Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 38


__ADS_3

"Bukan gue, tapi elo..."


"Maksud lo?" tanya Zee balik.


Zaline mengalihkan pandangannya ke depan, menatap hamparan air yang mulai tersisir ombak.


"Kita..."


"Kita?" ulang Zee masih tak mengerti.


"Kita yang membunuh mereka," ucap Zaline sambil menatap Zee.


Zee semakin bingung. Apa ini?


"Gue?"


"Kita!"


"Maksud lo apasih? Lo mau jebak gue lagi?!" bentak Zee, nadanya naik satu oktaf.


Zaline hanya tersenyum kecil, sifat Zee ini sama seperti dirinya.


Zaline menutup matanya dan berujar dalam hati, 'keterikatan batin'


Tepat saat itu juga, telinga Zee berdengung. Menggema. Membuat telinganya sakit.


"ARRGGGHH!!" Zee menutup telingnya dan menjerit kesakitan akibat bising. Beberapa pasang mata menatap nya aneh.


'Keterikatan batin.'


'Keterikatan batin.'


'Keterikatan batin.'


"ARRGGHH STOP!"


Zaline kembali membuka matanya, dan Zee berhenti mengerang.


"Apa itu tadi?" tanya Zee setelah dapat menetralisir telinganya yang berdengung.


"Keterikatan batin. Lo adalah gue, dan gue adalah elo. Kita satu. Gue ada dalam diri lo, dan lo ada dalam diri gue. Disaat gue ada disaat terakhir Oma dan Opa. Lo datang, dan mengubah diri gue...."


"Menjadi diri gue sendiri, Zeline?" tanya Zee, Zaline mengangguki.

__ADS_1


"Jadi gue yang bunuh Oma dan Opa melalui raga lo?" tanya Zee lagi. Zaline hanya mengangguk.


"Bagaimana lo bisa tau?"


"Disaat gue merasakan sakit hati, sakit hati di saat lo terusir dari mansion."


"Lo gak bohong?" tanya Zee ragu.


"Apa muka gue keliatan berbohong?" tanya Zaline balik.


Tidak, yang di ucapkan Zaline adalah suatu kebenaran. Itu yang diyakini Zee. Mungkin.


"Jadi, gue mohon. Biar gue yang menggantikan diri lo di perang itu, " ucap Zaline seraya menggenggam telapak tangan Zee.


Zee menatap dalam mata Zaline. Tak ada tanda-tanda kebohongan di dalamnya. Hanya ada ketulusan disana.


"Please..."


"Walaupun gue mati disana. Tapi jiwa gue masih hidup," Zaline meletakkan telunjukknya ke dada Zee, "Dalam diri lo."


Zee tercenun. Apa mungikin iya yang dikatakan Zaline memang benar? Atau hanya tipuan semata.


Zee memejamkan matanya, ia menarik nafasnya dalam-dalam, ssambil berkata, "Baiklah."


Friska menitihkan matanya kembali. Ia sudah salah paham kepada kedua putrinya.


Bodoh!


Tangan Smith mengepal marah, marah pada dirinya sendiri yang merasa tidak becus menjadi seorang ayah.


Friska menarik tubuh Zee dan memeluknya erat.


"Lalu kemana Zaline? Mom, ingin meminta maaf dengannya," bisik Friska lirih, tanpa melepaskan pelukannya.


Zee menutup matanya, dan mengosongkan pikirannya. Membiarkan Zaline yang mengambil alih tubuhnya saat ini.


Ya, Zaline dan Zee sekarang adalah satu.


Mata Zee berubah menjadi teduh. Ini Zaline, ya berbeda dengan Zee. Kalau Zee matanya menyorot tajam.


"Mom..." panggil Zaline.


Friska melepaskan pelukannya, ia menatap Zaline dengan airmata berlinang.

__ADS_1


"Zaline..." Friska kembali memeluknya, air matanya semakin banyak menetes. Zaline dengan tubuh Zee, membalas pelukan Friska. Air matanya juga ikut turun.


"Maaf...maaf...maaf...maaf..." hanya kata itu yang sedari diucapkan Friska. Smith ikut memeluk istri dan anaknya.


"Sstt. Mom sama Dad gak salah, makasih udah jadi mom dan dad yang terbaik bagi kita," ucap Zaline tulus yang semakin membuat Friska bersedih.


Ny. Williams dan Williams ikut menangis karena terharu. Akhirnya melihat keluarkeluarga yang sudah lama terpisah, kembali lagi. Walaupun dengan keadaan yang berbeda.


****


Di sisi lain, Davin, Gavin dan Prim sedang bercengkrama dengan Dito dan Dika. Mereka nampak membicarakan eskul Basket yang sebentar lagi akan mengikuti lomba.


"Kapan kita latihan?" tanya Gavin serius. Setelah sekian lama mereka membicarakan sesuatu yang tak jelas.


"Gimana kalau hari ini?" usul Dika.


"Boleh tuh."


"Fiks hari ini nih? Dimana?" tanya Gavin.


"Gor?"


"Gak," jawab Dito singkat.


"Lapangan RT?"


"Gue males diliatin fans."


"Pos ronda?"


"Lu mau ngopi apa mau latihan, *****," cibir Prim kesal.


"Terus dimana?"


"Di rumah gue aja elah," kata Dika.


"Enggak enggak. Rumah lo gak enak. Sempit. Di rumah kita aje ya, Vin. Luass!!!" Kata Davin sombong.


Gavin memutar bola matanya malas, "terserah lu aja dah."


"Oke! Ntar sore jam 4 dirumah Gavin."


"Dirumah Gavin dan Davin!" ralat Davin kesal karena namanya tak dicantumkan dalam kalimat yang diucapkan Prim.

__ADS_1


"Terserah lo, bambang!"


__ADS_2