
"Apa dia gay? Sial, aku menyesal mandi tadi," tebak Castin asal.
"Sepertinya itu tidak mungkin, Tuan."
"Mungkin itulah alasan kenapa diberi nama Fearland (tanah ketakutan). Makanya mereka tidak mau bekerja sama dengan negara mana pun. Sepertinya aku harus berhati-hati."
"Iya, Tuan harus selalu berhati-hati."
"Bagaimana kalau dia menjebakku?"
"Raja Castin Afson sangat hebat, tidak mungkin bisa terkecoh."
"Tumben kau cerdas," balas Castin tersenyum bangga.
Beberapa menit kemudian, mobil pun berhenti di parkiran. Castin turun dari mobil, lalu melangkah memasuki hotel. Kedatangan Castin disambut dengan baik, Castin diarahkan menuju presidential suite room.
"Silahkan, Tuan," ujar seorang karyawan yang mengantar Castin. Usai membuka pintu untuk Castin, karyawan itu pun segera undur diri.
Castin menatap pintu baja di hadapannya dengan jantung yang berdegub kencang. Entah kenapa kakinya tiba-tiba terasa berat untuk melangkah.
"Sialan, apa yang terjadi padaku?" gumamnya tampak gelisah.
__ADS_1
Castin menghela napas berat, setelah merasa lebih baik, barulah ia mendorong pintu, lalu melangkah masuk ke dalamnya.
Tak tampak siapa di dalam kamar mewah tersebut. Akan tetapi, ada sosok yang berbaring menyamping di atas ranjang king size itu.
"Punggung itu," batin Castin yang merasa tak asing dengan punggung seorang wanita yang membelakanginya.
Castin memegang dadanya yang berdetak semakin tak beraturan. Apalagi ia sangat yakin yang terbaring di atas ranjang adalah seorang wanita. Bukannya seorang pria kekar bernama king Adelio seperti yang Asisten Helder katakan.
Meski tahu ada yang tidak beres, tapi Castin enggan pergi, ia tetap melangkah dengan penasaran. Entah magnet jenis apa yang ada pada wanita di atas ranjang, hingga mampu membuatnya begitu penasaran dan terus melangkah maju.
Castin masih melangkah perlahan, semakin dekat dengan ranjang, semakin cepat pula jantungnya berdetak.
"Selama malam," sapa Castin ketika sudah berada tepat di samping ranjang. Tapi, sayangnya wanita misterius itu berbaring di pinggir ranjang ujung sana.
Castin membulatkan matanya sempurna, punggung tak asing itu Castin kenali. Tanpa ba-bi-bu, Castin meraih punggung itu agar berbalik menghadapnya.
"CLEONA!" teriak Castin histeris, tubuhnya terjungkir ke belakang saking kagetnya kala melihat sosok wanita yang ia cari-cari selama ini, sudah ada tepat di hadapannya.
Castin tersungkur di lantai dengan tubuh yang mendadak panas dingin serta lidah yang terasa kelu tak dapat berucap walau sepatah dua patah kata.
Castin merasa tak sanggup berdiri, keringat dingin membanjiri wajah serta membasahi jasnya. Castin mencoba bangkit dengan bergantungan pada sprei kasur agar tubuhnya yang lemas tetap seimbang.
__ADS_1
Castin duduk tak berdaya di pinggir ranjang. "Cle-ona...." ucapnya dengan air mata yang meluncur deras.
PLAK!
Castin memukul pipinya sekuat tenaga, seakan memastikan bahwa ia tak lagi sedang bermimpi maupun berhalusinasi. Meski ia tak merasa sakit, tapi ia bisa merasakan pukulan yang membuat pipinya memerah itu.
Castin menatap lama sosok cantik dengan aura mahal mempesona itu. Wajah oval, mata besar bersinar bak boneka, hidung lancip namun kecil, bibir ranum tipis di atas tebal di bawah, gigi yang tersusun rapi, kulit putih bersih, leher jenjang, dan yang paling menonjol adalah pepaya jumbo yang sangat menggoda.
Tak ada yang berubah dari wanita yang selama ini cari-cari. Castin tak mengedipkan mata sama sekali, ia terus menatap lama sosok cantik yang ia rindukan itu.
Castin menatapnya dengan air mata yang terus mengalir dengan deras, ia masih tak percaya dengan apa yang kini ia lihat. Untuk lebih memastikannya, Castin pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh sosok itu.
Lihatlah tangannya sampai bergemeretak hebat, Castin sampai kesulitan bernapas.
"Sayang," ucapnya sambil mengusap lembut pipi Cleona.
"Uhh, sangat nyaman ... Ahh ...."
.
.
__ADS_1
.