
"Castin mana?" tanya Cleona dengan suara lemahnya pada sang sahabat yaitu Nana.
Nana tertegun, untuk pertama kalinya Cleona menanyakan keberadaan sang suami, biasanya yang lebih dulu ia tanyakan pasti baby d.
"Na," panggil Cleona lagi, membuat Nana sadar dari lamunannya.
"Tuan Castin ... Oh iya, Tuan Castin sedang ada meeting penting yang harus dihadiri," bohong Nana membuat alasan.
"Benarkah? Meeting sangat penting?" balas Cleona sedih. Kenapa Castin tega tidak menemaninya di saat ia tengah berjuang antara hidup dan mati.
"Astaga, bagaimana ini? Sepertinya aku salah bicara?" batin Nana bingung.
"Cleo, kamu tidak boleh berpikir yang macam-macam. Tuan Castin pasti sangat ingin menemanimu dan berada di sisimu. Tapi, kamu harus ingat. Suamimu itu adalah seorang calon raja, dia bukan hanya milikmu, tapi juga milik seluruh masyarakat Oesteria," terang Nana akhirnya menemukan alasan untuk membujuk Cleona.
"Iya, kamu benar, Na. Aku tidak berhak atasnya, walau dia adalah suamiku," balas Cleona masih sedih. Nana dibuat frustasi.
"Bukan seperti itu, Cleo."
"Memang harusnya seperti itu, Na. Aku hanyalah seorang gadis biasa yang dinikahi agar baby d mendapatkan keluarga yang lengkap. Coba kalau aku tidak menemukan dan merawat baby d, aku tidak mungkin pantas berada di tempat ini," Cleona mengalihkan pandangan ke samping, air mata seketika mengalir.
__ADS_1
"Astaga, apa semua orang jadi sedih setelah dioperasi?" batin Nana semakin frustasi.
"Cleo, tuan Castin menikahimu karena memang dia sangat mencintaimu. Sudah, tidak perlu dipikirkan lagi. Lebih baik sekarang kamu istirahat, agar luka bekas operasimu cepat kering dan sembuh," Nana menyelimuti sahabatnya itu.
"Baby d bagaimana?" tanya Cleona.
"Pikirkan dirimu sendiri, baby d aman, ada banyak pelayan yang merawatnya. Sekarang pejamkan matamu dan tidurlah," paksa Nana geram. Cleona pun terpaksa memejamkan matanya.
***
"Jangan sentuh aku!" bentak Castin melarang setiap dokter yang ingin memasangkan infus.
"Castin, jangan seperti anak kecil! Kau itu calon penerus papa, jangan membuat papa malu!" bentak raja Altan murka.
"Sudah, biarkan dia sendiri! Kalian semua keluar dan jangan coba-coba membantunya! Termasuk kau Helder!" tunjuk raja Altan pada setiap dokter dan juga Asisten Helder.
"Keluar semuanya! Biarkan dia sendiri!"
BRAK!
__ADS_1
Pintu ditutup kencang oleh raja Altan. Kali ini ia benar-benar murka akan tingkah Castin yang begitu kekanak-kanakan baginya.
Semua dokter, suster, mantri, termasuk raja Altan pergi dari ruang rawat Castin. Hanya asisten Helder yang setia menunggu di depan ruangan tuannya.
Hatinya ikut teriris kala mendengar tangisan pilu tuannya di dalam sana. Dua hari tak makan maupun minum, bahkan melarang siapa pun yang ingin memberinya obat.
Castin benar-benar hancur. Ia tak bisa hidup tanpa Cleona. Tapi, Cleona tak bisa hidup bila Castin memilih berada di sisi istrinya. Menjauhi Cleona adalah pilihan paling berat dalam hidupnya. Semua orang marah padanya, semua orang tak mengerti betapa hancurnya dia.
Hanya asisten Helder yang mendukung keputusannya, hanya asisten Helder yang mengerti perasaannya, hanya asisten Helder yang tahu betapa besarnya cinta serta kasih sayang yang Castin miliki untuk Cleona.
Beberapa jam berlalu, sudah tak lagi ada suara tangisan dari dalam sana. Masa bodoh dengan peraturan yang raja Altan buat.
Demi tuannya, Asisten Helder melanggar aturan tersebut. Ia langsung masuk ke dalam ruangan, kemudian memasang infus ke tangan tuannya, itulah asisten Helder. Apa pun bisa ia lakukan.
Usai memasang infus, Asisten Helder membenarkan posisi tuannya. Ia menjaga dan merawat tuannya dengan baik.
"Cleo ... Na ...." ucap Castin pelan dengan mata terpejam. Asisten Helder menghela napas berat. Ia tak bisa melakukan apa pun. Ia merasa tak berguna.
.
__ADS_1
.
.