Turun Ranjang Castin & Cleona

Turun Ranjang Castin & Cleona
Bab 13 ~ Castin vs Harles


__ADS_3

"Siapa kamu?" tanya Dara pada seorang wanita yang kini membersihkan tempat tidurnya.


"Saya adalah teman dari dokter Tina, saya bertugas untuk menjaga nona Dara."


"Pergilah, saya tidak butuh siapa pun," balas Dara turun perlahan dari ranjangnya, kemudian melangkah sambil mengapit pangkal pahanya yang masih saja perih.


"Nona mau ke mana?" tanya sang psikiater.


"Ibu saya," jawab Dara ketika mengingat sang ibu tercinta.


"Sekarang saya bantu nona bersiap, setelah itu saya antar ke rumah sakit karena Bik Eny sudah dipindahkan ke rumah sakit," tutur sang psikiater dengan suara lembutnya.


"Ibu saya di rumah sakit? Apa yang terjadi?" desak Dara panik.


"Dokter Tina yang membawa Bik Eny ke rumah sakit. Kata dokter Tina, kondisi Bik Eny mengalami peningkatan, ibu nona sudah bisa menggerakkan jari tangannya," terangnya agar Dara tak khawatir.


"Ibu saya bisa menggerakkan jarinya?" tanya Dara terharu.


"Benar nona."


"Tolong cepat bawa saya ke rumah sakit sekarang!" desak Dara tak sabaran.


"Saya bantu nona ganti baju dulu," Dara langsung mengangguk cepat.


Setelah siap, sang psikiater langsung membawa Dara menuju rumah sakit dengan mobilnya. Sampai di rumah sakit, Dara berjalan cepat menuju ruangan di mana ibunya berada.


Namun, langkah Dara terhenti kala melihat Elmer yang berdiri tepat di samping brankar ibunya.

__ADS_1


Dara langsung duduk dan reflek menutup telinga sambil memejamkan mata. Psikiater meminta Elmer untuk pergi diam-diam. Elmer pun terpaksa keluar dari ruangan tersebut.


"Nona, Nona kenapa?"


"Ada penjahat," jawab Dara sambil menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya nona salah lihat, hanya ada ibu nona di sana," sang psikiater berhasil menenangkan Dara.


"Da ... a ...." panggil Bik Eny.


"Ibu!" Dara langsung bangkit, kemudian memeluk ibunya dengan erat.


"Maafkan aku Dara."


***


Deg!


Jantung Castin seakan berhenti berdetak, bahkan ia kesulitan bernapas kala mendengar persyaratan yang Harles ungkapkan padanya.


"Apa maksudmu, Harles?" tanya Castin dengan nada suara yang menekan. Tangannya mengepal membentuk tinjuan yang siap melayang, tapi masih ia tahan. Mengingat pria di hadapannya kini, tak lain adalah adik kandungnya sendiri.


"Cleona adalah wanita yang aku cintai, kakak tega sudah merebutnya, aku akan membawanya kembali ke sisiku!" jawab Harles lugas.


"Kamu mencintainya?"


"Ya. Aku sangat mencintainya!" balas Harles yakin.

__ADS_1


Castin menghela napas kasar, berusaha menyalut bara emosi yang terus menggebu-gebu. Kenyataan yang baru saja terungkap membuatnya tak habis pikir.


"Kalau kamu mencintainya, ke mana saja kamu selama ini? Apa kamu ada di sisinya saat ia kesulitan?"


"Aku berusaha menjadi pelindung yang baik untuknya, di penjara demi dirinya, dan sekarang aku rela memberikan satu ginjalku untuknya. Apa itu tidak cukup untuk membawanya kembali ke sisiku?"


Castin terdiam mematung, ia kira dia adalah lelaki pertama yang melindungi Cleona. Tapi, ternyata dia salah.


"Apa dia mencintaimu?" tanya Castin serius, tatapan matanya lurus ke depan.


"Apa kakak yakin dia juga mencintai kakak?"


Lagi dan lagi Castin kalah telak. Ia sendiri juga tidak yakin Cleona tulus mencintainya. Mungkinkah Cleona hanya berpura-pura bahagia bersamanya? Sementara hatinya tetap untuk Harles. Kalau benar begitu, kenapa Cleona tidak jujur padanya?


"Maaf, Tuan. Kita tidak punya banyak waktu lagi," dokter berkata dengan tubuh bergetar. Takut menjadi sasaran amukan kedua pangeran yang tengah perang mata dan kata.


"Kalau kakak tidak mau menyerahkan Cleona padaku, biarlah impas. Kita berdua sama-sama tidak bisa memilikinya," ujar Harles dengan santainya.


Castin mengusap wajahnya kasar, kemudian berkata, "Aku....


.


.


.


Jangan lupa Votenya 😘

__ADS_1


__ADS_2