
"Morning mom, dad, bang," sapa Zee pada keluarganya. Tak lupa ia menciumi satu persatu pipi mereka.
"Morning too, Princess..."
Zee duduk dibangku, dan mengambil sehelai roti lalu mengoleskannya dengan selai stroberi.
Semua menatap ke arah Zee bingung. Pasalnya Zee tidak memakai seragam sekolahnya. Padahal, ini bukan hari libur.
Mengerti tatapan kelurganya, Zee mulai angkat suara, "Zee gak masuk sekolah dulu hari ini," ucap Zee sambil menutup bagian atas roti dengan roti lainnya.
"Kenapa?" tanya mereka serempak.
Zee terkekeh kecil, keluarganya ini sangat kompak, "natapnya biasa aja kali. Zee berasa diintograsi," ucap Zee sambil terkekeh.
"Tumben Princess gak sekolah, kenapa?" tanya Davin serius. Bisa juga Davin serius.
"Yaa, Zee mau jalan-jalan dulu sama temen-temen. Udah lama gak jalan. Yaa shooping gitu," ucap Zee asal. Sebenarnya, Zee ingin kemarkas untuk merencanakan rencana yang akan dilakukan jika GB'Gangster menyerang.
"Sejak kapan Princess suka shooping?" timpal Gavin, Zee memang paling anti dengan yang namanya Shooping. Paling-paling kalau mau beli baju, Zee menyuruh bodyguardnya atau kalau tidak abangnya sendiri.
Kaila memukul kening Gavin dengan sendok selainya, "kamu ini, Bang. Bagus dong kalau Zee mau shooping, itu artinya dia udah mau menikmati kebiasaan wanita."
Gavin mengusap keningnya yang terasa sakit, beberapa selai juga menempel di keningnya, Gavin menghela nafas pasrah, "iya, iya. Tapi Princess jaga diri ya. Soalnya gak ada abang, abang gak mau kamu kenapa-kenapa!"
Zee tersenyum lebar sambil mengangkat tangannya, berhormat, "siap laksanakan!"
Semua keluarganya tersenyum kecil, "yaudah sarapannya dilanjut," ucap Williams.
****
Kia tersenyum senang, ternyata oleh-oleh yang diberikan ayahnya lusa kemarin adalah mobil Ferarri warna merah, impian Kia sejak kelas 8 SMP.
Sedangkan abangnya, Ansell, dia diberikan satu motor ninja warna hijau. Padahal motor ninja Ansell sudah banyak. Tak perlu lagi di belikan seperti ini.
"Bang, jalan-jalan yuk. Mumpung gue ada disini, besok gue udah balik ke asrama nih," ajak Kia menaik turunkan kedua alisnya.
Ansell memutar bola matanya malas, "males ah," Ansell menukar chanell tv dihadapannya. Malas menuruti permintaan Kia pagi-pagi begini.
"Ish abang!!" rajuk Kia.
Ansell tak menghiraukannya. Ia semakin menikmati acar televisi yang menunjukkan acara kesukaannya, masak-masak. Gini-gini Ansell jago masak!
Siara menggelegar terdengar dsri dapur, "SIAPA YANG GOSONGIN PANCI BARU MOMY!!!"
Ansell gelagapan. Ia lantas menarik tangan Kia, "kemana tadi kata lo? Jalan-jalan? Ayo, kemana? Salon? Mall? Gue yang traktir deh," Ansell menyeret tangan Kia sampai depan pintu. Daripada kena amukan Momy nya, lebih baik, Ansell menemani Kia jalan-jalan.
__ADS_1
Kia tersenyum senang, "Thanks, Mom!" teriak Kia dari luar. Berharap Momy mendengarnya.
****
Zaline menatap laptopnya dengan tangan mengepal. Tak ia sangka ternyata ada saja yang ingin menganggu rencana nya.
"Ini gak bisa dibiarin..."
