
"Ngamar, yuk," bisik Castin mendapat cubitan dari Cleona. Castin hanya berpura-pura meringis kesakitan, padahal cubitan jemari kecil Cleona mana mungkin menyakiti perutnya yang dipenuhi otot-otot yang besar dan keras.
Nana senyum-senyum tak jelas, tentu Nana mengerti apa yang Castin bisikan kepada Cleona. Sementara Dara hanya menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Aku masih mau berbincang dengan Nana dan Dara," Cleona membuat alasan sebagai penolakan. Menolak bukan berarti tidak ingin melayani suaminya sendiri, akan tetapi karena situasi dan kondisi yang tidak tepat.
Meski ia banyak mengalami perubahan, tentu saja Cleona masih punya rasa malu. Tidak seperti Castin yang akan melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa memikirkan tanggapan orang lain.
"Sambung di lain waktu saja!" seru Castin langsung menggendong Cleona ala bridal dan membawa Cleona menuju kamarnya di lantai atas. Nana dan para sahabat Castin hanya bersorak heboh. Sementara Cleona hanya menutup wajahnya karena malu.
Saat tiba di dalam kamar, barulah Castin meletakkan Cleona ke atas ranjang dengan sangat berhati-hati.
"Mau ke mana?" tahan Castin saat Cleona akan bangkit.
"Sebentar saja."
"Iya, tapi mau ke mana?"
"Ke kamar mandi," jawab Cleona cepat dengan kedua pipi yang sudah sangat memerah.
"Aku temani," sahut Castin turun dari ranjang. Sementara Cleona membulatkan matanya mendengar ucapan Castin.
"Kenapa? Ayo kita ke kamar mandi bersama," Castin meraih pergelangan tangan Cleona.
"Aku bisa sendiri Castin."
"Tapi aku tidak bisa sendiri," seketika Cleona menjadi bingung.
"Tunggulah di sini sebentar, aku tidak akan lama," Cleona langsung melesat menuju kamar mandi tanpa sempat Castin tahan lagi. Castin menghela napas panjang, ia mengelus dadanya untuk tetap sabar.
Sedangkan di dalam kamar mandi Cleona terlihat panik, ia sangat takut untuk menyerahkan diri kepada Castin.
Tok, tok, tok!
Ketukan pintu dari luar sana membuat Cleona kaget. "Apa kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Castin di luar sana.
"Iya, aku baik-baik saja," balas Cleona cepat.
"Apa masih lama? Kita harus berdiskusi terlebih dahulu."
"Diskusi apa?" sahut Cleona penasaran.
__ADS_1
"Nanti kamu juga akan tahu, aku akan menunggumu di ranjang," suara Castin terdengar menjauh karena sepertinya ia sudah melangkah menuju ranjang.
Di dalam kamar mandi Cleona terus berperang dengan hatinya. Gadis mana yang tidak takut saat akan melakukan malam pertama? Apalagi segala pemikiran buruk terus memenuhi pikirannya.
Akan tetapi, diskusi yang Castin katakan membuat Cleona sangat penasaran. Hingga akhirnya Cleona pun memilih keluar dari kamar mandi dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuh seksinya.
Saat tiba di luar, Cleona menaikkan pandangan. Dan pandangan pertama yang ia lihat adalah Castin yang sudah bertelanjang dada di atas ranjang. Cleona meneguk saliva bersusah payah.
"Kemarilah," titah Castin sambil menepuk kasur di sampingnya. Dengan ragu Cleona melangkah perlahan, kemudian duduk di pinggir ranjang, tepatnya di samping Castin yang terbaring dengan kepala bersandar di kepala ranjang.
"Berbaringlah," dengan lembut Castin membaringkan kepala Cleona di lengannya yang kekar.
"Astaga, kenapa gugup begini? Tadi tidak begini. Ayolah Cleona, ayo lakukan sesuatu, berhenti menjadi Cleona yang lemah," Cleona berperang dengan batinnya. Berat baginya menghadapi Castin yang terlihat seperti seekor singa kelaparan yang siap menerkam dan mencabik-cabik tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Castin heran dengan gelagat Cleona yang agak aneh.
"Kapan diskusinya dimulai?" tanya Cleona kembali duduk dengan posisi semula dan tak lagi bersandar di lengan kekar suaminya.
"Sudah tidak sabar, ya?" ledek Castin mendekat pada Cleona. Cleona pun reflek beringsut mundur, tapi Castin kembali maju dan langsung meraih pinggang ramping Cleona sebelum terjatuh dari ranjang.
"Tunggu ... Diskusi seperti apa yang kamu maksud?"
"Sial! Dia menjebakku!" batin Cleona yang kesal karena Castin berhasil menjeratnya.
"Tunggu, jangan sekarang. Bagaimana kalau aku mandi dan ganti pakaian dulu?" Cleona menahan dada bidang Castin dengan kedua telapak tangannya. Otot-otot besar dan keras itu justru membuat jantungnya berpacu semakin cepat. Berada di hadapan Castin membuat Cleona merasa takut, ia seakan lupa bahwa dirinya bahkan sudah bisa menggunakan alat tembak.
