
Beberapa jam berlalu, Nana kembali membawa kabar bahwa operasi Harles berhasil. Cleona tersenyum senang mendengarnya.
"Kamu mau ke mana, Cleo?" tanya Nana saat Cleona akan turun dari brankar.
"Pulang, Na. Sudah saatnya aku pulang," jawab Cleona telah menjuntaikan kedua kakinya.
"Pulang ke mana?" tanya Nana menahan Cleona.
"Tentu saja pulang ke rum—" Cleona tak melanjutkan ucapannya, kala mengingat bahwa ia tak punya rumah untuk tempat kembali.
"Pikirkan baik-baik dulu, Na. Tetap di sini, sebentar lagi Castin akan datang untuk menjengukmu," imbuh Nana masih menahan sang sahabat.
"Karena itulah aku harus cepat pergi sebelum dia menjengukku," Cleona telah turun dari brankar, berpegangan pada pinggir brankar untuk menyeimbangkan tubuhnya yang masih lemah.
"Apa maksudmu?" tanya Nana tak mengerti.
"Aku tetap manusia meski Castin pungut di jalanan. Aku bukan barang yang bisa dimainkan sesuka hati. Dinikahi, kemudian diceraikan. Dinikahi pria lain, kemudian diceraikan lagi, lalu dipungut lagi, setelah itu dinikahi lagi. Aku capek, Na. Terlepas dari semua masalah ini, aku ingin pulang dan hidup dengan tenang," ungkap Cleona dengan air mata yang mengalir. Nana mengerti bagaimana perasaan Cleona saat ini.
"Apa hidupmu akan tenang tanpa Castin maupun Harles?" tanya Nana memastikan.
"Iya." tegas Cleona yakin.
"Lalu bagaimana dengan baby d?" lanjut Nana lagi.
"Aku rasa semua pengorbananku untuknya sudah cukup. Dia sudah berada di tangan yang tepat, tidak di tempat sampah lagi. Tugasku sudah selesai, Na. Izinkan aku pergi dan hidup dengan tenang," pinta Cleona memohon pada sang sahabat.
__ADS_1
"Baiklah, aku antar kamu pulang ke rumahku," pada akhirnya Nana menuruti keputusan Cleona. Ia hanya berharap Castin tidak memotong gajinya.
"Terima kasih, Na." Cleona memeluk Anna dengan erat.
Sore menjelang malam itu, Cleona menunggu di suatu tempat yang aman. Sementara Nana pergi mengambil motor miliknya. Setelah itu Nana menjemput Cleona.
Nana membawa Cleona keluar dari kawasan istana kerajaan dengan mengendap-endap. Berkat kemampuannya, Nana berhasil membawa Cleona kembali ke rumahnya yang sederhana.
"Ayahmu masih di rumah sakit, Na?" tanya Cleona duduk di pinggi ranjang milik Nana. Ranjang rapuh yang bila dinaikin akan bersuara.
"Iya, Cleo. Ayahku masih di rumah sakit, Dokter Calvin yang menangani penyakit ayahku," jawab Nana tersenyum penuh arti kala menyebut nama dokter Calvin.
Cleona tahu bahwa sahabatnya itu menyukai dokter Calvin. Cleona berharap Nana tidak tahu bahwa dirinya adalah pasien dokter Calvin.
"Terima kasih, Na."
"Sama-sama."
"Oh iya, Cleo. Kalau Castin menanyakanmu, aku harus bilang apa?" lanjut Nana bertanya.
"Bilang saja aku pergi kabur melarikan diri," jawab Cleona asal.
"Kamu gila, Cleo. Kamu mau melihatku dihukum pancung?"
Cleona langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku bilang saja bahwa kamu ada di rumahku. Tapi, kamu tidak mau ditemui siapa pun karena sedang menenangkan diri dan butuh waktu sendiri," jelas Nana.
Cleona menganggukkan kepala setuju, kemudian berkata, "Tapi, pastikan dia benar-benar tidak menemuiku."
"Siap, tenang saja. Aku pastikan dia tidak akan menemuimu."
"Kamu aku tinggal tidak apa-apa, kan? Aku harus ke rumah sakit menjenguk ayah," sambung Nana lagi.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Semoga ayahmu cepat sembuh," balas Cleona mengizinkan.
"Ya sudah, aku tinggal sebentar. Aku tidak akan lama dan akan segera pulang."
Setelah kepergian Nana ke rumah sakit dengan motor matiknya. Cleona pun segera mengunci pintu rumah dan membalikkan badannya.
Tubuh Cleona seketika mematung kala melihat sesosok pria berpakaian serba hitam yang ada di hadapannya saat ini.
"Hai, Cleona."
.
.
.
Hayuk ditebak siapa sosok misterius itu🙌
__ADS_1