Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 33


__ADS_3

Dika baru pulang setelah melaksanakan Olimpiade matematika nya di Bandung, ia berinisiatif memberikan kejutan pada keluarganya, khususnya untuk Zaline. Adik kecil nya itu pernah bilang, kalau ia berhasil memenangkan lomba Olimpiade itu Zaline akan memberikannya hadiah.


Dan Dika berhasil, ia berhasil menjuari Olimpiade tingkat nasional, walaupun masih juara harapan 1.


"Dika pulang!" teriaknya dengan senyum yang tak pudar dari bibirnya.


Dika memasuki mansion kediaman Smith. Pemandangan tak mnyenangkan langsung menyerbuinya.


Di ruang tengah, keluarganya tengah menangis dengan alasan yang Dika tak tau itu apa.


"Mom? Kalian kenapa nangis?" Dika menghampiri Friska, Dito, dan Smith. Dika mengedarkan pandangannya saat tidak menemukan Zaline "Zaline mana? Kalian kenapa, hey?" Dika mulai panik.


Dito yamg tengah menenangkan kedua orangtuanya, kini menarik Dika ke depan.


"Mereka kenapa?" tanya Dika saat mereka sudah berada di depan mansion.


Diti menarik nafasnya dalam-dalam. Ia benci mengatakan ini, tapi harus, "Zeline meninggal."


"Apa?!"


"Dia ketembak..."


"Apa?!"


"Dan yang membunuh Oma sama Opa... Itu Zaline, bukan Zeline."


"Apa?!"


Tubuh Dika melemas. Matanya terasa pening. Perjalanan dari Jogja ke Jakarta sudah membuatnya lelah, dan pulang-pulang ia mendengar kabar buruk ini?


Dika menatap nanar tangan nya.


Lagi, ia masih belum bisa menghilangkan bayang-bayang dimana ia menampar pipi kecil Zee saat itu.


"Ke...kenapa?"


"Zeline ketua DBD," jawab Dito yang semakin membuat Dika down, "Dia meninggal tertembak saat melawan GB'Gangster," ya, Rangga sudah memberi tau semuanya. Satu keluarga lagi yang tau identitas mereka.


Tak menutup kemungkinan jika kabar ini tersebar kepublik.


Dika menatap Dito nanar. Dito bisa merasakan sakit didadanya. Ini karena keterikatan batin, "Anterin gue ke makam Zeline..."


****


Maaf jika aku terlalu buta.


Maaf jika hati ini menjadi bisu.


Maaf jika tubuh ini tak mampu melindungi mu.


Aku sendiri, lagi.


Semua meninggalkan ku.


Hal yang sama terulang lagi.


Haruskah aku ikut pergi?


Tak bolehkah aku bahagia?


Keluarga, hanya itu yang aku inginkan.

__ADS_1


Tak dapatkah aku memilikinya?


Seperti mawar yang tak memiliki duri.


Hanya memiliki keindahan, tapi tak mampu menyerang.


Sama seperti ku.


Terus tersenyum,


Walau hati terluka,


Tapi tak mampu berbuat apa.


Karan menyelesaikan puisi itu dengan khitmat.


Ia menoleh kearah perempuan yang seumuran dengannya, di belakangnya yang tersenyum padanya.


Karan membalas senyuman itu.


"Lo sering nulis puisi dirumah pohon ini?" tanya perempuan itu.


Karan mengangguk.


"Di pasti senang bisa mendapat puisi setiap hari dari lo, kata-katanya juga indah. Gue suka," kata perempuan itu lagi.


Karan hanya bisa tersenyum. Tak banyak yang mengetahui kemampuan Karan menulis puisi. Hanya Zaline, dan perempuan dihapannya ini.


"Maaf..."


"Gak apa-apa," ucap Karan sambil tersenyum.


"Gak usah dipaksa kalau hati kamu gak mau. Aku juga gak terlalu berminat sama kamu," canda Karan sambil terkekeh kecil.


"Wah parah. Orang cantik kayak gini," perempuan itu ikut terkekeh.


"Di hatiku masih ada Zaline," kata Karan sambil menatap matahari yang hampir tenggelam. Senja terlihat indah sore ini.


"Gue tau. Dan gue minta maaf, udah ngambil Zaline dari lo," kata perempuan itu, ia ikut menatap senja orange.


Hati Karan terenyuh, ia menoleh ke sampingnya. Menatap perempuan itu yang tengah menatap senja, rambut nya yang diurai membuat angin menerpa rambutnya, "Kamu cantik."


"Gue tau," jawabnya tanpa menatap Karan kembali.


"Tapi, hati aku masih ada Zaline."


"Gue tau."


"Kamu-"


"Bisa gak sih, pake bahasa lo-gue aja. Risih dengernya," bentaknya.


Karan tersemyum kaku, ia tidak biasa memakai lo-gue. Tapi jika ia sendiri, ia biasa memakai lo-gue sambil berbicara sendiri.


Entahlah, itu terdengar aneh.


"Sampai kapan lo bersembunyi?" tanya Karan. Lidahnya terasa kelu saat berbicara kata 'lo'.


Perempuan itu tersenyum menatap Karan, lalu kembali menatap kedepan, "Sampai semua nya selesai."


"Ini sudah selesai."

__ADS_1


"Belum semua..."


****


Dika dan Dito sampai di makam Zee.


Airmata meluncur lancang dari pelupuk mata Dika.


...Zeline Zakeisha Jovanka...


...Binti...


...Smith Endlles...


Dika mentuhkan dirinya didepan makam Zee.


Lututnya menjadi penompang tubuhnya agar tak terjatuh.


Dika sangat merasa bersalaj.


Bahkan suara tamparan itu masih terus mengiang hingga sekarang.


Dika menatap nanar nissan Zee.


Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah Zee pergi mereka baru sadar?


Zee lihatlah, mereka sudah kembali.


Mereka masih dengan orang yang sama dengan rasa yang sama.


Menyayangi mu.


Dika tak ingin menangis.


Ia hanya ingin meminta maaf pada Zee. Tapi kenapa airmata ini turun?


Lancang sekali!


"Maaf, Dek..."


"Maaf.."


Dito pergi dari sana. Melihatnya sama saja menyiksa batinnya..


Keluarga seperti apa yang menyiksa salah satu anggota keluarganya hingga menyakiti batinnya.


Seharusnya sekarang, Zee bahagia bersama mereka.


Bukan ada di tumpukkan tanah yang entah apa didalamnya.


Harusnya mereka masih nisa mendengar suara tawa Zee.


Bukan suara tangis yang menangisi kepergiannya.


Harusnya mereka masih bisa melihat Zee yang tersenyum.


Bukan raut wajah sedih yang menyedihkan kepergiannya.


Harusnya....


Ya, seharusnya...

__ADS_1


__ADS_2