Turun Ranjang Castin & Cleona

Turun Ranjang Castin & Cleona
Bab 55 ~ Tamat!


__ADS_3

"Aku ingin tiga anak," ucap Cleona tiba-tiba.


Castin tersenyum menatap Cleona dengan buas. "Tiga kali sehari untuk tiga anak!" seru Castin langsung menerkam Cleona.


"Aaakh!" teriak Cleona kaget. Akan tetapi, ia pasrah ketika Castin menurunkan resleting gaunnya. Castin melempar gaun pengantin Cleona ke sembarang arah.


Cleona memejamkan kedua mata, dengan kedua tangan menutupi bagian sensitif seadanya. Castin menatap tubuh seksi Cleona dari atas sampai bawah. Tatapan mata tajamnya berhenti pada pemandangan indah di bawah sana. Ja kun Castin turun naik karena berkali-kali menelan ludah. Sementara salah satu tangan nakalnya menyingkirkan telapak tangan Cleona yang menutupi pandangannya.


"Castin," panggil Cleona dengan suara serak yang terdengar menggoda ketika sampai ke telinga Castin. Hanya suara, tapi mampu membuat hasrat seorang Castin semakin membuncah.


"Hem," sahut Castin berdehem. Ia kembali mengecup kening Cleona dengan penuh kelembutan.


"Aku berjanji tidak akan menyakitimu, aku akan melakukannya dengan perlahan," bisik Castin membuat tubuh Cleona bergetar karena merinding ketika napas Castin mendarat di telinganya.


Usai berbisik, Castin kembali mengukung dan menatap Cleona dengan mata berkabut nafsu yang amat tinggi. Castin tersenyum, lalu mencium sekilas bibir Cleona yang telah membengkak akibat permainannya yang ahli.


Cleona menghela napas panjang berusaha meyakinkan hatinya yang terus berkecamuk. Sungguh Cleona tak percaya akan kata-kata Castin yang mengatakan tidak akan membuatnya kesakitan. Lihatlah betapa besarnya bongkahan di balik celananya. Cleona sampai bergidik ngeri. Ia yakin pistol air itu telah berubah menjadi senapan yang perkasa, yang siap mengoyak tubuhnya.


"Jika aku mengatakan berhenti, bisakah kamu berhenti?" tanya Cleona memastikan.


"Tentu saja," lanjut Castin dengan yakin. Cleona merasa sedikit lega.


"Boleh aku lakukan sekarang?" Castin meminta izin terlebih dahulu. Cleona menganggukkan kepala walau masih ragu.


Castin tersenyum simpul, kemudian melanjutkan kembali tugasnya yaitu melucuti pakaian Cleona satu persatu. Kacamata besar yang membungkus pepaya jumbo Cleona ia elus dengan penuh kelembutan.


"Apakah masih mengalir asi?" tanya Castin sebelum melepas kacamata yang membungkus pepaya sintal, padat dan kenyal di dalamnya.


Cleona menganggukkan kepala sebagai jawaban. Castin tersenyum simpul, kemudian mulai membuka kancing pengait yang terdapat di belakang tubuh Cleona. Usai pengaitnya terlepas, Castin langsung menyingkirkan kacamata berwarna pink yang busanya setengah basah. Bukannya menutup pepaya jumbonya yang tegak berdiri menantang Castin, Cleona justru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Tanpa berlama-lama, Castin melahap kedua pepaya jumbo milik Cleona dengan buas akan tetapi penuh dengan kelembutan. Cleona berusaha menahan suara erotisnya. Castin benar-benar membuatnya kualahan. Tubuh Cleona bergerak tak karuan ketika Castin melakukan permainan lidah di biji pepaya jumbonya.


"Berhenti," pinta Cleona dan Castin pun berhenti memainkan pepaya jumbo Cleona yang begitu indah. Castin mendiamkan Cleona sesaat, ia membiarkan Cleona mengatur napasnya yang tersengal terlebih dahulu. Ketika Cleona sudah membalik, ia pun mendaratkan bibirnya di bibir sensual Cleona, ia menguasai rongga mulut Cleona sambil memainkan kedua bintik coklat kemerahan milik Cleona.


Puas berpangutan hingga Cleona menggila, Castin pun bangkit, ia melepaskan seluruh kain di tubuhnya hingga ia benar-benar polos. Cleona mengalihkan pandangan, ia takut melihat senapan Castin yang begitu panjang dan besar. Dengan ukuran itu, Cleona tak yakin bisa menyatu dengan tubuhnya.


