
"Tolong minta perhatiannya sebentar!" teriak Ansell yang mulai menarik perhatian.
Seseorang dengan pakaian dress selutut berwarna biru laut datang dari arah belakang mereka. Ansell menatapnya dengan senyum kecil.
Zee mengerutkan keningnya, ia masih tak mengerti apa maksud Ansell membawanya kesini.
Ansell menghampiri Cala yang sekarang menjadi pusat perhatian.
Cala yang juga tak mengerti apa-apa, hanya mampu mengerutkan kening. Ia hanya disuruh Ansell datang kemarkas keduanya dengan dress yang diberikan Ansell. Debaran jantungnya berdetak begitu cepat. Teman-teman Ansell menatap Ansell dengan senyum lebarnya.
Mereka tau maksud Ansell. Ia ingin menyatakan cintanya. Yang selama ini terpendam...
Ansell mengulurkan tangannya saat sudah sampai didepan Cala.
Cala senang bukan main, ia meraih tangan Ansell dan berjalan mendekati Ansell lebih dekat.
"Hari ini. Gue mau nembak orang! Mungkin, ini adalah hal teralay yang pernah gue lakuin. Tapi, demi dia, gue akan lakukan apapun."
Jantung Zee berdetak cepat. Apa? Apa Ansell akan menembaknya? Atau Cala?
Ansell menatap Cala dengan tatapan lembut. Lalu merendahkan tubuhnya, dengan lutut yang ditempelkan ketanah sebagai tumpuan.
"Izinin gue buat masuk ke hati lo..."
Situasi seketika ramai. Itu tadi Ansell nembak Cala?
Mereka bertepuk tangan sambil berteriak serempak.
"Terima!"
"Terima!"
"Terima!"
Tanpa sadar air mata Zee terjatuh begitu saja. Lalu apa maksud Ansell menyuruhnya datang kesini? Hanya untuk menyaksikan hal tebodoh ini?
Lucu!
Ini benar-benar lucu!
Bahkan saat ini Zee ingin tertawa sekeras mungkin untuk menertawakan nasibnya.
Zee menyeka air matanya kasar. Lalu pergi dari tempat menyeramkan itu.
"Yeah..."
****
Zee datang ke kantor Smith yang sedang mengadakan meeting rapat penting pemegang saham.
Tapi Zee tak menghiraukan itu. Ia menatap Smith dengan mata yang membengkak.
"Zeline? Kamu kenapa, sayang?" tanya Smith cemas saat mendapati putrinya datang ke kantornya dengan keadaan mengenaskan.
Rambut acak-acakan. Baju kusut, dan mata bengkak.
Smith menatap para tamu nya, "Meeting ditunda sampai minggu depan. Mohon maaf atas kendala ini, terimakasih."
Setelahnya, ia keluar dengan merangkul Zee, dan membawa Zee ke ruangan pribadinya.
"Kamu kenapa?" tanya Smith saat mereka sampai diruangan pribadi milik Smith.
"Zeline terima perjodohan itu!"
Flashback on.
"Zeline sayang, sini deh," Friska melambai-lambaikan tangannya kearah Zee. Memberi kode agar Zee menghampirinya yang tengah terduduk bersama Smith dan abang-abangnya.
Zee menghampiri mereka, dan duduk dipangkuan Dito.
"Kenapa, Mom?"
Mereka memberi kode mata, membuat Zee semakin bingung.
"Engh, gini... Dedek udah punya pacar belum? Apa suka sama seseorang gitu..." tanya Dika sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia juga binging mau memulainya bagaimana.
__ADS_1
Dahi Zee mengernyit. Tidak, ia tak mempunyai pacar, dari lahir Zee masih jomblo! Belum taken!
Tapi, untuk menyukai seseorang, sepertinya hati Zee sudah terboking untuk satu orang.
Ya, Ansell.
Nampaknya Zee sudah jatuh hati dengan pria itu setelah kejadian dimana mereka selalu bersama.
"Belum," Ucap Zee. Belum, maksudnya belum punya pacar, sambung Zee dalam hati.
"Emmm...jadi gini, ck, Dad aja deh yang ngomong," seru Dika lagi.
Smith menghembuskan nafasnya kasar.
"Dad ingin menjodohkan kamu dengan salah satu rekan bisnis Dad. Kalau Zeline gak mau, dad gak maksa. Tapi Dad hanya meminta satu permintaan itu saja. Ini demi kebahagiaan kamu..."
Zeline terdiam seketika.
Dijodohkan?
Lalu bagaimana dengan hatinya?
Dengan cinta pertama nya?
Ansell?
Apa dia bahagia jika tidak bersamanya?
Tapi, jika dipikir-pikir lagi, Zeline belum memberikan apapun untuk Keluarga kandungnya.
