Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 18


__ADS_3

"Siapa kau?"


"Aku dikirim kesini oleh teman mu, kami punya kejutan untuk mu," Jawab Zee singkat tanpa menoleh kearah Heri. Ia justru membelakangi Heri dengan kedua tangan dimasukan ke saku celananya.


"Tunjukkan!"


Zee melangkah satu langkah lebih jauh, "follow me."


Heri mengikuti langkah Zee sedikit ragu. Pasalnya, cewek itu memakai seperti jubah hitam panjang, yang mulutnya ditutupi oleh masker bergambar tengkorak.


Zee tersenyum miring dari balik masker, menurutnya, Heri lebih mudah ditipu. Membuat pekerjaannya lebih mudah dari perkiraannya. Mungkin karena Heri sedang mabuk.


Zee membawa Heri ke apartnya. Tapi bukan dikamar, di lorong bawah tanah. Disana selain ada tempat parkir bawah tanah, tapi ada juga pintu dengan ruangan kecil di dalamnya, tempat Zee biasa membunuh, dan hanya Zee dan para bodyguard pilihannya yang tau.


"Masuklah," seru Zee.


Heri menuruti, Heri masuk kedalam dan langsung disambut dengan sebuah kasur besar. Hanya kasur saja yang ada diruangan itu.


Zee tersenyum miring, "beristirahatlah dahulu disana. Nanti akan ku kabarkan kejutan untuk mu."


Heri menurut saja, ia membaringkan tubuhnya diatas kasur dan terlelap. Menunggu kejutan Zee yang tak akan ia sangka sebelumnya.


"Selamat tidur, teman."


Blam!


Zee menutup pintunya lalu menguncinya. Membiarkan Heri beristirahat untuk terakhir kalinya sebelum memberinya kejutan.


****


"Huh! Zee gak ngabarin sama sekali lagi! Tau begitu, gue ikut aja!" keluh Vania. Mereka berlima kini berada di kantin, karena jam istirahat.


"Tau nih! Gue kira cuma sehari doang, tapi ini udah 2 hari. Biasanya 1 jam pisah gek, langsung ngabarin!" timpal Kaila.


"Mungkin dia sibuk disana. Ngurusin perusahaan yang hamoir bangkrut itu susah tau. Apalagi ini perusahaan Dady nya. Zee pasti gak mau ngecewain lah," Rangga memberi pengertian.


"Tapi kan-"


"Kalo gak lo berdua aja yang ngabarin," saran Zalfa.


"Ganggu gak?" tanya Cleo ragu.


"Yah, coba aja. Zee juga gak bakal keganggu kalo sama kita," Balas Zalfa santai. Semua temannya mengangguk paham.


"Yaudah gue telepon aja dulu," Ucap Kaila semangat, ia mengeluarkan iPhone dari saku baju nya, dan mencari kontak Zee, lalu mulai menelpon.


"Maaf, pulsa kamu tidak mencukupi untuk melakukan panggilan. Silahkan isi pulsa terlebih dahulu."


"Pffftt. Lo gak punya pulsa, Kai. Yaelah malu-maluin amat," Ejek Vania sambil tertawa geli.


"Yaelah, Kai. Jaman sekarang belum punya pulsa, hello.." Zalfa ikut tertawa.


Kaila meringis malu, "gue lupa ngisi pulsa. Pake hape lo aja deh, Van."


Vania mencoba menghentikan tawanya, sambil memegang perutnya yang sakit akibat tertawa berlebihan, "Haduh, iya-iya. Haha."


Vania mengeluarkan iPhone gold nya. Lalu mulai menelpon Zee.


"Gak aktif," Ucap Vania sambil mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah, mungkin Zee sibuk, biarin aja."


"Hm."


"Yaelah, udah apa gak usah kayak gitu juga. Apa perlu kita nyusulin Zee ke Perancis?" ucap Cleo asal.


Vania dan Kaila saling pandangan dengan senyum lebarnya, "ide bagus, Bang!"


Cleo tersedak minumannya. Tak ia sangka ucapannya dianggap serius oleh dua bocah ini.


