
Hoek!
Beberapa hari terakhir, Dara terus mual dan muntah-muntah. Padahal, traumanya perlahan sembuh. Dara tak lagi ketakutan setiap bertemu dengan orang-orang di sekitarnya.
Psikiater yang merawatnya tak lagi menjaganya full time, hanya sesekali datang untuk memberikannya vitamin agar kondisinya semakin membaik. Dara mengira ia mual dan muntah karena efek samping dari kesembuhannya.
Puas meredakan mual dan muntahnya, Dara pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Ya, Dara sudah kembali bekerja sebagai pembantu di rumah Tisya.
Sebenarnya Dara tak ingin bekerja di sana lagi, tapi ia tak punya pilihan lain. Saat ini ibunya dirawat di rumah sakit, Dara membutuhkan banyak uang untuk membiayai pengobatan sang ibu tercinta.
"Ini gajimu, pergi sana," usir ibu tiri Elmer usai memberikan beberapa lembar uang kepada Dara. Dara menerimanya, berterima kasih, setelah itu bergegas menuju rumah sakit untuk langsung menyetorkan uang tersebut.
"Stop, Pak!" bentak Dara sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangan.
Ketika mobil berhenti, Dara pun segera turun, lalu muntah. Beruntung supir taksinya baik dan tak meninggalkan Dara seorang diri.
Setelah merasa lega, Dara pun kembali masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju cepat menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Dara melesat menuju ruangan administrasi untuk membayar biaya rumah sakit ibunya yang masih dirawat.
__ADS_1
"Semua biaya sudah dilunasi, Nona," ungkap perawat membuat Dara mengernyitkan dahinya heran.
"Sudah dibayar?"
"Iya, Nona. Sudah lama dibayar, bahkan untuk satu tahun ke depan," lanjut perawat itu lagi.
"Satu tahun ke depan?"
"Siapa yang membayarnya?" sambung Dara bertanya.
"Di sini tertulis nama Jendral Elmer," jawab sang perawat sambil membaca catatannya.
Selalu muncul perasaan sedih, marah, kesal, dan sesal setiap kali mengingat nama tersebut. Dara sangat membenci Elmer, pria jahat yang telah merenggut mahkotanya yang berharga.
Sampai di depan ruang rawat ibunya, Dara menjatuhkan tubuhnya ke salah satu kursi tunggu di sana. Dara duduk meringkuk, memeluk tubuhnya agar tak lagi merasa sedih.
Pria yang dahulu sering ibunya ceritakan pada dirinya, kini bahkan tak pernah datang menemuinya. Meski kesal dan marah, tapi sesungguhnya Dara hanya ingin kata maaf terucap dari bibir pria tersebut.
Namun lihatlah, pria yang ibunya banggakan itu sama saja brengseknya dengan pria lain di luaran sana. Pria brengsek yang akan pergi begitu saja usai mendapatkan apa yang diinginkan. Satu-satunya hal paling berharga yang Dara punya, hanya Elmer tukar dengan biaya rumah sakit selama setahun. Dara tak kuasa menahan tangis.
__ADS_1
Tak ingin kembali berlarut dalam kesedihan, Dara mengusap air matanya kasar. Bangkit dari duduk, kemudian masuk ke dalam kamar ibunya.
"Ibu!" seru Dara penuh semangat, hanya dengan hitungan detik ia dapat mengubah ekspresi wajahnya di hadapan sang ibu tercinta.
Dara senang karena kondisi ibunya sudah semakin membaik. Ibunya sudah dapat menggerakkan tangan, kepala, dan berbicara walau terbata-bata.
Seperti biasa, Dara menyuapi makan ibunya, memandikan serta mengganti pakaiannya. Setelah ibunya terlelap, barulah Dara pulang kembali ke rumah majikannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Saat baru saja sampai di rumah majikannya, ibu tiri Elmer meminta Dara membangunkan Tisya untuk makan malam.
Tok, tok, tok!
"Nona Tisya," panggil Dara sambil mengetuk pintu kamar.
"Aaarrrgh!"
.
.
__ADS_1
.