Turun Ranjang Castin & Cleona

Turun Ranjang Castin & Cleona
Bab 36 ~ Kerja Sama


__ADS_3

Tok, tok, tok!


"Masuk!" seru Castin yang masih fokus dengan dokumen-dokumennya.


Setelah mendapat sahutan dari tuannya, barulah Asisten Helder masuk dengan tak sabaran.


"Tu—"


"Kebetulan kamu datang, kemarilah," Asisten Helder pun mendekat dan berdiri tepat di sebelah tuannya.


"Fearland, tolong cari informasi apa pun itu tentang kerajaan Fearland. Aku sudah mencarinya di internet, tapi tidak menemukan satu pun pembahasan tentang kerajaan asing ini," titah Castin kepada sang asisten.


"Saya datang memang ingin menyampaikan kabar baik tentang kerajaan ini, Tuan," balas Asisten Helder cepat.


"Apa?" desak Castin penasaran.


"Saya baru saja menerima telpon kalau negara Fearland menerima kerja sama dengan Oesteria. Menurut saya ini adalah kabar yang sangat baik mengingat kita adalah negara pertama yang diterima tawaran kerja sama oleh negara sebesar Fearland," terang Asisten Helder terperinci.


"Benarkah!" Castin masih tak percaya. Parahnya ia tak pernah mendengar tentang Fearland. Dan hal itu membuatnya amat pemasaran. Apalagi Oesteria adalah negara pertama yang diterima ajakan kerja samanya.


"Benar, Tuan."


"Bagaimana pun caranya, kau harus berhasil membuat perjanjian pertemuan dengan mereka!"


"Baik, Tuan. Pasti akan saya usahakan," balas Asisten Helder segera pergi untuk melakukan tugasnya.

__ADS_1


Sementara Castin memutar singasananya, melihat pemandangan kota dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Apa kamu di sana, Cleona?"


***


Hufff....


"Aku tidak percaya padamu, tapi aku percaya cintamu kepada adik kesayanganku. Dan aku hanya bisa membantu sampai di sini, setelah itu berjuanglah sendiri. Jangan sampai mengecewakanku apalagi adikku," tegas king Elio yang rupanya diam-diam menyetujui perjanjian kerja sama dengan negara Oesteria.


***


Ketika membuka kedua mata, Dara langsung bangkit karena kaget saat tahu bahwa dirinya sudah ada di dalam sebuah kamar yang sangat asing baginya.


"Aku di mana?" ucap Dara panik.


"Dokter," panggil Dara mengerutkan dahi heran.


"Ini nona, silahkan diminum dulu obatnya." Dara patuh dan segera meminum pil yang diberikan padanya.


"Saya di mana, Dokter? Bukankah seharusnya saya ada di penjara karena ... Karena saya ... Tisya...."


"Untuk sementara waktu, nona akan tinggal di villa ini," jawab sang psikiater.


"Pihak polisi sudah melihat rekaman cctv dan nona dinyatakan tidak bersalah. Nona sudah dibebaskan," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Lalu, lalu bagaimana dengan Tisya?" tanya Dara khawatir, padahal Tisya selalu menindas dirinya.


"Meninggal dunia. Nona Tisya meninggal karena bunuh diri, bukan salah nona Dara. Jadi, saya mohon jangan pikirkan lagi masalah ini. Lupakan dan lebih baik Nona fokus pada diri nona sendiri," terang sang psikiater menenangkan dengan perlahan.


Mendengar hal itu, Dara langsung berbaring karena kepalanya yang terasa berat. "Apa yang terjadi, Nona?"


"Kepalaku pus—"


Dara tak sempat menjawab, ia langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangan kala merasa sangat mual. Dara bangkit, kemudian berlari menuju kamar mandi.


HOEK!


Dara muntah-muntah di dalam sana. Psikiater yang menjaganya turut membantu mengurut tengkuknya. Ketika Dara merasa lega, ia langsung menuntun Dara kembali berbaring di atas ranjang.


"Sepertinya nona mual karena belum makan apa pun. Kalau begitu saya akan buatkan makanan untuk nona," ucapnya segara keluar dari kemar.


Meninggalkan Dara seorang diri. Saat akan berbaring menyamping, Dara tak sengaja melihat sebuah surat yang jatuh dari dalam tas milik psikiaternya. Dara pun berniat untuk mengambil dan meletakkannya ke tempat semula.


Namun, hal itu urung ia lakukan kala mengetahui surat tersebut adalah hasil pemeriksaan tentang dirinya. Dara pun duduk di pinggir ranjang, kemudian membacanya dengan seksama.


"Ha ... Hamil....


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen dan votenya ya guys. Terima kasih 🙏🏻


__ADS_2