Zaline mengambil handphonenya, dan menelpon beberapa bodyguardnya.
"Sekap orang bernama Zeline. Bawa dia ke gudang belakang."
"Baik, bos..."
Para bodyguard itu mulai menuruti perintah Zaline. Mereka berpencar untuk menemukan orang bernama Zeline.
Zaline mengepalkan tangannya, "Pengkhianat!"
****
Dor!
Dor!
Dor!
Suara pistol terdengar keseluruh penjuru ruangan. Anggota DBD sesang melatih dirdalam hal menembak, membusur, meninju, sampai melempar pisau.
"Lumayan..." aku Zee.
"Konsentrasi penuh akan sangat dibutuhkan dalam menembak. Ingat, yang menembak adalah kalian, bukan pistolnya. Kendalikan mereka, bukan mereka yang mengendalikan kita!"
"Dimengerti!"
"Lanjutkan!"
Semua kembali ketempatnya masing-masing, mereka memakai headset untuk sekadar mengurangi kebisingan di telinga mereka.
"Gue tinggal dulu, kalian kalau mau latihan juga, latihan aja, gue mau balik dulu," pamit Zee.
Kaila dan teman-teman lainnya mengangguk, mereka sama-sama berlatih untuk mengasah kemampuan yang memang sudah lama tidak di gunakan.
Zee keluar dari ruangan latihan, dan bergegas pergi keluar markas. Entah kenapa ia merasa firasat nya tidak enak. Seperti separuh jiwa nya akan menghilang.
Zee menggeleng tak peduli, mungkin itu hanya karena ia sedang banyak pikiran. Lebih baik, Zee merileksan ffikirannya seperti yang dianjurkan oleh Gilang.
__ADS_1
Zee melesat keluar dari markas dengan mobil Sport merahnya. Sekarang, kemana ia akan pergi? Ah, benar, lebih baik Zee ke Mall. Tadi pagi ia pamit untuk Shooping, 'kan? Kalau tidak ada belanjaan yang ia beli, sudah pasti keluarganya akan curiga.
Zee memutuskan untuk pergi ke Mall milik Williams.
Tiba-tiba saja, ada beberapa orang yang menghalanginya jalan. Ada sekitar 5-8 orang bertubuh besar.
Tin! Tin!
Mereka sama sekali tidak menyingkir, dan itu membuat Zee geram.
Zee turun dari mobil nya dengan dagu sedikit terangkat, menatap insan yang dideoannya ini dengan tatapan angkuh. Sepertinya mereka belum tau siapa Zee.
"Bisa minggir?" ucap Zee tajam.
Orang-orang itu hanya diam, mereka menatap satu sama lain, seperti memberi kode yang Zee mengerti apa itu. IQ Zee jauh lebih tinggi dari mereka. Zee tersenyum miring, sepertinya sepertinya ia akan berhadapan dengan orang bodoh.
Tepat sepemikiran dengan Zee, mereka mulai menyerang Zee dari segala arah. Kanan, kiri, depan, belakang. Zee dikepung.
"Mau apa lo?"
"Gue mau lo ikut gue!" kata salah satu dari mereka.
Zee mengangkat alisnya, "untuk apa gue ikut kalian semua. Gak guna!"
"Sial! Serang dia!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Zee menyerang mereka dengan mudahnya. Bahkan serangan dari orang-oramg itu tak ada yang sedikitpun menyentuh nya.
"Lemah! Cuih!"
Zee meludahi mereka yang sudah terkapar lemah di tanah.
Dor!
"Arrgghhh!"
Sial, kaki Zee ditembak oleh seseorang, Zee memegang pergelangan kaki nya yang sakit. Lantas ia memperhatikan timah yang menembus kulit kakinya, peluru bius. Sial!
__ADS_1
Zee mulai kehilangan kesadarannya, tepat saat itu, seseorang membopongnya menuju mobil dan menuju ketempat seseorang menyuruhnya.