"Lo serius mau nyamperin Zee?" tanya Rangga tak percaya.


Kaila dan Vania mengangguk serempak.


"Gila! Klian gila!" Zalfa tak havis pikir.


Kaila mengerutkan kenibg, "emang kenapa?"


"Heh, curut. Zee baru pergi 2hari. Dan lo berdua udah kayak ditinggal Zee selama satu tahun," geram Cleo kesal.


"Ihh, emang kenapa? Kan selama nunggu Zee kita bisa main-main dulu disana. Balapan kek, ke club punya gue kan juga ada disana, jadi enak. Apa ngapain kek," kata Vania.


Mereka bertiga mulai terdiam, tak ada salahnya untuk kesana, itung-itung bisa bermain-main.


"Yahh, kak, bang?"


Rangga menghela mafas nya pasrah, "yaudah, gue ikut."


"Yess!"


"Lo ikut, Zal?" tanya Cleo pada Zalfa.


"Ikut gak ya?"


"Gue ikut deh!"


"Gue juga!"


"Nah. Gitu kek. Oke besok kita jalan!" Pekik Kaila senang.


****


Malam itu tiba. Zee mulai melancarkan aksinya. Ia sudah mengikat Heri di kasurnya dengan sangat erat, sedikit kemungkinan Heri untuk kabur, bahkan mustahil.


"Elo," Zee menujuk salah satu bodyguard kepercayaannya, "Ambil pisau kecil di tas gue, ada di kamar apart gue. Gak pake lama."


Bodyguard itu mengangguk patuh, lalu segera berlari mengambil apa yang Zee inginkan.

__ADS_1


Zee melangkah mendekati Heri. Mengamati setiap inci lekuk wajah Heri. Biasa-biasa saja, tidak tampan dan tidak jelek. 1-10, hanya 3 penilaian tampan Heri dari Zee.


Plak!


Zee menampar pipi Heri untuk membangunkan Heri, alhasil Heri bangun dari tidurnya.


"Pulas sekali anda tidur," ejek Zee.


Heri yang baru terbangun kembali terkejut,ketika mendapati tangan, kaki dan lehernya terikat dikasur yang ia tiduri. Mukutnya juga dibungkam oleh sehelai kain.


"Hai!" sapa Zee dengan senyum lebarnya. Hal yang selalu ia lakukan ketika bertemu dengan mangsanya.


"Mmmphh! Mmmpph!" Heri memberontak, mencoba melepaskan ikatan yang begitu kuat, sampai sampai tangan nya membekas merah karena lecet.


"Sssttt. Semakin kuat kau mencoba melepaskan, maka semakin erat kau terikat."


Heri tak memperdulikan perkataan Zee, yang ia pikirkan sekarang adalah, ia harus bebas.


Tapi benar kata Zee, Semakin kuat ia mencoba melepaskan, maka semakin erat ikatannya. Jadi Heri mencoba untuk berhenti melakukan pergerakan.


Zee tersenyum melihat Heri terdiam.


Zee melepaskan kain dari mukut Heri.


"Siapa dirimu. Mau apa kau?" tanya Heri membentak.


"Aku Zeline Zakeisha Williams. Anak dari perusahaan yang kau ambil uangnya "


Heri sedikit terkejut mendengar perkataan Zee.


Tok...tok...tok


"Permisi, nyonya. Ini, pisau pesanan mu," bodyguard itu menyerahkan pisau kecil itu. Zee dengan senang hati menerimanya.


"Keluarlah," suruh Zee pada bodyguardnya.


Setelah bodyguard itu keluar, Zee menatap Heri dengan intens.


"Dimana kau sembunyikan uang perusahaan?" tanya Zee lembut. Tapi justru semakin terasa mengerikan.


"Ti...tidak ada!"


"Benarkah?"


"Apa mau mu?!"


"Kembalikan uang perusahaan!" Zee menatap tajam mata Heri.


"Tidak akan!"


Memuakkan! Zee mengeluarkan pisau kecilnya, dan mendekati Heri. Ditempelkannya pisau itu pada dagu Heri, membuat Heri sedikit mendongak.


