
Zee turun dari pesawat pribadinya saat sudah landing di bandara Charles de Gaulle Airport, atau yang biasa dikenal dengan Roissy Airport.
Setelah turun, Zee langsung disambut dengan tatapan kagum dari para turis disana. Kenapa? Karena muka Zee sudah dikenal dengan bagian dari keluarga Williams. Mereka tidak mengenal Zee sebagai pemilik ZEJ Corp.
Para bodyguard berpakaian serba hitam, dan berbadan besar suruhan tuan Williams mengikuti Zee dari belakang.
"Mau dipesankan apa, Non?" tanya ketua Bodyguard sopan.
"Taksi," jawab Zee singkat.
Ketua bodyguard itu mengangguk, lalu menyuruh salah satu bawahannya untuk segera memesan 3 taksi.
Tak butuh waktu lama, beberapa taksi sudah datang, Zee menaiki taksi yang tengah, sedangkan para bodyguardnya menaiki mobil bagian depan dan belakang.
Mobil melesat kearah sebuah Apartment milik Zee disana. Zee lebih memelih tinggal di apartment miliknya dibanding apart Dadynya itu.
"Yul, gue mau nginep disini, mungkin seminggu, kalau ada yang nyariin gue, lapor aja sama bodyguard gue." (anggap aja ngomong bahasa perancis:v)
"Iya, nyonya. Nanti saya laporkan. Ini kunci kamar nyonya."
Zee mengambilnya, lalu melangkah meninggalkan sang resepsionis bernama Yulia itu.
Kamar Zee terletak di lantai 8, nomor 245. Zee memasuki lift yang memang juga di khususkan untuk atasan.
Ting!
Zee keluar dari lift dan langsung mencari kamar yang ia tuju.
Bruk! Brak!
"ARRRGGH!"
Zee menghentikan langkahnya di depan kamar nomor 244. Tepat samping kamarnya.
Zee mengerutkan keningnya, ketika mendengar suara ribut dari dalam kamar tersebut. Tapi ia berusaha mengabaikan, toh, juga bukan urusannya.
Zee menggesek kartu-kunci kamar- miliknya didekat handle pintu. Sampai berbunyi *tling bertanda pintu sudah terbuka, Zee masuk.
Zee menyalakan lampu kamar yang mati. Lalu berjalan menuju kasur, dan menghempaskan tubuhnya. Mungkin besok ia baru akan ke kantor.
Zee membuka kopernya yang memang sempat ia bawa sebelum ke bandara. Ia mengambil laptopnya dan menyalakan.
Zee adalah hacker yang handal, tak sulit untuknya untuk menghack segala CCTV, apalagi itu kantor milik Dadynya.
Zee menyadap beberapa CCTV yang berada di ruangan Dadynya dan ruangan atasan-atasan lainnya, yah itu hanya feeling Zee, siapa tau kan kalau atasannya itu pada korupsi. Karena begitulah menurut novel-novel yang di baca oleh Kaila.
5 menit Zee memperhatikannya dengan detail. Tapi tak menemukan apapun. Zee berusaha menyadap CCTV yang lainnya, seperti ruangan kerja, kantin, sampai ruangan ob, juga tak ia temukan apapun.
Zee mengerutkan keningnya. Ketika melihat seseorang yang menurut Zee aneh. Berpakaian seprti mahasiswa dengan kamera yang menggantung, tapi begitu memperhatikan sekitar dengan begitu detail. Bukan, bukan itu titik keanehannya. Tapi, lihatlah, orang itu menggunakan jas drngan kepala tertutup. Maksudnya, jika orang itu hanya berkunjung sekadar mewawancarai seperti yang biasa mahasiswa lakukan, pasti sekiranya ada minimal 2 orang. Ini? Hanya seorang diri. Dan tingkahnya sangat aneh.
Zee melihat arah menitnya, itu terjadi pukul 12.10 tepat sekali saat jam makan siang para karyawan. Yang sudah bisa dipastikan kantor sepi, dan hanya tersisa satpam dan para karyawan yang memang sisa sedikit untuk menyelesaikan sedikit pekerjaan lagi.
Eh! Tunggu! Satpam? Ya. Seharusnya satpam itu melarangnya masuk, jika tanpa kartu khusus.
Zee memutar waktu CCTV nya, sebelum kejadian pukul 12.10. Yaitu 10.00.
__ADS_1
Benar! Itu tepat di depan gerbang. Orang itu terlihat berbincang-bincang akrab dengan para satpam. Sampai akhirnya satpam itu terlihat membukakan gerbang untuk orang itu.
Zee semakin mengerutkan kening, bukannya perusahaan Dady ketat banget ya penjagaannya? Kok dengan semudah itu Satpam nya membukakan gerbang kepada orang selain pekerja di kantor.
Zee terus mengawasi. Zee sedikit mempercepat waktunya. Sampai berhenti di menut ke 11.27. Zee mengeluarkan smirknya.
