
"Kamu jahat, Na. Castin benar-benar datang," gumam Cleona terisak pilu.
"Castin masih di luar negeri, Cleo," jelas Nana.
"Apa sesibuk itu sampai melupakan aku Istrinya? Kalau dia mencintaiku, setidaknya bisa sisakan sedikit waktu untuk menghubungiku agar tidak terus kepikiran. Sebenarnya, aku ini masih istrinya atau tidak?" balas Cleona dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Cleo, Castin pergi karena ada masalah penting. Masalah yang akan dia selesaikan bukan sembarangan, dia juga bertaruh nyawa. Isu politik yang harus ia tangani, bukan hanya sekedar isu biasa. Kamu harus sabar menunggunya kembali. sebelum Castin kembali, lebih baik kamu fokus pada kesembuhanmu," jelas Nana mengambil jeda. Cleona menyimak dengan baik.
"Semakin cepat kamu sembuh, semakin cepat pula Castin datang menjemputmu," lanjut Nana lagi, ia berusaha menenangkan Cleona.
"Castin menjemputku?" seutas senyuman ringan terbit di bibir ranum Cleona. Sepertinya ia tengah membayangkan dijemput oleh sang suami tercinta.
"Iya, tentu saja Castin akan menjemputmu. Dia pasti akan sangat bangga karena kamu sembuh dengan baik, dia tidak akan khawatir lagi," bujuk Nana.
"Kamu benar, Na. Aku harus sembuh secepat mungkin," tegas Cleona dengan suara lemahnya.
"Benar, sekarang kamu sarapan dulu. Abis itu mandi, dokter pasti sebentar lagi datang dan memeriksa keadaanmu. Kalau sampai dokter melihatmu sedih begini, dia tidak akan membiarkanmu pulang."
Sepertinya Nana berhasil membujuk Cleona. Terbukti Cleona langsung menerima saat ia suapkan bubur yang ia bawa dari rumahnya. Selesai sarapan, Nana membantu Cleona membersihkan diri dan mengganti pakaian. Benar saja, dokter langsung datang setelahnya.
"Bagaimana, Dokter? Saya sudah sembuh, bukan? Luka operasi saya juga tidak sakit lagi," terang Cleona antusias.
Dokter tersenyum kecil, kemudian menganggukkan kepala sambil berkata, "Kondisi nona sudah sang baik, kalau terus bertahan hingga esok pagi, nona akan mendapatkan izin pulang," jelas sang dokter sesuai dengan harapannya, Cleona tersenyum senang.
"Terima kasih dokter," ucap Nana ikut senang akan kesembuhan sahabatnya.
"Sama-sama nona, kalau begitu saya pamit."
__ADS_1
Dokter pun keluar dari ruangan Cleona, Cleona tampak sangat senang karena besok ia akan segera pulang bersama dengan sang suami pastinya. Hampir dua minggu tak bertemu, Cleona sudah sangat merindukan Castin.
"Nana, besok Castin pasti akan menjemputku pulang, kan?" tanya Cleona tak sabaran.
"Tentu saja, tuan Castin pasti akan datang," balas Nana ragu, tapi ia menutupinya dengan senyuman lebar.
"Mau ke taman, tidak?" tawar Nana, Cleona mengangguk cepat. Itulah yang ia tunggu-tunggu, hanya berada di kamar Membuatnya merasa bosan.
Tiba di taman rumah sakit, Cleona tampak begitu bersemangat. Ia terus membayangkan Castin yang begitu ia rindukan.
"Na," panggil Cleona pada Nana yang duduk di sampingnya.
"Iya, ada apa, Cleo? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" sahut Nana cepat.
"Aku tidak ingin apa pun, aku hanya ingin memeluk Castin. Sepertinya, aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku terus memikirkan dan merindukannya setiap saat, bagaimana mungkin aku baru menyadari perasaanku padanya," Cleona mengungkapkan isi hatinya kepada Nana.
Nana menghela napas berat, andai Castin mendengar apa yang Cleona ucap padanya barusan. Maka, Nana yakin Castin akan sangat hancur telah meninggalkan Cleona, istri yang ia sangka tak mencintainya, tapi ternyata sang mencintainya.
"Kenapa? Kamu malu?" Cleona kembali menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa?"
"Aku tidak yakin dia juga mencintaiku," tutur Cleona dengan mata berkaca-kaca.
Nana mengusap wajahnya kasar. Andai Cleona tahu bahwa Castin juga mengatakan hal yang sama. Castin juga ragu apakah Cleona mencintainya.
Castin maupun Cleona sama bodohnya bagi Nana. Sama-sama suka, tapi sama-sama gengsi untuk mengatakan isi hati satu sama lain. Apa sulitnya mengatakan suka kepada orang yang disuka, mengatakan cinta kepada orang yang dicinta.
__ADS_1
Seperti dirinya, yang tak segan-segan mengatakan cinta kepada Dokter Calvin. Bahkan, Nana pernah mengatakan di hadapan sang ayah, kalau dokter Calvin adalah calon suami masa depannya.
Bukankah lebih baik seperti dirinya? Daripada seperti Castin dan Cleona. Sama-sama gengsi dan memegang ego masing-masing. Nana geram sendiri.
"Kalau Castin tidak mencintaimu, mana mungkin dia menikahimu Cleona," tekan Nana geram.
"Dia menikahiku hanya karena—"
"Stop!" tahan Nana bosan mendengarnya. Tak hanya Cleona, tapi Castin juga mengatakan itu padanya.
Cleona pun diam, ia tak lagi melanjutkan ceritanya.
"Kamu mau makan apa? Apa pun hari ini akan aku kabulkan?"
"Es krim apa boleh?" pinta Cleona ragu.
"Khusus untuk hari ini akan aku kabulkan, sebagai perayaan karena besok kamu akan pulang," seru Nana berusaha menghibur.
"Terima kasih, Nana."
"Sama-sama, kamu tetap di sini. Aku tidak akan lama."
"Baiklah," jawan Cleona. Nana pun bergegas pergi untuk membelikannya es krim di minimarket di depan rumah sakit.
Cleona ditinggal seorang diri, ia duduk sambil memejamkan mata, menikmati sinar matahari pagi yang menerpa kulit putih mulusnya.
Cleona menghirup udara menyegarkan di pagi itu. Namun, Cleona langsung membuka mata kala mencium aroma yang tak asing baginya.
__ADS_1
Ketika membuka kedua mata, Cleona dikagetkan dengan seorang pria berpakaian serba hitam yang berdiri tepat di hadapannya.
"Hai Cleona....