"Tidak perlu takut, bukankah kita sudah pernah melakukannya? Yang kali ini tidak akan sakit," bohong Castin agar Cleona tak lagi ketakutan padanya. Mendengar perkataan Castin, Cleona sedikit merasa tenang.


Castin pun mulai menurunkan kain terakhir yang membalut bagian inti Cleona. Setelah itu ia lempar kain segitiga berwarna merah muda itu.


Castin tersedia beberapa detik, ia menatap bagian inti Cleona dengan penuh kekaguman. Benda indah itu selalu mampu membuatnya merasa akan gila. Hanya Cleona yang mampu membuat seorang Prince Castin Afson menggila.


"Aahh ..." Cleona langsung menutup mulutnya saat tak sengaja mende sah ketika Castin mengusap bagian intinya dengan lembut.


Castin membuka kedua paha Cleona dengan perlahan, salah satu tangan nakalnya kembali mengusap dengan lembut, Cleona mengigit bibir bawahnya, berusaha menahan suaranya agar tak kembali lolos.

__ADS_1


"Jangan ditahan," kata Castin membuat kedua pipi Cleona semakin memerah.


"Mau apa?" Cleona beringsut mundur kala Castin ingin melahap bagain intinya.


"Nikmati saja, Sayang," ucap Castin benar-benar melahap bagian inti Cleona, ia memainkan titik sensitif Cleona dengan bibir dan lidahnya yang aktif.


Cleona tak lagi sanggup menahan diri, yang keluar dari mulutnya bukan lagi desa han akan tetapi teriakan kenikmatan. Castin memainkannya hingga Cleona berteriak panjang dan mengangkat tubuhnya ke atas. Ya, Castin berhasil membuat Cleona merasakan pelepasan pertamanya.


Tubuh Cleona masih bergetar hebat, ia menutup wajahnya malu. Castin membiarkan Cleona hingga kembali tenang. "Jangan menertawakanku," ucap Cleona yang malu.


"Tidak akan," balas Castin mulai memposisikan diri.


"Aku mulai, ya?" Castin meminta izin terlebih dahulu, Cleona menghela napas panjang, kemudian barulah menganggukkan kepala sebagai jawaban. Castin mulai memposisikan senjatanya di bagian inti Cleona.


"Aahhh ..." lenguh Cleona saat Castin menggesekkan senapannya di bagian inti Cleona.


"Siap?" tanya Castin sebelum memulai aksinya. Cleona yang sudah tak sanggup menahan hasratnya langsung menganggukkan kepala dengan cepat. Castin pun mulai mendorong dengan sangat perlahan. Kedua tangan Cleona sibuk mencari sesuatu untuk digapai guna menetralisir rasa perih di bawah sana.


Castin dengan suka rela memberikan punggungnya untuk Cleona. Kuku-kuku tajam Cleona yang menancap di punggungnya tak membuatnya mengeluh apalagi kesakitan. Sensasi pijat, hangat, dan nikmat di bawah sana membuatnya seakan terbang di udara.


"Ka-mu ber-bo-hong."


"Tidak sakit, bukan?" tanya Castin kala merasakan sensasi ternikmat selama hidupnya.


"Maaf," ucap Castin tak lagi menekan, ia berhenti sesaat, membiarkan Cleona terbiasa dengan kehadirannya. Ia menoleh ke bawah sana, belum ada darah yang mengalir dan senapannya baru masuk kepalanya.


Sementara Cleona berusaha mengatur napasnya, tangannya mengepal punggung Castin dengan erat. Sakit, perih dan rasa mengganjal di bawah sana membuatnya tak sanggup.


"Apa kita lanjutkan lain kali saja?" tanya Castin tak tega melihat Cleona yang kesakitan karenanya.


"Jangan! Lanjutkan saja, aku tidak mau mengulang sakit ini lagi," ringis Cleona lagi, Castin mengusap air mata Cleona dengan lembut, kemudian mendaratkan bibirnya di kening Cleona yang telah basah oleh keringat.


