujar Haikal dan Sean menjabat tangan Ansell ala laki. Haikal menggunakan tuxedo hitam yang didalamnya terdapat kemeja putih polos, disebelahnya ada Sean yang juga berpakaian sama. Hanya saja Sean memakai kemeja berwarna hitam.
Dengan senang hati Ansell menjabatnya balik, "Thanks."
Dandi memberikan senyum tipis pada Ansell dan jugaZee. Ia tak terlalu suka banyak omong.
Sedangkan Rama sudah pergi menuju stan makanan. Membuat semua temannya menggeleng prihatin. Melihat Rama makan dengan begitu lahap, ralat rakus, membuat mereka berfikir, bahwa Rama memang pengemis makanan.
Datang tak diundang, pulang membawa makanan.
Begitulah kosakata Rama.
Zee menekan tombol power pada layar handphonenya. Vania masih belum mengabari, padahal kemarin, mereka berdua sempat bertukar kabar, dan Vania berjanji untuk datang ke acaranya.
Kaila, Zalfa, Cleo dan Rangga juga belum datang. Ah, sepertinya Zee lupa bahwa mereka tukang ngaret.
Teman-teman Ansell pamit untuk menghentikan cara makan Rama. Mereka ingin merencanakan aksi jailnya pada orang berbadan besar itu. Sedikit main-main mungkin senang. Kecuali Haikal, Haikal tidak ingin berurusan dengan tukang makan itu, yang ia lakukan hanyalah mencari gadisnya dan mengajaknya untuk berpacaran, siapa lagi kalau bukan Cala.
Ansell hanya mengizinkan saja apa yang akan dilakukan teman-temannya. Asal tidak mengganggu para tamu undangan.
Sepeninggal Sean dkk,
Ansell menatap Zee dengan senyum merekah. Zee nampak begitu cantik malam ini. Membuatmya tak sabar ingin menikmati malam pertama mereka.
Zee menoleh kesampingnya. Ia sadar bahwa Ansell menatapnya sedaritadi, Zee membalas senyuman Ansell, membuat Ansell semakin membesar senyumannya.
*jangan ikut senyum juga ya reads
"Woy!" mereka berdua tersentak kaget mendengar panggilan yang begitu tak megenakan dari seseorang.
Zee menoleh, mendapati Vania yang sedang berlari kearahnya.
Zee yang tadinya ingin memarahi si pelaku, tak jadi ketika mendapati Vania yang berlari dengan senyum merekah.
"Vania!"
"Zee!"
Kedua nya saling meneriaki nama teman masing-masing, sampai berpelukan.
Beberapa pasang mata mentap kearah mereka iri, tak pernah rasanya mempunyai sahabat seperti itu.
*Aaaa ada yang pernah kayak mereka?
Vania melepas pelukannya, begitu pula Zee.
"Kaila mana?" tanya Vania sembari mengedarkan pandangannya. Mencari sosok berambut hitam panjang yang memiliki suara cempreng yang khas. Siapa lagi kalau bukan Kaila?
Zee memanyunkan bibirnya kesal, "Belum dateng dia! Tadi gue telepon Rangga, katanya masih dandan dikamarnya. Dasar!"
Vania terkekeh kecil, ia mengusap ounggung belakang Zee prihatin, "yang sabar punya temen."
Ansell mwnghampiri keduanya dengan sebelah tangan yang dimasukkan kesaku celananya, "gue ke sana dulu ya?" izinnya pada Zee. Menunjuk kearah gerombolan temannya yang sesang merebut piring dari Rama. Sepertinya seru.
Zee hanya mengangguk mengizinkan.
****
Cleo mengedarkan pandangannya, ia mencari sosok yang begitu ia rindukan sejak seminggu terakhir.
Sayang tapi tak berani mengungkapkan
Itu yang sedang Cleo rasakan. Sekarang, sepertinya tuhan memberikannya kesempatan kedua, untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan.
"Vania!"
****
Vania menoleh reflek, ia terkejut ketika seseorang memanggil namanya. Terlebih lagi melihat orang yang memanggil.
"Bang Cleo," gumamnya.
__ADS_1
Nampak Cleo yang berlari diantara kerumunan orang menuju kearahnya.
Cleo berdiri didepan Vania dengan keadaan setengah gugup. Ia menggaruk belakang telinganya, kebiasaan yang ia lakukan ketika salah tingkah.
"Boleh bicara sebentar?" tanya Cleo semakin gugup. Apa banget lo Cleooo, gerutu nya dalam hati.
Terdengar suara tawa Vania, membuat Cleo mengerutkan keningnya.
"Lama juga gak papa kali bang, lo kayak lagi ngobrol sama siapa aja," ujar Vania sembari terkekeh.
Cleo meringis malu, iya juga.
"Yaudah yuk."
"Kemana?" kening Vania berkerut.
Tanpa aba-aba, Cleo menarik telapak tangan Vania dang mengaitkannya jari Vania kedalam jarinya. Membuat Vania kaget setengah hidup.
"Ikut aja," kali ini Vania bisa pingsan!!!
****
Cleo membawanya ke rooftop mansion besar ini. Setelah mendapat izin dari Tn. Williams, mereka langsung menuju kemari.
Vania memandang takjub kedepannya. Tak ia sangka, pemandangan dari atas sini sangat cantik.
Lampu-lampu malam yang menerangi jalan, serta genting-genting rumah yang nampak berdempetan di perumahan yang elite ini. Membuat semua nya nampak seperti berada di istana terbuka.
Cleo memandang Vania dengan senyuman kecil. Entah dari mana ia memulainya.
