Tuan Kim Untuk Noona

Tuan Kim Untuk Noona
Tuan Kim kecil


__ADS_3

Tiga orang anak laki-laki berkumpul bersama diruang keluarga,mereka sedang asyik dengan permainan masing-masing. Kim Seokjin (11 tahun) kakak tertua sedang asyik dengan lukisannya, Kim Taehyung (6 tahun) sedang asyik bermain mobil-mobilan dengan si bungsu Jungkook (3 tahun).


Kim Taehyung melirik sang kakak yang sedang fokus dengan lukisan yang dibuatnya "kakak lukisan mu benar-benar bagus,kau sangat berbakat" puji sang adik, Seokjin tersenyum "benarkah? apa kau menyukai lukisanku?" tanya seokjin pada Taehyung, Taehyung mengangguk dengan cepat "huum,aku sangat menyukainya, bisakah kau memberikan lukisan itu untukku?" pintanya sambil memasang wajah memelas, Seokjin terkekeh melihat tingkah laku adiknya "tentu saja,aku akan segera menyelesaikan lukisanku dan memberikannya padamu"


Taehyung sangat senang mendengarnya dia segera memeluk Seokjin kemudian beralih meraih tangan Jungkook dan mengajak Jungkook melompat dan berputar bersamanya,Jungkook terlihat bingung dengan tingkah kakaknya tapi kemudian ikut tertawa,melompat dan berputar bersama Taehyung.


Setelah makan malam Seokjin menyelesaikan gambarnya dan memberikan gambar itu pada Taehyung,karya pertama Seokjin tentang gambaran keluarganya yaitu Ayah,ibu,Seokjin dan kedua adiknya.


Sejak saat itu Seokjin hanya menghabiskan waktu untuk melukis dan bertekad untuk menjadi pelukis terkenal. Seokjin kecil telah menghabiskan waktunya selama 5tahun hanya untuk melukis membuat sang ayah murka karena ayahnya ingin dia menjadi pengusaha penerus keluarga mereka.


"Seokjin sampai kapan kau akan melukis hal tidak berguna seperti ini? aku ingin kau menjadi penerus ku,buang semua barang-barang tidak berguna ini dan mulailah belajar!" caci sang ayah sembari melempar alat lukis yang dipegang Seokjin "tidak ayah,aku sangat suka melukis,aku hanya ingin menjadi pelukis,apapun yang terjadi ayah tidak akan bisa menghentikan ku lagi" Seokjin segera mengambil alat lukis yang berserakan dan merapikannya kembali,pertengkaran itu memang sering terjadi sehingga terkadang Seokjin melukis secara sembunyi-sembunyi agar lolos dari amarah sang ayah,namun kali ini diusia Seokjin yang mulai remaja dia memberanikan diri untuk mengatakan apa yang dia inginkan bukan yang ayahnya inginkan.


Selama ini sang ibulah yang mendukung Seokjin menjadi pelukis seperti yang di cita-citakan anak sulungnya itu,sang ibu melihat pertengkaran mereka bermaksud untuk melerai keduanya "ayah sudahlah biarkan Seokjin mengejar cita-citanya,jangan memaksakan sesuatu yang bukan menjadi keinginannya", sang Ayah menoleh kepada istrinya kemudian berkata "lihatlah didikan mu,karena kau selalu memanjakannya, dia menjadi pembangkang. Aku pikir kau telah menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku dan kau tahu apa yang jadi keinginanku tapi ternyata aku salah,apa kau tahu bagaimana susah payahnya aku mencari nafkah untukmu dan anak-anak agar kalian bisa hidup nyaman seperti sekarang?"


