
"Kondisi tuan muda Harles kritis, Nyonya."
Bruk!
Ratu Diona pingsan seketika, raja Altan langsung membawa sang istri ke sebuah ruangan untuk diperiksa.
Sementara Anna memeluk Castin, sang kakak tercinta. Bagaimana pun nakalnya sang adik, Anna tetap menyayangi adiknya, Harles. Keduanya tak ingin kehilangan adik tercinta mereka.
Castin tersenyum tipis. Meski kondisi sang adik kritis, tapi setidaknya Harles masih punya sedikit harapan untuk hidup kembali. Castin akan melakukan apa pun itu.
Ketika Harles dipindahkan ke ruang ICU. Castin, Anna, Nana, dan Asisten Helder turut mengikuti.
"Apa dia akan baik-baik saja? Bukankah pendonornya sudah ditemukan?" tanya Castin yang kini sudah berada di dalam ruang ICU bersama dengan seorang dokter yang menangani kasus jantung adiknya.
Castin memang sudah menemukan pendonor jantung yang cocok untuk Harles. Hari di mana dia pergi dan tak menghiraukan Cleona yang memanggilnya meminta pertolongan. Saat itu bukannya Castin tak peduli pada wanita yang sangat ia cintai. Tapi, saat itu Castin harus pergi karena mendapat kabar bahwa pendonor jantung untuk Harles telah ditemukan.
Sang pendonor tak lain adalah salah satu putra keturunan bangsawan yang meninggal karena kecelakaan. Keluarga dari korban mengikhlaskan jantung anaknya untuk diberikan kepada Harles.
"Operasi baru bisa dilakukan bila kondisi tuan Harles stabil. Ada banyak risiko yang akan membahayakan nyawanya bila operasi dilakukan dengan kondisi yang buruk," terang sang dokter membuat Castin mengerti.
__ADS_1
"Sampai kapan kondisinya akan seperti ini?" tanya Castin lagi.
"Kondisi tuan muda Harles memburuk karena dia sendiri yang sudah tidak punya semangat untuk berjuang melawan penyakitnya. Kalau kondisi ini terus berlanjut, saya khawatir tuan muda Harles tidak bisa selamat," terang dokter lagi.
"Lakukan yang terbaik!" tegas Castin serius.
"Tentu, Tuan. Saya dan tim dokter lainnya pasti akan melakukan yang terbaik. Untuk itu, saya minta tolong agar tuan membujuk tuan muda Harles agar tak menyerah. Sia-sia usaha saya dan tim dokter lainnya, bila tuan muda Harles sendiri menolak untuk berjuang," sambung dokter melanjutkan.
Castin menghela napas kasar, kemudian mendekat dan duduk di sebelah brankar Harles. Dokter yang sebelumnya menemani Castin langsung pergi mengundurkan diri. Memberikan ruang untuk Castin dan Harles.
"Bangunlah, Harles. Jangan manja," imbuh Castin menatap serius sang adik yang seluruh tubuhnya dipenuhi alat-alat medis.
"Silahkan pergi, silahkan tidak berjuang untuk hidupmu. Tapi, jangan harap kepergianmu akan membuat Cleona hidup bahagia, dia justru akan semakin menderita," sambung Castin lagi mengambil jeda.
"Karena apa? Karena aku tidak akan menerimanya bila kau pergi, aku dan mama akan sangat membenci Cleona. Kalau bukan karena dia, aku dan mama tidak akan kehilanganmu," ancam Castin.
Castin tersenyum simpul kala melihat setetes air mata mengalir dari salah satu sudut mata Harles. Itu artinya Harles mendengar apa yang ia katakan. Castin pun kembali mengancam Harles.
"Kalau kamu ingin Cleona bahagia hidup bersama pria yang dia cintai. Maka, bangunlah. Ceraikan Cleona agar aku bisa menikahinya lagi," tegas Castin.
__ADS_1
"Bahagiakan Cleona, Kak!" ucap Harles membuka kedua matanya.
Castin tersenyum lebar, kemudian berlari keluar dari ruang ICU untuk memanggil dokter.
Karena kondisi Harles telah stabil. Hari itu juga dia akan segera dioperasi. Oeprasi akan berjalan kurang lebih 5 jam. Castin kembali menunggu di ruang operasi bersama dengan Anna, dan juga Asisten Helder.
Sementara Nana kembali ke ruangan di mana Cleona dirawat.
"Cleo!" seru Nana ketika membuka pintu ruangan.
"Nana, bagaimana, Na? Bagaimana kondisi Harles?" tanya Cleona tak sabaran.
"Harles baik-baik saja, Cleo. Saat ini dokter sedang melakukan operasi transplantasi jantung. Setelah itu, Harles akan sembuh seperti semula," ungkap Nana turut bahagia. Dia senang karena itu artinya Cleona tidak akan lagi disalah-salahkan.
"Syukurlah, terima kasih Tuhan."
.
.
__ADS_1
.