"Aku tidak suka dibantah! Kembalikan uang perusahaan, maka kau akan selamat!"


Heri semakin takut dengan ancaman Zee. Ia mengangguk takut, "b..baik. Ta..tapi singkirkan pisau mu dulu."


"Lepaskan aku dulu," tipuan Heri ternyata disadari oleh Zee. Pasti Heri hanya ingin mengkelabuinya. Lalu berusaha ubtuk kabur.


Zee menyeringai kecil, "tunjukkan saja dimana uang itu. Tidak perlu dilepaskan."


"Setelah aku beritahu, kau janji akan melepaskan ku?" tanya Heri polos. Yang ia fikirkan saat ini hanyalah nyawanya.


Zee mengangguk saja.


"Janji?"


"Ya!"


"U..uang itu, ada di..."


"Dimana?!"


"Di..." Heri nampak enggan memberitahunya.


"Cepat katakan! Aku tak punya banyak waktu untuk meladeni mu saja!"


"Di markas saat pertama kali kau temukanku!" jawab Heri cepat, "sekarang, bebaskan aku!"


Zee merasa gelagat kecurigaan, "kau tidak berbohong?"


"Untuk apa aku berbohong!"


Zee mengangkat alisnya saat Heri melepaskan kontak matanya. Seperti gelagat gugup.


"Jawab yang benar!" bentak Zee kasar!


"Aku mengatakan yang sesungguhnya," ucap Heri bergemetar.


Zee benar-benar marah kali ini. Ia tidak suka ditipu. Zee kembali mengeluarkan pisau nya dan menggoreskan ke area pipi Heri, membuat darah segar mengalir begitu deras di pipinya.


"Katakan saja," Ucap Zee lembut.


Heri meringis kesakitan, ia menangis kesakitan. Melihat itu, Zee tertawa meremehkan.


Cuih!


Zee meludah di muka Heri.


"Kau...!!" geram Heri.


"Apa?!" bentak Zee, "katakan yang benar!"


Heri menghembuskan nafas pasrah, "setengahnya sudah ku pakai untuk bersenang-senang..."


Plak!


"Keterlaluan! Seenaknya kau memakai uang itu! Kau fikir dirimu siapa!"

__ADS_1


"Biarkan aku meneruskan ucapan ku!"


"Baiklah."


"Aku tidak tau jika ujungnya akan ketauan, jadi sisanya ku taruh di bank untuk biaya kuliah ku!"


"Mana kartu ATM mu?"


"Sial! Lepaskan aku dulu! ATM nya ada di dompet celana ku!"


Tanpa fikir panjang Zee membuka asala celana Heri. Membuat Heri melotot kaget.


"Kau gila!"


"Tenang saja. Aku juga tidak akan nafsu dengan mu!"


Zee berhasil melepaskan seluruh celana Heri. Kini Heri hanya memakai baju hitam berlengan pendek dan celana dalam saja. Membuat pahanya terekspos bebas.


Zee mengorek saku celana Heri, mencari dompet. Sampai akhirnya bertemu, dan ia tersenyum miring.


"Sudah ketemu kan? Sekarang, lepaskan aku!"


Zee menoleh kearah Heri. Ia membuang kesembarang tempat celana milik Heri.


"Kenapa aku harus melepaskan mu?"


"Kau sudah berjanji!"


"Sejak kapan aku berjanji?" Zee menyeringai.


"Shit. Kau menipu ku!"


"Makanya jadi orang jangan asal nganbil duit orang jadi kena batunya kan lo!" Zee berucap memakai bahasa Indonesia. Ia sengaja agar Heri tidak tau artinya.


"Apa kau bilang?"


"Tidak,  aku hanya bilang bahwa aku akan membunuh mu."


Heri tertawa meremehkan, bagaimana bisa seorang gadis membunuhnya. Impossibel!


"Apa kau bergurau? Lebih baik kau lepaskan aku, dan kita impas. Aku sudah membalikkan uang mu kan?"


"Enak saja. Kau sudah menggunakannya sebagian, dan sebagian itu harus lah dibayar!"


"Aku tidak punya uang!"


