
Sebulan berlalu, ada banyak hal yang terjadi. Termasuk kondisi Harles yang benar-benar telah membaik seperti semula. Usai menandatangani surat perceraian, Harles memilih pergi dari kota Oesteria.
Washington menjadi kota pilihan Harles untuk tinggal dan menetap di sana. Harles memilih tinggal di luar negeri hanya untuk melupakan Cleona, wanita yang sampai saat ini masih menetap di dalam hatinya. Harles butuh waktu lama untuk melupakan Cleona, cinta pertamanya.
Harles juga sengaja tinggal di kota itu karena sang kakak perempuannya, yaitu Anna juga berkuliah di sana. Ya, Anna telah kembali melanjutkan kuliah setelah masa liburannya berakhir.
Karena kedua anak kesayangan tinggal di luar negeri, Ratu Diona dan Raja Altan turut menemani. Setelah kejadian yang hampir membuat mereka gila, keduanya sepakat untuk tak lagi ikut campur tentang apa pun yang Harles pilih.
Semenjak hilangnya Cleona, Castin tak peduli pada baby d. Jangankan baby d, nyawanya sendiri pun Castin tak peduli. Itulah alasan kenapa raja Altan dan ratu Diona membawa baby d bersama mereka tinggal dan menetap di negara Amerika Serikat.
Ratu dan raja memilih fokus menjadi penyokong bagi kedua anak serta satu cucu kesayangan mereka. Bahkan, keduanya memilih turun dari tahta.
Siap tidak siap, mau tidak mau, Castin pun diharuskan naik tahta.
Segala urusan negara Oesteria, kini berada di bawah tanggung jawabnya. Meski sebenarnya Castin tak siap karena sampai detik ini ia tak kunjung menemukan jejak Cleona, wanita yang sangat ia cintai.
Segalanya telah Castin lakukan. Bahkan, rela bekerja sama dengan negara lain hanya agar mereka mau membantunya menemukan Cleona. Tapi, belum juga membuahkan hasil. Castin putus asa, terpuruk, bahkan sangat hancur, tapi rakyat Oesteria membutuhkan dirinya.
Meski dari luar ia tampak baik-baik saja, tapi hatinya telah hancur berkeping-keping. Kehilangan Cleona membuatnya tak semangat menjalani hidup.
Setiap hari Castin terus bekerja guna mengalihkan pikirannya dari Cleona. Castin menjadi pria yang gila bekerja. Jika tidak diingatkan oleh Asisten Helder, maka ia tak akan makan apa pun meski berhari-hari. Tapi hal itulah yang membuat Oesteria semakin maju di tangannya.
Akan tetapi, Castin tidak baik-baik saja ketika malam datang. Di malam hari, Castin akan menjadi pria yang begitu tak peduli, bahkan untuk nyawanya sendiri.
"Tuan, saya mohon cukup. Tuan baru saja keluar dari rumah sakit," tahan Asisten Helder yang begitu sedih akan kondisi tuannya.
"Sebotol lagi!" bentak Castin merebut kembali botol anggur yang sempat asisten Helder ambil. Hanya dengan sekali tegukan, anggur berharga puluhan jutaan itu pun habis tak bersisa.
Praang!
__ADS_1
Castin melemparnya ke sebarang arah.
"Cleona, di mana kamu, Sayang?" gumamnya dengan air mata yang meluncur bebas. Castin duduk bersimpuh di pojok dinding.
Jangan tanya seperti apa rupanya. Lihatlah rambutnya yang gondrong, brewoknya yang semakin tebal, lingkaran mata yang menghitam, serta kulit yang sudah tak terurus.
Sebulan tanpa Cleona, Castin tak lepas dari Alkohol berlebihan, sangat tidak mungkin bila Castin bisa baik-baik saja.
Pecahan beling dari puluhan botol anggur kosong telah berjejer memenuhi setiap sudut kamarnya. Itulah yang Castin lakukan selama sebulan terakhir.
Masyarakat hanya tahu bahwa Castin baik-baik saja. Tapi, sebenarnya tidak.
Beberapa hari lalu Castin dirawat di rumah sakit karena mengidap tukak lambung. Dokter mengatakan, jika Castin tak mengubah kebiasaan buruknya, maka bersiaplah mendengar penyakit lainnya yang sangat mematikan.
Sudah berkali-kali dokter mengingat Castin bahwa mengkonsumsi alkohol secara berlebihan dapat mengganggu fungsi hati dan penyakit mematikan lainnya.
Akan tetapi, Castin tak peduli. Ia terus melakukannya lagi dan lagi. Bahkan, Castin sampai mengancam bunuh diri bila tidak diberikan anggur.
Asisten Helder bangkit, kemudian membukakan pintu kamar hingga tampaklah seorang dokter tampan bertubuh kekar.
"Apa Castin masih melakukannya?" tanya dokter Calvin sebelum masuk.
"Iya, Tuan," jawab Asisten Helder memberi jalan agar dokter Calvin masuk untuk memeriksa keadaan Castin.
"Kalau Cleona melihat penampilanmu yang seperti, dia pasti akan semakin kabur karena jijik denganmu," tutur Dokter Calvin sambil memapah Castin hingga duduk di pinggir ranjang.
Bruk!
Castin menjatuhkan tubuhnya kasar ke atas ranjang. Ia tak lagi punya semangat hidup.
__ADS_1
"Lihatlah betapa buruknya dirimu saat ini?"
"Cleona juga tidak ada, untuk apa aku berpenampilan baik?" sahut Castin tak peduli.
"Kalian bertiga sama saja, tidak ada satu pun yang beres. Devil sibuk dengan para gadisnya, Elmer mendekam di penjara, dan kau seperti ini. Benar-benar hancur," kesal Dokter Calvin. Bagaimana dia tidak kesal, dari semua grup duren bangsawan, hanya dirinya yang tidak berulah.
"Bagaimana kalau aku mati saja?" tanya Castin dengan tatapan kosongnya.
"Jangan gila, Castin. Bagaimana jika setelah kau mati, Cleona ditemukan?"
"Mungkinkah Cleona ditemukan?"
"Tidak ada yang tidak mungkin."
"Kalau begitu buat aku tidur dan memimpikan Cleona," ucapnya tersenyum kecut.
Dokter Calvin menghela napas berat, lalu menyuntikkan Castin sebuah cairan khusus yang akan membuatnya mengantuk lalu tertidur. Ya, Castin tak akan bisa tidur, tanpa suntikan dari dokter Calvin.
"Aku harus pulang, hubungi aku jika terjadi sesuatu padanya," pesan Dokter Calvin.
"Baik, Tuan." balas Asisten Helder.
Setelah kepergian dokter Calvin, asisten Helder memperbaiki posisi tidur tuannya.
"Cleona ... Cleona ..." gumam Castin dengan mata terpejam.
"Saya berjanji akan menemukan nona Cleona untuk tuan."
.
__ADS_1
.
.