
Helikopter milik king Elio mendarat tepat di atap gedung istana utama kerajaan Oesteria.
Tak berselang lama, Elio, Cleona dan Nana keluar dari helikopter. Tampak Castin, asisten Helder dan kepala pelayannya menyambut kedatangan tamu besar mereka. Castin membawa mereka memasuki istananya.
Karena diundang makan malam, mereka pun diarahkan menuju ruang makan dengan meja memanjang yang di atasnya sudah tersedia berbagai macam jenis makanan super mewah dan lezat. Sekitar tiga puluh pelayan dan chef melakukan tugas mereka dengan baik.
"Silahkan duduk," Castin mempersilahkan. Elio duduk di sebelah Cleona, dan Nana duduk di sebelah Nana. Sementara Castin duduk di hadapan ketiganya.
Saat beberapa pelayan mendekat untuk melayani, Cleona, Nana dan Elio kompak mengangkat tangan, mereka ingin mengambil makanan sendiri. Pelayan tersebut membungkukkan badan dan langsung undur diri.
"Silahkan dinikmati hidangannya, tuan Elio, Cleona, Nana," ujar Castin dengan ramahnya. Elio, Cleona dan Nana mulai mengambil beberapa hidangan yang tersedia di atas meja.
"Hanya kamu sendiri di istana sebesar ini?" tanya Elio sambil melahap steaknya.
"Sejak di tinggal Istri, saya memang selalu sendiri," balas Castin menatap Cleona dengan senyuman tipisnya.
Melihat hal itu, Cleona pun langsung mengalihkan pandangan.
"Mungkin besok aku akan kembali ke Fearland," ucap Elio lagi. Castin menghentikan mengunyah makanannya, lalu menatap Elio serius.
"Apa Cleona juga akan pergi?" tanya Castin cepat, dari ekspresinya tampak sangat tak rela ditinggalkan oleh Cleona.
"Tidak, Cleona akan tetap di sini menyelesaikan proyek dan juga dia akan kembali melanjutkan sekolahnya," terang Elio membuat Castin tersenyum lebar.
__ADS_1
Jika tidak ada Cleona, maka ia akan memeluk Elio untuk mengucapkan terima kasih secara tulus. Castin senang karena Elio terus membatunya untuk kembali bersama Cleona.
Dert....
Ponsel Castin berdering sekali pertanda ada pesan yang masuk. Castin langsung meraih dan membuka pesan tersebut. Castin mengerutkan dahi karena nama Nama terpampang layar ponselnya.
Castin menoleh pada Nana, Nana tersenyum penuh arti. Penasaran, Castin pun langsung membuka pesan yang Nama kirimkan padanya.
Meski dalam hati tetap berpikir dari mana Nama bisa mendapatkan nomornya. Tidak mungkin dari dokter Calvin, karena Castin para sahabatnya mana berani memberikan nomor ponselnya kepada siapa pun.
Castin mengerutkan dahi tak mengerti atas pesan yang berbunyi.
Nana : Lamar Cleona sekarang.
Castin : Apa maksudmu?
Nana : Lamar saja dulu, kalau diterima tuan harus membayar saya.
Castin : Bercandamu sama sekali tidak lucu!
Nana : Saya sedang tidak bercanda, Tuan Castin. Saya sudah membujuk sudah Cleona hingga ia bersedia membuka hatinya lagi untuk tuan Castin.
Castin : Aku tidak mengerti apa yang kau Katakan.
__ADS_1
Nana : Coba lamar saja dulu, Tuan Castin. Gentleman dikit.
Castin tak lagi membalas, ia menatap Cleona dengan tatapan lembutnya. Castin tak percaya atas apa yang Nana katakan, tapi apa salahnya mencoba.
Castin menelan saliva ketika Cleona membalas tatapannya dengan alis yang berkerut. Pasangan netra keduanya saling bertautan erat. Castin menelan saliva berusaha payah berkata dengan lantas dan lugas.
"MAUKAH KAMU MENIKAH LAGI DENGANKU, CLEONA?"
UHUK!
Cleona terbatuk karena tak sengaja terselak makanannya sendiri. Ajakan Castin yang tiba-tiba membuatnya kaget. Nana sigap membantu Cleona minum. Elio menatap Castin heran. Sementara Castin menundukkan wajah, siap mendapat amarah.
Lenggang beberapa saat, Cleona menatap Nana seakan meminta saran, Nana langsung mengangguk cepat. Kemudian Cleona kembali menoleh kepada sang kakak. Elio memejamkan mata sambil tersenyum simpul.
Sedangkan Castin masih menundukkan wajahnya sangat dalam, menyesal karena sudah merasa tertipu oleh Nana. Castin mengepak tangannya hingga memutih, kali ini ia benar-benar tak akan memaafkan Nana.
"Aku....
.
.
.
__ADS_1