Turun Ranjang Castin & Cleona

Turun Ranjang Castin & Cleona
Bab 53 ~ Ngamar, yuk!


__ADS_3

"Kau jangan berharap dapat yang virgin juga, tidak pantas untukmu," timpal Castin membuat Devil terdiam.


"Who do you think you are? (kamu pikir kamu siapa?) Cacing acorn jodohnya ya pasti cacing acorn juga. Mana mungkin cacing acorn berjodoh dengan angsa putih. Know your place! (sadar diri kamu!)" sahut Dokter Calvin berhasil mematik api dan membuat murka sang sahabat.


"Gimme a break! (yang benar saja kamu!) Apa lagi itu cacing acorn!?"


"Nih," dokter Calvin memperlihatkan gambar sebuah cacing menggelikan di layar ponsel nya.


"Calvin! Punyaku tidak sekecil dan semenjijikan itu!" teriak Devil membuat semua orang termasuk Cleona, Nana dan Dara menatapnya heran.


***


"Hallo Dara, perkanalkan nama aku Nana Calista, kamu bisa panggil aku Nana, aku adalah pengawal sekaligus sahabat Cleona," terang Nana memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Dara," balas Dara dengan kaku, ia menerima jabatan tangan Nana.


"Hai Dara, kenalkan aku Cleona Chaves, kamu bisa panggil aku Cleona," giliran Cleona yang mengulurkan tangannya. Dara kembali membalasnya dengan kaku.


"Seneng berkenalan denganmu, ke depannya kita akan menjadi sahabat yang akrab," lanjut Cleona dengan ramahnya. Dara pun menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil.


"Dan yang pasti tidak akan canggung lagi," sambung Nana.


"Kamu suka minuman apa?" tanya Cleona.


"Apa saja," jawab Dara singkat, ia masih malu-malu.


Cleona tersenyum manis, kemudian mengulurkan jus jeruk ke hadapan Dara.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Dara tulus, ia meminum jusnya guna mengurangi rasa gugup saat berhadapan dengan Cleona dan juga Nana. Dara merasa tak pantas berteman dengan Nana dan juga Cleona. Mengingat statusnya yang tak lain adalah seorang pembantu yang kemudian dinikahi oleh majikannya sendiri.


"Aku dengar kamu baru saja kehilangan ibumu, ya?" ceplos Nana mendapat senggolan dari sikut Cleona. Menyadari kekhilafannya, Nana mengatup bibirnya merasa bersalah.


"Maafkan Nana, ya, Dara. Dia memang suka begitu," tutur Cleona tak enak hati.


"Tidak apa-apa," sahut Dara berusaha menahan tangis. Tapi, kedua mata yang memerah seakan menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini.


"Tidka perlu bersedih, Dara. Kita sama, aku juga tidak punya ibu, sementara ayahku terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Cleona juga, dia tidak pernah melihat, bahkan tidak bisa mengingat seperti apa raut wajah kedua orangtuanya. Jadi, mulai sekarang kamu tidak boleh bersedih lagi karena selain ada suamimu, kamu juga punya Kuta berdua," Nana berusaha membuat Dara tenang.


"Benar apa yang Nana katakan, mulai sekarang jadilah sahabat kami. Kita tidak hanya akan berbagi kebahagiaan, tapi juga berbagi rasa sakit. Keluarkan apa pun yang membuat dada terasa sesak dan setelah itu barulah kita kembali bangkit," sambung Cleona membuat Dara tersenyum lebar.


"Terima kasih atas kebaikan hati Nona berdua, aku tidak menyangka akan memiliki sahabat sebaik dan setulus nona berdua," balas Dara merasa sedikit lebih dekat dengan Nana dan Cleona.


"Sama-sama, Dara. Tapi, jangan panggil nona. Panggil nama kami saja, Nana dan Cleona," pinta Cleona.


"Baiklah Nana, Cleona."


"Ayo, cake-nya juga dimakan. Kamu, kan lagi hamil, bayimu pasti suka yang manis-manis, kan?"


"Aku suka, Cleona. Terima kasih banyak," ucap Dara dengan tulus.


"Makanlah yang banyak," balas Cleona. Dara mengangguk dan menikmati


"Oh iya, kandunganmu sudah berapa bulan?" tanya Nana penasaran.


"Aku tidak ingat jelas, tapi sepertinya sudah hampir dua bulan," balas Dara mulai ramah.

__ADS_1


"Sudah periksa?" lanjut Nana lagi, Dara pun menggelengkan kepalanya.


Cleona menatap Nana tajam, "Salah terus aku," batin Nana kembali mengutuk bibirnya yang tak henti bicara.


"Tidak apa-apa, yang penting kamu dan calon bayimu sehat. Bolehkah aku mengelus perutmu?" tanya Cleona ingin merasakan seperti apa rasanya hamil. Kalau menyusui ia sudah pernah merasakannya.


"Boleh," Cleona sangat senang karena Dara mengizinkannya merasakan.


"Ciee, pengen cepat-cepat nyusul nih ye. Selesai pesta kayaknya bakal langsung dihajar nih," ledek Nana membuat kedua pipi Cleona memerah.


"Nanti kalau kamu sudah menikah juga pasti akan hamil," balas Cleona geram.


"Oh tentu pasti, sekarang saja masih berusaha. Kalau nggak mikir masih sekolah, sudah aku hajar itu si dokter Calvin," sahut Nana membuat Cleona menggelengkan kepalanya.


Sementara Dara terus dibuat kaget dengan ceplosan Nana yang membuatnya tak habis pikir. Bagaimana mungkin ada gadis seperti Nana?


"Oh iya, Dar. Kamu usia berapa?" tanya Nana.


"Tujuh belas tahun."


"Sekolah di mana?" tanya Nana lagi.


Dara pun menundukkan wajahnya malu, "Aku tidak sekolah, hanya sebatas SMP," ucap Dara malu.


"Oh ya? Sayang sekali, keliatannya kamu pintar loh," sahut Nana hanya menebak. Tapi, ia tak salah karena Nana memang adalah gadis yang pintar di balik kepolosan serta kelemahannya.


"Cleona," panggil Castin yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Cleona, membuat kaget ketiga gadis yang tengah asik berbincang.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Cleona mengerutkan dahinya.


"Ngamar, yuk."


__ADS_2