Turun Ranjang Castin & Cleona

Turun Ranjang Castin & Cleona
Bab 14 ~ Hidup Segan Mati Enggan


__ADS_3

"Aku setuju, lakukan apa pun agar Cleona sembuh," ucap Castin putus asa sambil memejamkan mata, hingga buliran bening meluncur bebas tanpa ia sadari.


Semasa hidupnya, menceraikan lalu memberikan Cleona kepada adiknya sendiri adalah keputusan paling berat yang Castin ambil.


Tapi, Castin tak bisa berbuat banyak. Kehilangan nyawa sekalipun akan ia lakukan untuk Cleona, apalagi hanya menyakiti dirinya sendiri, dengan cara menceraikan sang istri yang baru dinikahinya.


"Berjanjilah," pinta Harles.


"Aku berjanji akan menceraikan Cleona setelah sembuh nanti!" tegas Castin hanya dengan sekali tarikan napas.


"Aku pegang janji kakak," balas Harles kemudian masuk kembali ke dalam ruang operasi. Meninggalkan Castin yang langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai rumah sakit.


***


Entah sudah berapa jam waktu berlalu, tapi Castin masih tetap duduk bersimpuh di depan ruang operasi. Tanpa makan dan juga tanpa minum. Makan siang dan makan malam ia lewati, tak ada seorang pun yang berani menanyakannya. Termasuk Asisten Helder yang selalu setia di sisinya. Sementara Nana telah dipindahkan ke ruang rawatnya.


Penampilan Castin saat ini amatlah berantakan. Mata sipit dengan netra biru itu telah bengkak, rambutnya tak lagi rapi seperti biasanya, wajahnya kusam tak terurus. Tak lagi ada prince Castin yang tampan bak pangeran disney, yang hanya adalah seorang Castin yang hidup segan mati tak mau.


Belum dua puluh empat jam tanpa Cleona, tapi Castin sudah sehancur itu. Tak bisa dibayangkan akan jadi apa seorang Prince Castin Afson bila hidup tanpa sang istri selamanya. Sanggupkah ia bertahan?


Ceklek!


Pintu ruang operasi terbuka, dua brankar sekaligus didorong dan dipindahkan ke ruang icu untuk pemulihan.


Castin segera bangkit dan bertanya, "Bagaimana, dokter?"

__ADS_1


"Operasinya berjalan lancar, Tuan."


Castin menghela napas lega, kemudian berlari menuju ruang icu. Castin masuk bersama dengan seorang dokter, melihat sang adik dan sang istri terbaring lemah di atas brankar membuat Castin tak kuasa menahan tangis.


"Kenapa alat di tubuh Harles lebih banyak?" tanya Castin penasaran. Bagaimana pun, Harles tetaplah adik kesayangannya.


Dokter diam beberapa saat, kemudian menjawab, "Memang sudah seharusnya begitu, Tuan. Penanganan dan perawatan untuk pendonor dan penerima sedikit berbeda."


Castin percaya tanpa curiga, "Kapan mereka berdua akan sadar?" tanya Castin sambil menatap wajah pucat Cleona. Sebenarnya masuk ke ruangan pun tidak boleh. Karena Castin seorang Prince, maka ia dibolehkan walau dilarang menyentuh dan hanya diizinkan melihat dari jarak yang ditentukan.


"Siang nanti, nona Cleona dan tuan muda Harles akan dipindahkan ke ruang rawat inap, kemungkinan besok akan langsung sadarkan diri. Tapi, keduanya masih harus dirawat dan dipantau kondisinya, setidaknya selama seminggu ke depan," jelasnya.


Castin senang mendengarnya, walau ketika sang istri sembuh nanti, ia akan mengambil keputusan yang sangat berat dalam hidupnya, yaitu menceraikan Cleona.


Castin turut mengantarkan sang istri hingga tiba di ruang rawat inap, tepatnya bersebelahan dengan ruang rawat inap Anna dan ratu Diona serta raja Skylos.


"Tuan,"panggil Asisten Helder sambil mengulurkan makanan untuk Castin.


"Letakkan saja dulu," jawab Castin tak beranjak dari tempatnya. Ia masih duduk di kursi di samping brankar Cleona. Castin terus memandangi Cleona dengan tatapan kosong.


"Tapi, taun—"


"Keluar!" usir Castin. Asisten Helder pun terpaksa keluar dari ruangan.


Siang berganti senja, senja berganti malam, malam berganti pagi. Tapi, Castin masih tetap di posisi semula. Sudah dua hari ia benar-benar tak menyentuh makanan dan juga minum. Wajahnya sudah memucat, bahkan lebih pucat daripada wajah Cleona.

__ADS_1


Raja Altan sudah berusaha membujuk Castin, tapi tak juga membawakan hasil. Ia tahu apa yang terjadi, tapi tak bisa berbuat banyak. Castin maupun Harles sama-sama adalah putra kesayangannya. Raja selalu berada di tengah-tengah.


Membandingkan-bandingkan Harles dengan Castin, hanyalah sebuah cara agar Harles mau berubah.


Sementara ratu Diona memilih menemani Harles yang baru dipindahkan dari ruang ICU. Kondisinya baru saja membaik setelah sempat memburuk. Begitulah kasih sayang seorang ibu, seburuk apa pun yang anaknya lakukan, seorang anak tak pernah buruk di mata ibunya.


Pengorbanan Harles dalam menyelamatkan Cleona, layak mendapatkan pujian dari seorang ibu yang sangat menyayanginya. Harles beruntung memiliki ibu seperti ratu Diona. Yang tetap membela sang putra, di saat seisi dunia hanya memandang sisi buruk dari kebaikan yang dilakukan.


"Bagaimana, Dokter? Kenapa Istriku belum sadarkan diri?" tanya Castin yang sudah seperti robot. Tubuh dan ekspresi amat kaku. Bila tak melihat dengan jeli, ia tak akan lagi dikenali.


"Semuanya baik, Tuan. Seharusnya nona sudah sadarkan diri," jawab sang dokter sambil memeriksa Cleona.


"Tapi kenapa belum?" desak Castin dengan ekspresi datarnya.


Sepersekian detik kemudian, jemari Cleona bergerak perlahan. Castin melihatnya, ia tersenyum bahagia.


Saat Cleona membuka kedua mata, Castin pun ....


Brukk!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2