Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 13


__ADS_3

Ansell berjalan santai menuju markasnya. Ia hanya ingin merilexan fikiran.


Selama ini, Ansell terkenal dengan kewibawaan dan ketegasannya. Tapi ia tak nampak begitu kejam di hadapan teman-temannya. Justru Ansell yang selalu menghibur teman-temannya dengan leluconnya. Berbeda bila sedang dihadapan musuh, Ansell justru terlihat lebih sangar dan kejam. Ia tak segan-segan untuk segera menebas kepala musuh jika ada salah satu diantara temannya terluka.


"Woy, Sel!" panggilan dari Sean membuat Ansell yang tadinya ingin ke ruangan khusus ketua berhenti.


Ansell menoleh ke arah Sean dan menuju kearahnya.


Mereka bertos ala pria yang selalu mereka lakukan ketika berjumpa, "kenapa?"


"Ada pesan dari cewek lo, ketua DBD."


Ansell mengerutkan keningnya, "Zee maksud lo?"


Sean mengangguk, "tadi dia kesini, dan nyuruh lo untuk ketemuan sama dia di sekolahnya besok."


Ansell mengangguk-angguk mengerti, "sip sip."


"Wiihhh, bos ketu, tumben dateng kemari. Ada ape?" cerocos Rama dengan logat betawinya yang kental. Cowok bertubuh besar itu dikenal dengan badannya yang besar. Di DBM, Rama menjadi salah satu anggota utama juga. Rama selalu menjadi perlindungan teman-temannya ketika ada musuh yang menyerang.


"Yoi. Main aja, udah jarang juga kan gue kesini? Makin gendut aja perut lo, Ram."


Dandi menyahut, "porsi makannya banyak banget dia. Ampe ngabisin makanan buat anggota disini. Kulkas di dapur aja abis sama dia, noh."


Di markas DBM memang lengkap persediaan. Mulai dari, ruang senjata, kamar tidur, tempat latihan, gym, ruang bawah tanah, dapur, kamar mandi, lengkap dengan ruangan penyimpanan organ tubuh manusia hasil mutilasi mereka untuk dijual.


Di dapur, juga ada beberapa perempuan yang dulu adalah tahanan anggota DBM, kira-kira ada 10 perempuan. Dan masih menetap sampai sekarang, yang dijadikan mereka semua layaknya babu. Bahkan ada juga yang memakai tubuh mereka hanya untuk bersenang-senang. Dan anehnya para perempuan itu tidak menolak. Mereka justru senang, bisa tinggal disini.


Ansell yang mendengar perkataan Dandi tertawa, ia menepuk bahu Rama, "kurangin makan lo, jangan sampe badan lo segede tetangga gue yang namanya iyem."


"Emang badannya gedr banget?" tanya Sean.


"Beuhh, bukan gede lagi! Montok!"


Mereka yang mendengarnya tertawa geli.


"Gila lo, Sel!"


"Hahaha! Udah ah, gue mau istirahat dulu," pamit Ansell kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih tertawa.

__ADS_1


"Kalo orang montok, enak gak ya kalo dipake?" tanya Rama.


"Buseetttt, lo mau make badan tetangganya Ansell?" Sean bergidik ngeri.


"Badan lo dulu urusin, baru ngurusin badan orang!"


****


"Arrggghh!"


Entah sudah berapa kali Zee menjerit frustasi seperti ini. Membuat Kaila dan Vania hanya bisa menonton Zee saja.


"Gimana ini? Masa gue harus nerusin kerja sama nya? Gak sempet waktunya dong!" omel Zee pada diri sendiri.


"Emang lo mau kemana sih?" tanya Vania bingung. Sesari tadi Zee selalu nyerocos tentang kerja sama dan waktu.


Zee mendelik sambil berdecak, "gue disuruh Dady buat ngurus perusahaannya yang di Perancis, sedangkan gue harus ngerencanain buat masalah GB'Gangster! Dan belum lagi tantang keluarga kandung gue! Mana sempet gue ngelakuin itu dalam waktu satu bulan!"


Kaila mendengus kesal, "yaudah, lo fokus aja perusahaan Dady lo yang di Perancis, dan masalah GB'Gangster? Biar kita semua yang urus, kalo urusan keluarga kandung lo? Itu bisa kapan pun lo balas dendam. Clear! Gue udah bilang, jangan nanggung beban sendiri. Kuta ngerasa jadi sahabat nggak guna tau nggak!" ucap Kaila kesal.


Vania mengangguk membenarkan, "jangan pernah berfikir kalo lo itu sendirian di bumi ini, kita bisa bantu lo selagi kita bisa. Demi lo, kita bisa ngurusin ini, apalagi GB'Gangster, yaelah, kecil!"


Zee merenungan perkataan Kaila, kalau difikir-fikir, Zee juga tidak mendapat keuntungan dari kerja sama ini, justru malah merugikan dirinya.


"Iya, mending lo batalin aja deh, gak guna."


Zee mengangguk pelan, "entar gue ngomong sama dia."


"Nah gitu!"


Zee tersenyum kecil.


****


Davin dan Gavin kini berada dimansion keluarga Hans–mansion Prim dan Satrio–. Tidak ada maksud apapun, hanya sekadar bermain saja.


"Oy, main ludo ayo," ajak Davin dengan senyum sumringahnya. Ia baru saja dari dapur untuk mengambil makanan ringan milik Prim. Membuat Prim mendengus kesal. Sudah dipastikan jajajnannya sudah habis ludes oleh Davin.


"Enggak ah, gak asik. Mending main berbie!" celetuk Prim asal.

__ADS_1


"Yeu, ****! Princess aja udah gak main gituan lagi, lo aja sono!"


"Terus main apaan dong?" tanya Davin, tangannya mulai menyobek satu persatu bungkus ciki-cikiannya.


"Searching aja. Cari permainan yang dimainkan oleh milliarder terkaya?" ucap Gavin dengan senyum bangganya.


Prim mengangguk semangat, "nah kayak gini gue suka. Cari permainan yang selevel sama kita!"


Prim mulai mengeluarkan iPhone nya dan membuka google voice.


'Oke gugel permainan yang paling ketjeh'


Gavin menjitak kepala belakang milik Prim dengan kasar, "bukan mainan ketjeh, Oon. Tapi permainan yang dimainkan oleh milliarder terkaya!"


Prim meringis, terdengar sangat alay dikupingnya, tapi tetap ia lakukan.


"Oke gugel permainan yang dimainkan oleh milliyader terkaya"


Tring!


Terpampanglah segala macam permainan yang membuat kepala mereka bertiga pecah. Tak mengerti satu pun apa yang  Google itu pancarkan.


"Alah mainan apa ini?" kesal Davin.


Tiba-tiba selintas ide jail muncul dari otak Prim, "gue tau, permainan apa yang paling seru!"


"Apa tuh?"


"Tunggu!"


Prim menekan ikon Google play store. Dan mendownload permainan yang ia rencanakan. Tak butuh waktu lama, game itu seudah terdownload di iPhone miliknya.


"Nah nih, gue jamin seru!"


Gavin dan Davin mendekat kearah Prim, dan meilhat apa yang sudah di download oleh nya.


Seketika raut wajah milik Gavin dan Davin berubah menjadi tatapan tajam. Mereka berdua serempak menatap Prin tajam. Prim tertawa terpingkal-pingkal.


"Selendrina, *******!"

__ADS_1


__ADS_2