"Aku tidak meminta dalam bentuk uang!"


"Lalu?"


Zee menyeringai, "kesenangan membunuh."


"Woman!" cibir Heri.


Zee mengangkat alisnya, "kau tidak tau aku siapa? Ah, sepertinya aku tidak terkenal ya," ucap Zee dengan nada bersedih, "baiklah, mari kita perkenalan. Aku, Zeline Zakeisha Jovanka Williams. Anak dari keliarga Williams, pemilik perusahaan terbesar di dunia. Dan pemilik ZEJ Corp! I'm a Leader of Gangster, you know? DBD!" Zee tersenyum bangga saat mengucapkan kata 'DBD'.


Entah hanya Heri yang merasa, atau kalian juga? Atmosfir di sekelilingnya terasa semakin dingin, seolah-olah ada angin masuk padahal ruangan ini sangatlah tertutup.


"Oke-oke. Kita mulai dari mana?"


Zee mengeluarkan pisau kecilnya, dan melangkah mendekati Heri. Heri semakin ketakutan.


Zee menarik paksa lidah milik Heri, "Lidah ini, sudah berkali-kali berbohong padaku! Dia harus menerima hukuman!"


Srettt!


"Allggghh!"


Darah mengalir segar dari lidah yang terpotong. Zee memperhatikan lidah milik Heri, "Sudah berapa botol alkohol yang kau minum? Menjijikan!"


Heri menggeleng takut, bahkan ia sudah mengompol dari dalam celana dalamnya. Melihat itu, Zee tertawa keras.


"Kau mengompol? Iuh, kau ini sebenarnya lelaki atau perempuan? Penakut!"


Heri tak memperdulikan omongan Zee, ia berteriak keras meminta pertolongan, "Owong! Owong!" (tolong! Tolong!) awokawoka:v


"Berteriak sekeras apapun, tak ada yang bisa menyelematkan mu!"


Zee kembali menjalankan aksinya, ia mulai menyayat asal kaki, tangan, punggung, dan wajah Heri.


"Alllgghhh!"


Zee beralih ke mata hazel milik Heri. Salah satu hal yang sangat digemari para Psikopat dengan mangsanya adalah mencongkel bagian mata.


Zee dengan sangat mudah mencongkel mata sebelah kanan Heri. Sampai urat-urat dari dalam mata itu menjulur keluar. Dengan sangat hati-hati, Zee memutuskan urat itu dari bola matanya.


"Hop i!" (stop it!) ringis Heri. Ia sudah tak mampu berbicara lancar ketika lidahnya dipotong oleh Zee.


Mungkin, tuhan telah mentakdirkannya mati ditangan iblis berwujud gadis ini.


"Apa kau bilang?"


Heri tak menyahut. Ia mencoba meredam rasa sakit yang mnjalar ke seluruh tubuhnya.


Kini, bagian puncaknya. Zee merobek baju Heri paksa, dan mulai membelah dada bidang Heri dengan pisau lipatnya.


Jleb!


Zee melotot kaget, ketika ia tak sengaja menceloskan pisau ke jantung Heri. Membuat darah muncrat ke wajahnya. Zee melihat kearah Heri yang teriak kesakitan, lalu mati.


Zee mendesis kekesal, "pake kena jantungnya lagi! Baru juga gue mau bikin dia ngerasain sakit lagi!"


Zee menatap kesal kearah jasad Heri, "Lemah!"


Zee memanggil para bodyguardnya, "ambilkan korek api dan bensin, lalu bakar mayat ini! Ingat! Jangan sampai ada yang tau! Hilangkan bukti, dan jejak!"


"B..baik, Nyonya."

__ADS_1


Zee melangkah keluar ruangan, biarkan para bodyguardnya yang mengurus itu, para karyawan juga sudah tau mengenai pembunuhan di lorong bawah tanah. Mereka juga tampak biasa saja. Karena, karyawan di apart ini, direkrut oleh Zee dari mantan narapidana terkenal di Perancis. Tapi ttenang, mereka sudah tobat kok. Jadi jangan ragu untuk menginap disini. Hehe.


__ADS_2