"Akhirnya ketemu!"
****
Ansell tengah berada di markasnya saat ini. Menikmati seluruh tubuh ****** yang ia bayar hanya untuk bersenang-senang. Di salah satu kamar markas, desahan itu menggema. Entah dari desahan ****** ataupun Ansell.
*sumpah gue ngetik ini jijik banget:v
Berjam-jam mereka melakukannya, akhirnya cukup sampai klimaks.
Ansell keluar dari kamar itu setelah berpakaian kembali, diikuti ****** dibelakangnya.
"Nih duitnya. Pergi lo!" usir Ansell. Dengan senang hati ****** itu menerima uang dibalik amplop coklat dari Ansell. Lalu pergi dari markas yang sudah beberapa kali ia datangkan.
"Woyy, Sell!" panggal Rama.
Ansell menoleh, ada Dandi, Sean dan beberapa anggota lainnya, da siapa itu? Haikal? Seriously?
Ansell menghampirmenghampiri mereka berempat, "siapa itu?" tanya Ansell pada Rama, menunjuk orang yang menurutnya Andika dengan dagunya.
"Lo lupa sama gue?" tanya orang itu.
Mata Ansell memicing, "Haikal?" tanyanya ragu.
Ansell meringis tak bersalah, "sorry bro!"
"Gimana malem pertamanya?" tanya Haikal dengan senyum meledeknya.
Ansell mengerutkan kening, "malem pertama apa?"
"Kata Sean, lo lagi anu-anu sama tu ****** tadi."
Ansell melirik sinis pada Sean. "Comel banget mulut lo, Sean. Kek cewek lo!" cibir Ansell. Sedangkan Sean yang ditatap hanya cengir tak bersalah.
"Gimana?" tanya Haikal mengulang pertanyaan tadi.
"Ya gitu. B aja sih, longgar!" Ansell tertawa dengan perkataannya sendiri. Diikuti gelak tawa yang lain.
"****! ****!" Rama tertawa tak henti.
"Emang Ansell doang yang begitu."
"Lo ngapain disini? Tumben pada ngumpul," tanya Ansell. Menghentikan tawa semua orang.
"Ooh, ini, ada undangan dari Cala, katanya dia mau anggota kita dateng ke acara ulangtahunnya yang ke 20. Lo nggak lupa kan?" Kata Dandi.
"Ooh, Cala? Bocah ingusan yang ngebet banget jadi pacar Ansell?" tanya Sean.
"Yoi!"
__ADS_1
"Dimana acaranya?"
"Wooh, ini bukan acara ulang tahun biasa ma-men. Di sebuah tempat yang beuhhh...." Rama menggantungkan kalimatnya.
"Asik?"
"Banyak nyamuk!"
Tawa menggema.
"Gila lo, Ram!"
"Emang dimana sih? Serius nanya!"
"Dirumahnya, yang halaman belakang, tau gak sih? Kan si Cala punya kolam renang. Ya temanya kayak outdoor gitu. Tapi ini masih dilingkup rumah. Gimana? Kita dateng gak nih?" jelas Dandi.
"Kalo minum sih katanya ada," imbuh Rama.
Ansell mengangguk ringan, "dateng aja. Dia udah ngundang kita, gak enak kan kalo gak dateng."
Semua temannya mengangguk.
"Yaudah nanti biar gue bilang Cala."
****
"Heyy!" sapa Zaline dengan senyum menjengkelkannya.
Zaline dan ketiga temannya- Resa dan Salsa. Menyapa Kaila dan teman-temannya yang sedang tertawa ringan bersama.
Mereka menoleh sinis kearah Zaline.
"Mau apa lo?" singit Kaila dingin. Melihat Zaline secara langsubg seperti ini membuatnya sangat ingin mencakar-cakar raut wajah Zaline itu.
"Emm, gue gak liat kembaran gue. Kemana dia?" imbuh Zaline menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok yang ia cari.
"Apa peduli lo?" sinis Zalfa.
Zaline tertawa renyah, "iya-ya, kenapa gue peduli. Hmmm, salam aja ya ke kembaran gue, bilang ke dia, jangan lupa mati sebelum mati! hahaha!" setelah mengucapkan itu, Zaline pergi dengan Resa dan Salsa yang masih setia dibelakangnya.
"Ish! Emang ya tuh anak!" geram Kaila kesal.
"Udahlah, biarin aja gak usah dipikirin," saut Vania santai.
'Mati sebelum mati'
Kalimat terakhir yang diucapkan Zaline membuat Rangga berfikir. Apa maksudnya?
"Bang?"
"Bang Rangga?"
"Eh! Ya?"
"Lo ngapa sih, Ga?" Cleo berkenyit heran.
__ADS_1
Rangga tersenyum kaku, lalu menggeleng, "nggak papa."