Seokjin segera menyela ucapan sang ayah "hentikan ayah,ini bukan salah ibu,ini salahku dan kau tak seharusnya bicara seperti itu pada ibu". ibu kim menenangkan putra sulungnya "sudahlah nak,ayahmu benar ibu bukan ibu yang baik untuk kalian,maafkan ibu" isak nya. "apa ayah puas? apa ayah pikir dengan seperti ini aku akan melakukan apa yang ayah inginkan? ayah salah,justru aku akan semakin bertekad untuk mewujudkan apa yang menjadi mimpiku,aku akan buktikan pada ayah kalau aku akan menjadi pelukis yang sukses"

__ADS_1


sang ayah menatap tajam Seokjin "tunjukanlah kalau kau memang bisa berhasil,tapi tanpa bantuan apapun dariku. uang,rumah dan segala fasilitas yang kau nikmati saat ini" Seokjin mengerti maksud dari ucapan sang ayah,dia segera berlari ke kamarnya dan mengemasi barang-barangnya dia bermaksud untuk pergi meninggalkan rumah,setelah selesai mengemasi barang-barangnya dia segera menuju pintu keluar namun ibu kim menghentikan langkahnya "Seokjin apa yang kau lakukan? kau mau kemana nak?"


Soekjin menggenggam tangan ibunya "maafkan aku bu,aku harus pergi aku janji aku akan menjadi anak yang ibu banggakan" Seokjin mengecup genggaman tangan sang ibu,membuat sang ibu semakin terisak "nak minta maaflah pada ayahmu,ini masih belum terlambat" Seokjin menggeleng "maafkan aku bu" Seokjin memeluk sang ibu kemudian melepaskannya secara perlahan "Seokjin tidak nak,jangan pergi jangan tinggalkan ibu", Seokjin tetap berjalan tanpa menoleh,sampai suara seseorang menghentikan langkahnya "kakak jangan pergi" isak Taehyung segera berlari memeluk kakaknya "Taehyung berjanjilah untuk menjaga Jungkook selama aku pergi" ucap Seokjin kepada sang adik sembari membelai rambut adiknya, "tapi bagaimana dengan kakak?" tanya adiknya dengan penuh kekhawatiran "aku akan baik-baik saja,aku janji" Seokjin melingkarkan jari kelingkingnya pada Taehyung lalu melepaskannya secara perlahan kemudian segera pergi meninggalkan rumah dengan perasaan yang campur aduk.


Sang ibu berusaha mengejar putra sulungnya namun Seokjin sama sekali tak mempedulikan ibunya,dia segera naik taksi yang lewat didepan rumahnya, sang ibu berteriak histeris memanggil nama Seokjin kemudian karena terlalu shock dengan kepergian Seokjin sang ibu jatuh pingsan dijalan,Taehyung yang melihat ibunya terkapar segera berlari menghampiri sang ibu dan menangis tersedu-sedu "ibu bangun ibu,ayah tolong ibu" Taehyung menoleh kepada ayahnya,ayahnya segera membawa sang istri kerumah.


Semenjak kejadian itu suasana rumah menjadi sepi,tidak hangat dan tidak ada tawa seperti biasa. Ibu kim menjadi pendiam tapi dia tetap menjalankan tugasnya sebagai istri seperti biasanya,berulang kali dia memohon agar sang suami mencari anaknya namun sang suami mengacuhkannya seolah tak mendengar apa yang dikatakan istrinya.


sebulan berlalu Ibu Kim mulai gelisah dengan keberadaan Seokjin dia memutuskan untuk pergi mencari Seokjin tanpa sepengetahuan sang suami,ketika ibu kim akan pergi Taehyung yang baru pulang sekolah melihat ibunya "ibu mau kemana?" ibu kim kaget "ah Taehyung ibu ada urusan,bisakah kau menjaga Jungkook sebentar?" Taehyung terlihat bingung karena tidak biasanya ibunya akan pergi keluar tanpa dia atau Jungkook "apa ibu akan mencari kakak?" tanyanya spontan,


Ibu kim pun segera pergi mencari keberadaan Seokjin, sebenernya Taehyung ingin ikut mencarinya bersama tapi sang ibu melarangnya,dia tidak ingin Jungkook sendirian dirumah,karena tidak mungkin juga untuk membawa keduanya mencari anak sulungnya.