Dengan perasaan tak tega, Castin kembali mendorong dengan perlahan. Cleona memejamkan mata, menahan rasa sakit yang luar biasa. Kuku-kukunya sampai patah kala menahan sakit itu. Castin mempercepat dorongannya, Cleona berteriak tak sanggup. Tapi menggelengkan kepala ketika Castin ingin menyudahi aksinya.


"Apa masih lama?" tanya Cleona pelan.


"Sedikit lagi," jawab Castin menatap Cleona kasihan.


"Cepatlah," pinta Cleona.


"Kamu yakin, Sayang?" Cleona menganggukkan kepala dengan yakin. Castin meminta maaf, kemudian menghentakkan senapannya dengan keras. Cleona menjerit histeris. Castin tak menyerah, ia kembali menghentakkan senapannya.


"Aaarrrgghh!" jerit Cleona panjang, tubuhnya terkulai lemah, hampir ia pingsan. Sementara Castin menatap atap kamarnya, ia menikmati sensasi pijat di bawah sana.


Setelah itu Castin menatap ke bawah sana, melihat senapannya yang telah masuk seutuhnya dengan aliran darah yang membuatnya merasa bersalah pada sang istri tercinta.

__ADS_1


Castin beralih menatap wajah pucat Cleona. Ia mengecup kening, kedua mata, kedua pipi, hidung bibir dan dagu Cleona.


"Maaf, apa kamu baik-baik saja?" tanya Castin dengan napas yang terengah-engah. Cleona tak menjawab, ia hanya menganggukan kepala dengan lemah.


Setelah Cleona kembali baik, Castin mulai menarik dan mendorong kembali senjatanya dengan lembut. Cleona mulai tenang. Sakit yang kini ia rasakan sudah tak separah sebelumnya. Perih yang ia rasakan berangsur menghilang dan digantikan dengan rasa nikmat yang membuatnya menggila. Tubuh Cleona terus menggeliat tak karuan, desa hannya yang menggoda membuat Castin semakin bersemangat.


Entah sudah berapa kali ia mendapatkan pelepasan, tetapi Castin tak kunjung menyudahi aksinya hingga Cleona benar-benar kelelahan.


"Berhenti," ringis Cleona pelan, Castin pun menghentikan aksinya.


"Ah ah ahh ..." Akan tetapi Castin hanya berhenti beberapa detik, setelahnya ia kembali memompa tubuhnya dengan buas.


Begitulah hingga seterusnya, Castin memang menepati janjinya untuk berhenti ketika Cleona memintanya berhenti. Akan tetapi, berhenti yang dilakukan Castin hanya beberapa detik saja. Setelah itu ia kembali menggempur Cleona hingga tak berdaya.


TAMAT!


.


.


.


PENTING!!!


Tenang, pasti ada ekstra partnya. Tapi, author izin mau fokus dulu ke novel baru author yang berjudul UNLUCKY BRIDE. Karena novel UNLUCKY BRIDE ini ikut event/lomba. Terima kasih banyak atas dukungannya, Guys🙏🏻😘😘😘


Novel Terbaru Author!


Sedikit pemberitahuan :


Novel Unlucky Bride (Pengantin yang Malang) adalah kisah baby d. Nama asli baby d adalah Dima Afson. Tapi, sejak beranjak remaja baby d memutuskan untuk menggunakan nama almarhum ayahnya yaitu Allison Jois. Jadi, nama baby d berganti menjadi Allison Jois Afson. Seharusnya sih novel Duren Dokter dulu yang publish. Tapi, karena Unlucky Bride ini ikut lomba. Terpaksa Duren Dokter ditunda dulu.



"Cantik, tubuhnya seksi, perawan pula. Putrimu ini paket komplit, jangankan milyaran, triliunan pun dalam genggaman."


Faylan Laurentika Plavius, gadis penebus hutang yang kemudian dijadikan tumbal sebuah tradisi di kerajaan Oesteria, di mana setiap keturunan bangsawan wajib menjadi duda agar terhindar dari kutukan. Faylan dipaksa menikah dengan seorang pangeran yang arogant dan kejam. Sesuai tradisi Faylan akan diceraikan setelah sebulan menjadi Unlucky Bride.


Allison Jois Afson, pangeran tampan yang sengaja menikahi Faylan dan tak berniat menceraikannya. Apa alasan Allison enggan menceraikan Faylan? Benarkah karena timbulnya perasaan cinta atau hanya ingin membuktikan kebenaran tentang kutukan? Atau ada motif lain di baliknya?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2