Cleo menatap kebawah, dimana semua sudah ditata rapi, ia tersenyum kepada seseorang yang berada dibawah sana. Mereka nampak mengacungkan jempol.
Cleo meneguk salivanya gugup. Astagaa, apakah para mavia ini tak punya nyali hanya untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan?
"Van."
Vania menoleh kearah Cleo. Bulan purnama sesang cerah malam ini. Mereka seperti berada tepat dibawah bulan purnama itu sendiri.
"Hm?"
"Gue mau nanya."
Lagi, Vania hanya bisa tertawa. Bahasa Cleo hari ini sangat formal. Membuat Vania pingin tertawa terus.
"Plis, jangan ketawa lagi. Gue udah gugup nih!" protes Cleo kesal yang justru semakin membuat Vania tertawa.
Teman-temannya terkekeh kecil melihat ekspresi kesal Cleo.
Setelah dirasa suasana yang tepat, Cleo mulai membuka suaranya.
"Van."
"Hm?"
"Gue nanya, lo harus jawab iya terus ya," pinta Cleo.
Vania mengernyitkan kening, "Mana bisa gitu!"
"Harus bisa!"
"Terserahlah."
"Gue mulai?"
"Hm."
"Lo perempuan?" Cleo memulai aksinya.
"Mata lo buta, bang? Masa iya gue laki!"
"Jawab iya!!!!"
"Iya," pasrah Vania.
"Lo suka membunuh?"
"Iya."
"Lo gak suka durian?"
"Iya."
"Lo cerewet?"
Vania mendesis kasar, tapi mulutnya tak henti mengucap, "Iya!"
"Lo sahabat Zee?"
"Iya dong."
"Lo suka sama gue?"
Untuk kali ini, Vania terdiam.
__ADS_1
"Jawab iya!"
"I..iya?"
Cleo tersenyum puas, "Lo mau jadi pacar gue?"
Kali ini Vania benar-benar bungkam. Ia benar-benar tak tau harus berekspresi bagaimana.
Cleo menembaknya kah?
Tidak! Cleo memaksanya!
"Pertanyaan kali ini, gue harap lo jawab iya."
Vania terbungkam. Tangannya meremas celana jeans yang ia pakai. Sedangkan matanya menatap Cleo dalam. Mencari ketulusan disana. Ia takut Cleo hanya mempermainkannya.
Sial! Vania malah terlena dengan mata hitam pekat itu.
"Van?"
"GUE MAU!"
Cleo tersentak kaget, ketika Vania teriak seperti itu.
"Lo serius?"
Vania mengangguk antusias dengan lengkungan bibir yang semakin lebar.
Cleo ikut tersenyum senang, ia berjalan medekati pagar pembatas rooftop. Lalu berteriak,
"WOYY, VANIA MAU SAMA GUEE!!!"
"Wooo!!!"
Vania kaget–melongo, melihat lampu yang tiba-tiba mati bersamaan dengan sorakan teman-temannya dibawah yang menyalakan flash handphone. Menggerakkannya kesana kemari sambil menyanyikan lagu jangan pergi-Salshabilla, bahkan ada yang menyalakan kembang api.
"Bang?" panggil Vania dengan pandangan yang tak ia alihkan dari bawah.
"Pacar!" koreksi Cleo sembari terkekeh.
Mendengar kata itu, Vania langsung menoleh kearah Cleo.
"Pacar?"
Cleo mengangguk, "mulai sekarang lo pacar gue. Dan gue harap, lo gak bakal ninggalin pacar lo lagi."
Vania mengerjap, kata-kata Cleo seperti menghipnotisnya.
Cleo tersenyum tipis, ia menarik jari-jari tangan Vania dan menggenggamnya erat. Penuh kehangatan.
Cleo menatap dalam mata Vania, "Lo boleh katakan gue lebay, alay atau semacamnya. Tapi asal lp tau, gue melakukan itu cuma untuk membuat lo tertawa,"
Cleo menyentuh bibir Vania dan mengusapnya lembut, "Demi membuat bibir ini mengeluarkan senyuman, gue rela melakukan hal gila."
"Bang-"
Cup!
"HUOO CLEO GERCEP!"
"HOOO CLEO MENANG BANYAK!"
"HUOO CLEO MODUS!"
"PUTUSIN AJA LAGI VAN!"
Berbagai teriakan disorakan kepadanya. Cleo mendesis kasar pada teman-teman dibawahnya.
"GAK USAH SIRIK OKE!"
Vania terbungkam. Matanya mengerjap beberapa kali. Mencoba merekam ulang apa yang terjadi beberapa detik lalu.
Material lembut yang ia rasakan menimpa bibirnya dengan cepat.
Disatu sisi Cleo menatap Vania dengan senyum yang tak pernah pudar, "I Love You."
****
"Anselll! Kamu belum siap-siap! Ini udah jam berapa. Bentar lagi kita berangkat!"
Suara nyaring itu mengusik ketenangannya tidur. Membuat Ansell kembali merapatkan bantal untuk menutupi kebisingan yang dibuat oleh istrinya.
Brak!
Suara pintu terdobrak, menampilkan sosok wanita dengan sapu ditangannya. Matanya menyorot marah pada lelaki yang tengah merebahkan dirinya dikasur.
Selalu seperti itu. Kedua sejoli ini nampaknya memang tak pernah akur.
Hari ini adalah hari keberangatan mereka menuju London. Tapi nampak nya Ansell tak begitu bersemangat. Semalam adalah hari yang melelahkan. Membuatnya lebih memilih bermanja-manjaan dikasur.
"ANSELLLLLLLL!!!"
...Tamat...
__ADS_1