
"Hai Cleona," sapa pria itu membuat Cleona berpikir keras. Entah siapa, tapi sepertinya Cleona pernah melihat wajah tampan yang tak asing baginya itu.
"Kamu siapa?" tanya Cleona penasaran.
"Cleona!" seru Nana yang berlari ke arah Cleona dengan membawa dua bungkus es krim.
Cleona tersenyum tipis, kemudian menerima es krim yang Nana ulurkan untuknya. Nana kembali duduk si sebelah Cleona.
"Nana, pria iniโ"
Cleona menunjuk ke hadapannya, tapi ia tak melanjutkan ucapannya karena di hadapannya sudah tak lagi ada siapa pun.
"Apa, Cleo?" tanya Nana mengerutkan alisnya sambil melihat ke arah tunjukkan Cleona.
"Tadi, tadi ada seorang pria berpakaian serba hitam dan dia memanggil namaku. Tapi, ke mana dia sekarang? Cepat sekali menghilangnya," jelas Cleona sambil melirik kiri dan kanan, mencari sosok pria misterius yang tadi jelas-jelas berdiri tepat di hadapannya.
"Siapa, Cleona?" tanya Nana waspada.
"Entahlah, tapi wajahnya sangat tidak asing. Sepertinya aku sering melihatnya, tapi aku lupa siapa dan di mana aku pernah melihatnya," jawab Cleona bingung. Seakan ada sesuatu yang ia lewatkan dalam hidupnya.
Samar-samar ia dapat mengingat wajah itu, tapi sangat sulit ia gambarkan dan mengingatnya.
__ADS_1
"Kamu pasti mengkhayal lagi, ya?" meski perasaannya juga tak tenang, tapi Nana berusaha menutupinya.
"Kali ini aku tidak mengkhayal, Na. Aku benar-benar melihatnya dengan jelas. Bahkan, dia memanggil namaku," lanjut Cleona lagi.
"Ya sudah, lebih baik kita masuk sekarang. Sudah saatnya makan siang," ajak Nana langsung bangkit dari duduknya.
"Baiklah," jawab Cleona setuju sambil melahap es krimnya dan juga es krim milik Nana yang diberikan padanya.
Nana membawa Cleona kembali ke kamar rawat inap. Ia menoleh ke belakang, memeriksa sekitar dengan mata tajamnya sambil mendorong kursi roda. Ia tak melihat siapa pun, taman memang sangat sepi. Tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Nana mempercepat langkahnya.
Sampai di kamar rawat inap, Nana menyuapi Cleona makan siang. Meski Cleona menolak, tapi Nana tetap memaksa melakukan tugasnya.
"Kamu tidak makan, Na?"
"Kenapa tidak sama-sama saja?" tanya Cleona heran.
"Aku kalau makan butuh konsentrasi, kalau tidak, aku tidak akan merasa kenyang sebanyak apa pun aku makan," jawab Nana jujur, Cleona tersenyum kecut.
Sore menjelang malam, Nana memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit dan tidak meninggalkan Cleona sendirian, karena khawatir sosok misterius yang Cleona temui di taman punya niat jahat.
Sebagai sahabat serta boddyguard yang sudah dibayar mahal, Nana akan selalu berada di sisi Cleona untuk ia lindungi. Bisa masuk dan berkeliaran di lingkungan rumah sakit kerajaan yang dijaga ketat, sudah pasti sosok itu bukan musuh sembarangan. Nana harus ekstra berhati-hati.
__ADS_1
"Kamu tidak pulang, Na?" tanya Cleona yang baru saja selesai mandi.
"Karena malam ini adalah malam terakhirmu di rumah sakit. Maka, aku tidak akan pulang dan akan menemanimu," balas Nana tersenyum kecil, guna menyembunyikan kekhawatirannya.
"Benarkah?" sahut Cleona seakan tak percaya. Akhirnya Malam ini ia tak akan sendirian lagi di rumah sakit.
"Tentu saja, kalau begitu aku mandi dulu. Setelah itu kita nonton bareng."
"Baiklah," jawab Cleona antusias.
Nana tak langsung masuk ke dalam kamar mandi, tapi terlebih dulu memastikan pintu dan jendela terkunci. Setelah memastikan semuanya aman, barulah ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Castin suamiku, besok aku akan pulang dan kamu harus menjemputku. Aku tidak akan pulang kalau bukan kamu yang menjemputku," oceh Cleona seorang diri.
.
.
.
Untuk pembaca tak kasat mata. Meski Othor tak pernah menerima like atau pun membaca komentar kalian. Tapi, boleh tidak Othor minta bintang 5 nya, terima kasih๐
__ADS_1
Terima kasih juga untuk semua reader yang sudah mendukung dari Duren Bangsawan hingga ke series ini๐ค. Calangeo semuanya ๐๐๐