"Tidak perlu mandi, aku suka wangi dan rasa asli dari tubuhmu," balas Castin memeluk Cleona dengan erat, gelagatnya jelas seperti seorang pria yang bernafsu tinggi. Cleona kembali menelan saliva dengan kasar.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Cleona panik.
"Tunggu!" Cleona menutup bibir Castin dengan salah satu telapak tangannya.
"Tunggu apalagi, Sayang? Kapan mulainya ini?" Meski geram karena Cleona terus mengulur waktu, tapi Castin tetap bisa mengontrol diri dan bertanya dengan lembut kepada sang istri tercinta. Karena bagaimana pun, Castin mengerti bagaimana perasaan istrinya saat ini.
"Bagaimana ... Bagaimana kalau kita bicarakan tentang anak terlebih dahulu sebelum melakukannya?" Cleona menemukan ide cemerlang.
"Anak?"
"Iya, anak. Bukankah kita harus bicarakan terlebih dahulu?" balas Cleona cepat.
"Kalau soal anak kamu tidak perlu khawatir, Sayang. Aku pergi gym setiap hari. Aku sangatlah kuat, berapa pun anak yang kamu mau, aku siap membuatnya," ucap Castin dengan bangganya, Cleona sampai tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Sa-sangat ku-at?" lanjut Cleona terbata-bata.
"Ya, aku pasti akan membuatmu puas. Dua puluh sentimeter, Sayang." ujar Castin tersenyum bangga. Cleona semakin ketakutan.
"Tidak perlu takut, Cleona. Aku pasti akan melakukannya dengan perlahan," melihat ekspresi Cleona membuat Castin menyesal telah menakut-nakutinya.
"Apa tidak bisa ditunda dulu?" mata Cleona sudah berkaca-kaca. Menghadapi senjata milik Castin lebih menakutkan dibandingkan pertama kali diajari menembak oleh sang kakak.
"Maaf, Sayang. Tapi, aku sudah tidak bisa menahannya lagi," Castin langsung menekan lembut hingga membuat Cleona terbaring tak berdaya di bawah kukungannya.
"Castin, aku benar-benar takut."
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu," balas Castin berusaha meyakinkan Cleona.
Cleona langsung memejamkan mata ketika wajah Castin semakin mendekat dengan wajahnya. Cleona terdiam seribu bahasa ketika sesuatu yang kenyal dan hangat mendarat di bibirnya. Cleona sedikit merasa lega karena Castin benar-benar menepati janjinya. Castin mengecup bibir atas dan bawah Cleona dengan penuh kelembutan.
Kelembutan itulah yang membuat Cleona terbuai hingga ketegangan yang tadi ia rasakan sedikit berkurang. Cleona menikmati sentuhan-sentuhan Castin yang penuh kasih sayang. Hingga tanpa sadar Cleona telah mengalungkan kedua pergelangan tangannya di leher kekar Castin.
Tahu Cleona sudah mulai berhasrat, Castin langsung melepaskan pangutan hangatnya. Ia sengaja menggunakan trik tarik ulur agar Cleona merasa lebih tenang menghadap dirinya. Castin berusaha mengontrol nafsunya demi memuaskan sang istri tercinta.
Castin tersenyum manis, Cleona menatapnya tak puas. Ya, Cleona menginginkan sensasi nikmat seperti tadi. Castin sangat pandai menyentuh titik terlemahnya.
Cleona menghirup oksigen dengan rakus, ia menatap Castin dengan heran. Hasrat yang mulai membuncah membuatnya tanpa sadar menarik tengkuk Castin dan melakukan apa yang tadinya Castin lakukan kepada dirinya. Masa bodoh dengan harga diri, Cleona tak sanggup menahan dirinya. Castin mampu membuatnya tergila-gila.
Di dalam hati Castin bersorak gembira, ia membiarkan Cleona memimpin permainan terlebih dahulu. Saat Cleona akan melepaskan pangutannya, saat itulah Castin beraksi. Ia melu mat bibir Cleona dalam, Castin menguasai rongga mulut Cleona hingga membuat Cleona semakin menggila akan sentuhan lembutnya yang bergairah.
"Emm," lenguh Cleona tanpa sadar saat Castin meng hisap, meng ulum, dan mengigit lembut bibir Cleona.
Hampir satu menit pangutan itu terjadi, hingga akhirnya Castin melepaskan Cleona yang hampir kehabisan napas. Castin menatap Cleona penuh cinta, kemudian ia mengecup kening Cleona dengan penuh kasih sayang. Cleona juga membalas tatapan Castin, netra keduanya saling bertautan erat.
"Aku ingin tiga anak," ucap Cleona tiba-tiba.
Castin tersenyum menatap Cleona dengan buas. "Tiga kali sehari untuk tiga anak!" seru Castin langsung menerkam Cleona.
"Aaakh!"
.
.
.
__ADS_1