
Keesokkan harinya.
"Bagaimana, Dokter? Saya sudah boleh pulang, kan?" tanya Cleona pada seorang dokter yang tengah memeriksa keadaannya.
"Karena kondisi nona telah pulih sesuai prediksi, hari ini nona sudah boleh pulang. Tapi, masih ada treatment terakhir yang harus dilakukan. Setelah treatment terakhir yang kemungkinan akan dilakukan sore nanti nona sudah diperbolehkan pulang," terang sang dokter tersenyum kecil.
"Jadi selesai treatment terakhir itu saya benar-benar sudah boleh pulang, kan, Dok?" tanya Cleona memastikan, ia tak ingin diberikan harapan palsu.
"Tentu saja, Nona," jawab dokter dengan ekspresi yang sangat meyakinkan.
"Terima kasih dokter," ucap Cleona tulus, dokter pun pamit kembali melanjutkan tugasnya. Setelah kepergian dokter, Cleona dan Nana sarapan bersama-sama.
Sore itu, Nana mengantarkan Cleona hingga masuk ke dalam sebuah ruangan. Sementara Nana menunggu di luar ruangan. Selang beberapa menit kemudian, Cleona keluar dari ruangan dengan di dorong oleh seorang suster.
"Sudah, ya, Cleo?" tanya Nana.
"Iya, Na. Sudah dan kita pulang sekarang!" seru Cleona tak sabaran. Nana hanya merespon dengan tersenyum manis, kemudian mengambil alih kursi roda dan mendorongnya hingga kembali ke ruang rawat inap untuk bersiap-siap pulang.
Cleona membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, kemudian keluar dengan handuk mini yang melingkar di tubuhnya. Saat ini Cleona sedang menggenakan pakaiannya. Sementara Nana membantu memasukkan pakaian Cleona ke dalam tas khusus.
__ADS_1
"Castin bilang apa, Na? Dia akan datang menjemputku, bukan?" tanya Cleona yang telah siap dengan dress polos berwarna pink.
"Sepertinya Castin tidak bisa menjemputmu, Cleo."
"Apa maksudmu, Na. Bukankah kamu bilang dia pasti akan menjemputku?" tutur Cleona dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja Castin sangat ingin menjemputmu. Tapi, barusan Anna menghubungiku, Anna bulang Castin terjebak badai besar yang mengakibatkan pesawatnya harus mendarat darurat."
Mendengar penjelasan Nana, seketika Cleona panik bukan main. "Ya Tuhan, bagaimana keadaan Castin sekarang, Na? Bagaimana kondisi suamiku? Dia baik-baik saja, bukan?" tanya Cleona seketika terisak, ia sangat mengkhawatirkan suaminya tercinta.
"Anna bilang Castin tidak bisa dihubungi karena cuaca menyebabkan tidak adanya sinyal. Tapi, Asisten Helder sudah memeriksanya melalui chip yang ada di tubuh Castin. Castin mengirimkan pesan suara, dia mengatakan kalau dia baik-baik saja dan akan kembali mengudara saat badai besar itu menghilang," terang Nana begitu lancar dan lugas. Tentu saja, ia sudah menghapal scenario itu jauh-jauh hari.
"Sudah, berhentilah menangis. Jangan sampai pulang nanti Castin melihat mata bengkakmu, tuan pasti akan sangat khawatir," bujuk Nana. Tapi berhasil, terbuka Cleona langsung menyeka kasar air matanya.
"Kita pulang sekarang, Na. Aku harus sampai di rumah lebih dulu dari Castin. Aku akan menyambut kepulangannya dengan hadiah spesial," ajak Cleona tak sabaran, Nana penasaran apa hadiah itu.
"Hadiah apa?"
"Aku dan Castin belum melakukan malam pertama," jawab Cleona menutupi wajahnya malu-malu.
__ADS_1
"Maksudmu, hadiah spesial itu adalah dirimu sendiri?" tanya Nana membulatkan mata sempurna.
"Iya, Castin pasti sangat suka, aku sangat ingat saat itu dia sangat antusias," ungkap Cleona tak sabar ingin menyerahkan diri seutuhnya kepada Castin.
Cleona benar-benar telah siap, kali ini ia benar-benar akan melakukannya. Karena Cleona telah menyadari perasaannya terhadap Castin.
Ya, Cleona telah menyadari bahwa dirinya sangat mencintai Castin. Kali ini Cleona pastikan ia akan menyerahkan diri seutuhnya, tanpa paksaan apalagi penyesalan.
"Cleo, kamu baru saja selesai operasi," Nana mengingatkan.
"Lukanya sudah kering dan sembuh total. Lagipula, bukankah kita wanita hanya diam saja, pria yang melakukannya," balas Cleona dengan polosnya.
"Kau benar, kita wanita hanya diam saja," Nana tersenyum kecut.
.
.
.
__ADS_1