Turun Ranjang Castin & Cleona

Turun Ranjang Castin & Cleona
Bab 09 ~ Jemput aku, Kak


__ADS_3

Saat ini, Cleona dan Castin serta baby d, Anna dan Asisten Helder sudah berada di halaman rumah sakit kerajaan.


Cleona dan yang lainnya masuk lebih dulu ke dalam mobil. Sementara Castin tengah menerima telpon dengan seseorang yang sangat penting baginya.


"Ada apa?" tanya Castin singkat.


"Jemput aku, Kak." jawab seseorang di seberang sana.


"Kenapa? Sudah bosan?" tanya Castin.


"Aku ingin pulang, Kak. Cepatlah jemput aku sekarang!" desaknya.


"Baiklah, kakak jemput sekarang. Tunggulah di sana, kakak akan datang."


Castin langsung memutuskan panggilan, kemudian mendekat pada mobil. Castin mengetuk kaca jendela mobil dan jendela pun langsung dibuka oleh Cleona.


"Kenapa tidak masuk?" tanya Cleona penasaran.


"Kamu pulanglah lebih dulu, aku ada urusan sebentar," tutur Castin sambil mengusap pucuk kepala Cleona.


"Baiklah," jawab Cleona dengan ekspresi biasa saja. Justru Castin yang tak rela meninggalkan sang istri tercinta.


"Helder, jaga istri dan putraku," pesan Castin serius.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


***


"Dara!" teriak Elmer yang kaget melihat Dara yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamar mandi, dengan kucuran air yang terus membasahi tubuh polosnya, yang hanya berbalut jas milik Elmer.


Elmer yang panik langsung memeriksa denyut nadi di lengan Dara, kemudian menempelkan jarinya di hidung Dara, ia bernapas lega ketika Dara masih bernapas dan denyut nadinya juga masih normal.


Setelah itu, Elmer bergerak cepat mengangkat tubuh lemah tak berdaya itu, kemudian memindahkannya ke atas ranjang. Dengan perasaan bersalah, Elmer melepaskan jas basah di tubuh Dara, kemudian menyelimutinya agar hangat.


Elmer mengambil sebuah kain, kemudian ia gunakan untuk mengelap wajah Dara yang telah pucat. Elmer meraba ponsel, ia menghubungi sang sahabat, Dokter Calvin.


"Hallo, Tuan Elmer. Ini dengan saya Tina."


"Calvin mana?" tanya Elmer mendesak.


"Tuan Calvin sedang di ruang operasi. Apa ada hal mendesak?" tanya Dokter Tina langsung peka akan situasi yang terjadi kepada Elmer.


"Baik, Tuan. Saya ke sana sekarang."


Sebelum Dokter Tina datang, Elmer lebih dulu memberikan pertolongan pertama kepada Dara. Ia melesat cepat menuju dapur, memasak air hingga hangat, kemudian membawanya kembali ke dalam kamar.


Dengan telaten, Elmer mengompres seluruh bagian tubuh Dara, seperti tangan, dada, perut, kaki, bahkan hingga ke pangkal paha.


Tak lama berselang, Dokter Tina pun tiba. Elmer menyingkir dan menyerahkan Dara sepenuhnya kepada Dokter Tina.


"Bagaimana, Tina?" tanya Elmer khawatir.

__ADS_1


"Syukurlah belum terlambat, tidak terjadi masalah besar. Suhu tubuh nona mulai normal, setelah ini kemungkinan akan mengalami demam tinggi. Saya akan resepkan obat untuk demamnya," tutur sang dokter membuat Elmer menghela napas lega.


Sepersekian detik kemudian, Dara membuka kedua matanya. Elmer sangar antusias, sementara Dokter Tina kembali memeriksa kondisi Dara.


"Bagaimana, Nona? Apa sudah lebih baik?" tanya Dokter Tina ramah, tapi Dara tak merespon pertanyaan dokter Tina. Ia justru fokus menatap Elmer yang berdiri di sebelah dokter Tina.


"Apa yang sudah Tuan lakukan?" tanya Dokter Tina peka atas apa yang pasiennya alami.


"Aku tidak sengaja memperkosanya, Tina. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Elmer frustasi, melihat Dara yang menangis dalam diam, membuat rasa bersalahnya semakin besar.


"Tuan keluarlah dulu, Nona tidak bisa melihat tuan untuk saat ini," usir Dokter Tina mengerti perasaan Dara yang tentu takut melihat Elmer.


"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik untuknya," pesan Elmer sebelum pergi.


"Baik, Tuan."


Elmer langsung keluar dari kamar Dara, ia beralih masuk ke dalam kamar Bik Eny. Elmer menceritakan segalanya tentang apa yang terjadi pada Dara. Ia tak menutupi apa pun. Tapi, Elmer juga mengatakan kalau Dara sedang ditangani oleh Dokter Tina. Bik Eny kembali tenang.


Sedangkan Dokter Tina membantu menenangkan Dara, ia memeluk Dara yang ketakutan. Dara menangis histeris dalam pelukannya. Setelah puas menangis, barulah Dara mulai tenang.


Dara mengatakan kalau pangkal pahanya perih dan ia akan kesakitan ketika bergerak. Dokter Tina memeriksanya, ia kaget kala melihat bagian inti Dara yang memerah dan bengkak. Dokter Tina mengoleskan salep hingga perih yang Dara rasakan sedikit berkurang. Dan Dara kembali terlelap dengan tenang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2