Turun Ranjang Castin & Cleona

Turun Ranjang Castin & Cleona
Bab 22 ~ Ingin Dipanggil Suami


__ADS_3

"Aku tidak menginginkan apa pun, Cleona. Aku hanya ingin kamu menepati janjimu." keukeuh Harles tak sedikit merasa kasihan pada Cleona yang bersimpuh di bawah kakinya.


Tanpa dikatakan, tentu Cleona mengerti apa yang Harles inginkan darinya. .


"Maafkan aku, Harles. Aku tetap tidak bisa membalas cintamu, tapi aku akan menepati janjiku untuk menjadi sahabat terbaikmu," tutur Cleona berharap Harles mau menerima takdir dan menyerah mengejar cintanya.


"Aku hanya ingin dipanggil suami olehmu, aku tidak ingin hal lainnya." tegas Harles tetap pada keinginannya.


Lelah dengan kelakuan Harles yang tak kunjung menyerah dan menerima keadaan. Cleona pun segara bangkit, mengusap air mata kasar, kemudian menatap Harles serius.


"Dari dulu hingga saat ini, perasaanku terhadapmu masih sama. Aku selalu menganggapmu sebagai kakak sekaligus sahabat terbaik, tidak lebih. Dan sekarang aku adalah iparmu, yang berhak aku panggil suami hanya dia, kakakmu, bukan kamu," terang Cleona geram.


Harles justru menyeringai tipis, perasaan Cleona semakin tak enak. Ia melihat kiri dan kanan, mencari sosok suaminya yang sepertinya tak akan muncul.


"Kamu bukan lagi iparku, dan kamu bukan lagi istri kakakku," ungkap Harles tersenyum smirk.


"Jangan bercanda Harles, aku adalah istri kakakmu, Castin Afson!" tegas Cleona tak terima.

__ADS_1


"Lalu, ini apa?" Harles mengulurkan sebuah dokumen kepada Cleona.


Cleona yang tak mengerti ragu-ragu menerimanya. Cleona menerima dokumen tebal itu sambil menatap Harles dengan alis berkerut, seakan bertanya benda apa yang Harles ulurkan padanya.


"Buka dan bacalah baik-baik."


Cleona yang penasaran langsung membuka dan membacanya dengan sepasang netra yang mulai berkaca-kaca.


"Tidak, ini tidak mungkin," Cleona menggelengkan kepala tak percaya. Ia kembali menjatuhkan tubuhnya karena lutut yang tiba-tiba melemas tak sanggup menahan bobot badannya.


Cleona bersimpuh di lantai bertabur kelopak bunga mawar, air matanya mengalir begitu deras, dadanya terasa amat sesak. Cleona berharap apa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi buruk belaka.


"Ya, aku tidak boleh percaya begitu saja padanya," Cleona kembali bangkit, menyeka kasar air mata dengan sebelah tangan, kemudian mengeluarkan selembar surat yang tersimpan rapi di dalam dokumen. Cleona membuang dokumen, lalu merobek surat perceraiannya tepat di hadapan Harles.


"Kamu adalah sahabat terbaikku Harles, seharusnya kamu tidak menipuku seperti ini. Aku semakin tak mengenalmu, kamu bukan lagi Harles yang aku kenal," ujar Cleona melempar robekan kertas ke dada Harles.


Harles memejamkan mata, sepersekian detik kemudian, seringai'an mengerikan terbit di bibirnya. Cleona waspada, takut Harles melakukan sesuatu padanya. Apalagi saat ini ia hanya berdua berada di dalam kamar yang sama.

__ADS_1


"Karena kamu bukan kakak iparku lagi, jadi kamu harus ikut aku sekarang!" Harles meraih pergelangan tangan Cleona, kemudian menyeret Cleona keluar dari kamar.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku Harles!" Cleona terus berontak, tapi Harles tak melepaskannya dan terus menyeretnya hingga tiba di ruangan yang di dalamnya sudah ada seorang pendeta.


"Apa yang ingin kamu lakukan, Harles!? Lepaskan aku! Aku ini iparmu! Tolong!" teriak Cleona dengan suara sekencang mungkin. Namun, sayangnya tak ada satupun yang datang untuk menolongnya. Meski begitu, Cleona tetap berusaha melepaskan diri dari cengkraman Harles.


"Mukai, Pak!" desak Harles yang berhasil membawa Cleona berdiri di hadapan seorang pendeta.


"Tidak, Pak! Jangan lakukan, saya adalah iparnya, kakaknya adalah suami saya. Saya adalah wanita yang sudah bersuami, saya mohon jangan lakukan," mohon Cleona dengan air mata yang sudah membanjir pipinya.


"Lanjutnya, Pak!" sambung Harles tegas.


"Baik, Tuan."


"CASTIN!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2