
Malam harinya.
"Duduklah di kursi roda, kita pulang sekarang," ajak Nana meminta Cleona untuk duduk di kursi roda agar ia bisa mendorongnya cepat.
"Tidak usah pakai kursi roda, Na. Aku jalan kaki aja, lagian udah sembuh kok," Cleona menolak menaiki kursi roda, ia lebih memilih mengenakan flat shoes.
"Baiklah," Nana tak melarang dan membiarkan Cleona melakukan apa pun yang ingin ia lakukan.
Setelah siap, Nana menuntun Cleona masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh supir kerajaan. Selama di perjalanan, Cleona terus menceritakan tentang isi hatinya terhadap Castin. Nana hanya menjadi pendengar yang baik.
Beberapa menit di perjalanan, mobil pun berhenti tepat di depan pintu utama istana. Pintu mobil dibuka oleh pengawal yang berjaga di sana, Cleona turun dan melangkah masuk ke dalam istana, ia bahkan meninggalkan Nana sang sahabat.
Ketika pintu ia buka, Cleona tak dapat melihat apa pun karena tidak ada cahaya sama sekali, semua lampu dimatikan membuatkan Cleona seketika merasa takut.
"Nana," panggil Cleona menoleh ke belakang, tapi tak ada seorang pun. Pintu utama dikunci dari luar. Cleona kebingungan.
Mundur percuma karena pintu telah dikunci, pada akhirnya Cleona memilih tetap melangkah maju agar tak lagi penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua lampu dimatikan.
"Suamiku, Castin," panggil Cleona berharap apa yang terjadi adalah kejutan dari sang suami yang menyambut kepulangannya. Cleona ingat kejadian romantis tak terlupakan ketika Castin melamarnya. Saat itu seluruh lampu juga dimatikan, persis apa yang saat ini terjadi.
"Castin," panggil Cleona lagi, ia terus melangkah maju hingga akhirnya.
__ADS_1
Ctek!
Suara lampu yang tiba-tiba hidup semuanya, Cleona memutar badannya, mencari sosok suami yang begitu ia rindukan kehadirannya.
Namun, Cleona tak menemukan seorang pun di sana. Sangat sepi, tidak ada siapa pun, hanya ia sendirian.
Cleona maju beberapa langkah, saat menoleh ke lantai, Cleona menemukan kelopak bunga mawar berwarna hitam yang berjejer rapi. Cleona kembali melanjutkan langkahnya, mengikuti kelopak buang mawar yang membawanya masuk ke dalam lift.
Tanpa harus menekan tombol, lift telah melaju dengan sendirinya. "Apa Nana membohongiku? Apa sebenarnya Castin sudah pulang dan sengaja menyiapkan semua ini untukku?" Cleona tersenyum lebar, ia tak sabar ingin memeluk Castin untuk melepas rindu yang terus menggebu-gebu.
Ting!
Lift terbuka, Cleona bergegas keluar, kembali mengikuti kelopak bunga mawar berwarna hitam yang membawanya mengarah ke kamar Castin.
Ceklek!
Cleona membuka pintu cepat, kemudian melangkah masuk ke dalamnya. Cleona dibuat tercengang dengan kamarnya dan Castin yang sudah didekorasi dengan indahnya. Lampu kamar itu juga dimatikan, menyisakan cahaya tamara dari lampu lilin yang ada di setiap sudut.
Lantai kamar sampai tak lagi terlihat karena dilapisi oleh kelopak mawar berwarna hitam. Tak ingin merusak kelopak bunga mawar yang berhamburan di lantai, Cleona melepaskan flat shoes nya. Ia berjalan dengan kaki tanpa alas.
__ADS_1
Cleona menikmati sentuhan lembut kelopak bunga mawar pada telapak kakinya, tak lupa ia juga menghirup aroma wangi semerbak yang sangat menenangkan.
Cleona mengedarkan pandangan, tapi tak menemukan siapa di kamar itu.
"Castin, Castin suamiku," panggil Cleona, tapi tak ada sahutan.
Cleona beralih memeriksa kamar mandi, tapi zonk. Hanya ada kelopak bunga mawar yang memenuhi buthub. Cleona beralih memeriksa balkon, masih sama, tidak ada seorang pun di sana.
Cleona memeriksa walk in closet, lagi dan lagi tak ada siapa pun di sana. Cleona dibuat kebingungan.
"Jangan bermain-main Castin, aku sudah sangat merindukanmu. Cepat, keluarlah," mohon Cleona dengan mata berkaca-kaca.
Ceklek!
Pintu terbuka, Cleona langsung membalikkan badannya.
"Kamu....
.
.
__ADS_1
.