Ia ingin membuat keluarganya bahagia. Walaupun hidupnya yang dipertaruhkan.
"Zeline pikir-pikir lagi."
Flashback off.
Mata Smith membelalak kaget sekaligus senang.
"Bener?"
Smith menarik pelukan putrinya kedalam dekapannya sambil tersenyum senang.
Lain halnya dengan Zee. Ia justru menangis tertahan. Menumpahkan segala isi hatinya yang sedari tadi ingin menangis, dan orang yang tepat adalah seorang ayah.
"Kita urus minggu depan..."
****
"Lo gila! Lo gila! Anjing!" teriak Kaila dihadapan Ansell. Ia bertepuk tangan keras.
Hebat!
Hebat sekali!
Ansell menatap Kaila malas. Ia tau apa yang membawa kelima sahabat Zee ini menghampirinya.
"Gue hanya berharap lo gak bener-bener kehilangan dia sekarang!" cerca Kaila lagi dengan gelengan tak percaya.
"Anjing! Hebat, gue bahkan gak percaya sama aktor depan gue ini," cibir Rangga.
Ternyata kedua pasangan ini benar-benar serasi. Sama bermulut pedas! Melebih bon cabe level 30!
"Bacot!" Saut Ansell singkat lalu berbalik meninggalkan mereka.
Apa yang Ansell lakukan sudah benar!
****
Di kediaman Williams, tengah berpesta ria atas hari Zee yang seminggu lagi akan menikah.
Perjodohan ini ternyata sudah dirancanakan oleh kedua keluarganya.
Setidaknya, Zee merasa tidak menyesal karena telah membahagiakan keempat orang tuanya.
Mata Zee menatap Cala yang juga tengah merayakan hari besarnya. Ia nampak tertawa dengan Satria.
__ADS_1
Mata Zee kembali memanas. Entahlah, Ia nampak tak suka Cala berada disini. Jujur hatinya panas mengingat kejadian semalam.
Zee bangkit dari dudkunya dan memasuki lift. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah teman curhat.
Ting!
Zee berlari keluar lift dan memasuki kamarnya. Tangannya meraih handphone yang tergeletak diatas nakas.
Satu nama yang terlintas difikirannya untuk teman curhat adalah Arsyaf.
Setelah mencari kontak Arsyaf, Zee segera menekan ikon telepon.
Terdengar deringan dua kali baru diangkat.
"Halo."
"Halo, Arsyaf...hiks," baru medengar suara 'halo' dari Arsyaf saja mampu membuat Zee menangis.
"Z...Zeline?"
"Hiks, gue lagi patah hati. Diem dulu!"
"I...ini siapa?" tanya seberang sana.
"Jahat banget! Masa gak tau temen lo sendiri! Dasar. Kita musuhan!" maki Zee.
Tut!
Zee mematikan panggilan sepihak dengan raut kesal. Ia menyembunyikan wajahnya kedalam bantal, lalu teriak sekeras-kerasnya.
Zee memukul-mukul bantal yang ia jadikan sandarannya.
Pengen nonjok orang Zee tuh!
Tapi bingung mau nonjok siapa?!!
Nonjok mantan boleh?
Tapi Zee gak punya mantan!
"ARRGGGHH!" Teriak Zee, suaranya terpendam oleh bantal. Otomatis tak membuat semua oramg mengetahui teriakkannya.
Drrtt...drrttt..drtt..
Ponsel Zee berdering, Zee melihat panggilang itu.
Pak guru Arsyaf calling...
Zee mengambilnya dan mengangkatnya, tapi tak berniat bersuara.
Zee masih sebel sama Arsyaf!
"Halo? Zeline? Ini elo kan? Zeline jawab gue!"
"Gue bukan Zeline! Gue hantu, puas?!" teriak Zee pad ponselnya.
"Zeline? Astagaa, lo masih hidup? Ini beneran lo? Gue ke Indo sekarang!"
Terlihat panggilan berakhir. Zee membuang iPhone nya kesembarang tempat.
Seminggu lagi, seminggu lagi ia akan menjadi istri orang. Yang bahkan Zee sendiri tak tau wajah calon suaminya.
Jangankan wajah, namanya saja ia tak tau.
Jangan-Jangan nanti calon suaminya dipenuhi jenggot, terus kumisan, terus dia jarang mandi.
"Aaahhhh!!"
Zee butuh refresh... Salah satu pikirannya adalah club Vania.
Yah, ia butuh segelas wine untuk menenangkan dirinya.
Zee mengambil iPhone nya yang tergeletak tak berdaya di lantai akibat ia lempar dan menghubungi teman-temannya. Saat ini, Zee butuh tempat curhat.
"Ke club lo sekarang. Ajak yang lain 5 menit udah disana sebelum gue dateng!"
__ADS_1