
"Uhh, sangat nyaman ... Ahh ...."
Castin yang kaget langsung menarik kembali tangannya.
"Apa tang terjadi?" tanyanya panik.
***
"Kenapa tuan memberikan nona begitu saja?" tanya Asisten Arsya. Tangan kanan kesayangan king Felix.
"Bukan memberikan, aku hanya menguji si brengsek itu saja," jawab king Adelio yang fokus menatap layar cctv.
"Menguji?"
"Kau pikir aku gila sampai membiarkan si brengsek itu menyentuh Cleona sebelum sah? Aku hanya ingin mengujinya saja, awas saja kalau sampai dia mengambil kesempatan dalam kesempitan, jangan harap restu dariku," tegas king Elio dengan gestur yang menyeramkan.
"Itulah alasan kenapa aku memintamu menyiapkan obat tidur," lanjutnya lagi, sang asisten dibuat terperangah.
"O-obat ti-dur...." gumam sang asisten terbata dengan tubuh yang seketika bergetar.
"Iya, obat ti ... Tunggu ... Kenapa Cleona ....
***
"Pa ... nas ... Ahhh ...."
De sah Cleona menggeliatkan tubuhnya gelisah. Kakinya ia hentak- hentakkan, hingga selimut yang menutupinya jatuh bebas ke lantai dingin di bawahnya.
__ADS_1
Ia membelai tubuhnya dengan suara erotis yang terus menggema di telinga Castin. Castin yang kaget segera menjauh beberapa langkah.
***
"Apa yang terjadi!?" bentak king Elio sontak menekan tombol berkedip merah, mensetting layar menjadi sensor hingga yang tampak hanya siluet Cleona dan Castin yang tampak hitam pekat.
King Elio memutar kursinya ke samping, menatap Asisten Arsya yang telah membalikkan badan. "Apa yang terjadi kepada Cleona, Arsya? Obat apa yang kau berikan siapkan sebelumnya?" bentak king Elio murka.
Sebelum menjawab pertanyaan tuannya, Asisten Arsya lebih dulu menjatuhkan tubuhnya, berlutut dengan membelakangi tuannya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya telah membuat kesalahan besar. Tuan hanya menyebut kata obat. Sebab tuan mendukung raja Castin, saya pikir tuan akan memberikan nona kepadanya. Jadi, obat yang saya berikan adalah—"
"Obat Perang sang!?" potong king Elio sambil mengusap kepala frustasi.
"Iya, Tuan. Saya mohon maafkan kesalahan saya," lanjutnya dengan tubuh bergetar ketakutan.
***
Cleona yang sudah tak tahan mulai melucuti pakaiannya satu persatu di hadapan Castin. Melihat hal itu, Castin semakin menjauh, bukannya tak tergoda. Tapi, Castin tak mau membuat Cleona marah lagi padanya.
Apalagi statusnya dan Cleona bukan lagi suami istri. Cleona yang sudah menjadi janda, sedangkan dirinya sudah menjadi duda dua kali. Castin sudah memantapkan hatinya, ia tak akan menyentuh Cleona, sebelum Cleona kembali sah menjadi istrinya.
Usai melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhnya, Cleona bangkit, menatap sayu Castin yang berdiri kaku di ujung pintu sana.
"Tolong, ini sangat tidak nyaman," mohon Cleona dengan pipi yang merah merona.
Castin menelan saliva bersusah payah kala melihat pemandangan indah di depan sana. Sebulan terpisah, sekali bertemu langsung disuguhi pepaya jumbo lengkap dengan aset lainnya.
__ADS_1
Senjata Castin merespon dengan cepat, pusing serta sakit berdenyut membuatnya tak sanggup menahan. Hingga Castin berpikir untuk pergi karena takut khilaf. Akan tetapi, mana mungkin ia sanggup meninggalkan Cleona menderita seorang diri.
Deerrtt....
Saat sedang tegang- tegangnya, tiba-tiba ponsel milik Castin bergetar. Castin meraba dan mengambilnya dari saku jas, nomor tak dikenal menghubunginya.
Castin mengabaikan, akan tetapi panggilan itu masuk lagi. Castin pun terpaksa mengangkatnya.
"Brengsek! Apa yang kau tunggu!" suara bass membentaknya dari seberang sana.
"Siapa anda?" tanya Castin.
"Adelio Artanabil, kakak kandung Cleona Chaves," jawabnya tegas.
"Jadi, denganku benar?" Castin sudah menduga bahwa Cleona bukan gadis biasa mengingat Cleona berdarah bangsawan. Hanya saja, ia tak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Apa maksud anda?" tanya Castin lagi.
"Bodoh! Kau mati kalau sampai terjadi sesuatu pada adikku!"
"Tenang saja, saya tidak akan menyentuhnya," balas Castin yakin.
"BODOH! TIDURI ADIKKU SEKARANG JUGA!"
.
.
__ADS_1
.