Hari sudah mulai gelap tapi ibu kim tak kunjung pulang, Taehyung sangat khawatir terhadap ibunya. Pintu utama terbuka Taehyung segera berlari kearah pintu berharap ibunya pulang bersama kakaknya,namun ternyata yang datang sang ayah "Taehyung kenapa kau belum tidur? apa kau menunggu ayah?" Taehyung menjawab dengan terbata-bata "a.. aahhh iya ayah tentu saja aku menunggu ayah" Taehyung berlari menghampiri sang ayah dan memeluknya,sang ayah mengelus rambut putranya "apa kau sudah belajar?" tanya nya dengan penuh harap "kau adalah harapan ayah nak,ayah tak akan selamanya muda, ayah tak akan selamanya ada,kau harus belajar bertanggung jawab sebagai kakak untuk adikmu, untuk keluarga kita"


Taehyung terlihat bingung kenapa ayahnya tiba-tiba bicara seperti itu "apa maksud ayah?" tanyanya polos "ayah tahu ibumu telah pergi meninggalkan kita" ucap sang ayah "tidak ayah,ibu hanya pergi mencari kakak dan ibu akan membawa kakak kembali" jawab Taehyung,

__ADS_1


"Taehyung mereka tidak akan pernah kembali,mereka meninggalkan kita,ayah mohon padamu hanya kau satu-satunya harapan ayah,kau kakak satu-satunya yang jungkook punya,belajarlah dan tunjukan pada ayah kalau kau adalah kebanggaan ayah". Taehyung kecil lebih dewasa dari umurnya sehingga dia mudah memahami maksud dari perkataan ayahnya.


Sebenarnya saat sang ayah diperjalanan pulang kantor dia melihat sang istri berkeliaran diluar dengan membawa foto Seokjin dan bertanya kepada semua orang yang melewatinya,sang istri terlalu bersemangat mencari anak sulungnya hingga tak menyadari waktu sudah sangat gelap hingga seseorang datang menghampirinya "apa yang kau lakukan?" sang istri terkejut dengan kedatangan suaminya segera menyembunyikan foto seokjin dibelakang tangannya,sang suami sudah tahu apa yang dia sembunyikan "kau meninggalkan dua anakmu dirumah demi mencari satu orang tidak berguna itu?" tanyanya sinis


"bagaimanapun juga Seokjin anak kita,tak seharusnya kita membiarkannya pergi" jawab sang istri, sang suami menarik lengan sang istri dan membawanya masuk kedalam mobil "aku menaruh harapan besar padanya dan kau lihat apa yang dia lakukan? dia begitu terobsesi dengan mimpinya,dia telah mengecewakanku" ucap sang suami dengan penuh amarah.


"itu karena keegoisanmu,kau tidak bisa terus memaksakan kehendak mu terhadap anakmu,itu justru obsesi mu sendiri yang ingin anakmu menjadi sepertimu,semuanya salahmu" teriak sang istri histeris sembari memukul dada suaminya "apa kau puas membuat anakku pergi,aku kehilangan putra sulung ku karena mu"


sang ayah terdiam sejenak kemudian melepaskan tangan sang istri yang terus memukul dada bidangnya,dia membuka pintu mobil lalu berkata "baiklah,kau boleh mencarinya,carilah dia sesukamu" sang istri menatap wajah sang suami "tapi jangan pernah kembali" lanjut sang suami, sang istri kaget dengan ucapan terakhir sang suami "apa maksudmu?" tanyanya


"kau telah menentukan pilihanmu,pada akhirnya aku juga dikecewakan olehmu,jadi pergilah dan jangan pernah kembali" sang suami sedikit mendorong sang istri keluar dari mobilnya,sang istri yang belum bisa mencerna perkataan suaminya hanya terlihat bingung ketika dia perlahan keluar mobil suaminya,sampai akhirnya sang suami pergi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi,sang istri baru menyadari kepergian suaminya


"sayang tunggu,apa maksudmu?" teriaknya sambil terus berlari mengejar mobil suaminya namun sayang suaminya sudah terlalu jauh sang istri tertunduk dijalan melihat suaminya meninggalkannya sendiri.


Beberapa hari berlalu ibu kim mencoba datang menemui kedua anaknya namun ternyata suaminya lebih dulu menghalangi semua aksesnya untuk bertemu,bahkan sampai beberapa bulan kemudian suaminya sengaja pindah rumah menghindarinya. Ibu Kim akhirnya menyerah dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2