
Prang!!
Citra membanting botol parfumnya ke lantai sekuat tenaga dengan kesal, yang seketika aroma harum parfumnya langsung menguap memenuhi kamarnya.
Ibunya yang di ruangan tengah kebetulan sedang duduk menikmati teh dan sepotong kue lapis surabaya kesukaannya tampak terkejut mendengar suara barang pecah di kamar Citra.
Ibu menghela nafas,
Apalagi ini? Batin Ibu.
Ibu pun terpaksa berdiri dari duduknya, dibawanya langkah kakinya menuju depan pintu kamar putrinya, lalu ...
"Citra... Citra..."
Ibu memanggil Citra dari depan pintu kamar, sambil mengetuknya beberapa kali.
Citra yang di dalam kamar terlihat tengah terduduk di tepi tempat tidur dengan nafas tersengal karena menahan amarah terlihat menatap pintu kamarnya di mana di depannya kini ada Ibunya.
Citra menghela nafas, mencoba menenangkan diri sejenak.
Setelah merasa lebih baik, barulah ia berdiri dan melangkah menuju pintu untuk membuka pintu kamarnya menemui Ibu yang semakin panik karena tak ada sahutan dari Citra sedangkan pintu kamar juga terkunci.
Ibu yang sebelumnya berusaha membuka pintu kamar dari luar namun tak bisa-bisa, begitu pintu dibuka oleh Citra tampak sedikit memundurkan diri.
Citra menatap Ibunya, matanya sedikit sembab, tapi bukan Citra jika menangis terlalu lama.
"Ada apa? Ibu dengar ada suara sesuatu pecah atau apa."
__ADS_1
Ibu tampak sekali khawatir.
Citra yang enggan membahas apapun memaksakan diri tersenyum,
"Tidak ada apa-apa Bu, hanya parfum tidak sengaja kesenggol tangan Citra tadi, jadi pecah."
Bohong Citra, yang pastinya terlalu mustahil botol parfum bisa jatuh langsung pecah.
Tapi...
Ibu yang sudah tahu Citra pastinya tak akan semudah itu bercerita apapun padanya hanya memilih diam saja.
Memaksa Citra untuk bercerita pun tak ada guna, sudah jelas anak itu tak akan pernah mengatakan apapun, apalagi jika itu menyangkut suaminya.
Ya...
Suami pilihan Citra sendiri, yang di mana sudah mendapat pertentangan dari Ayah dan Ibunya tapi tetap saja ia nekat menikah dengan pemuda itu karena alasan klise.
Cinta.
Ya Cinta.
Alasan yang selalu digunakan anak-anak muda untuk menikah hidup bersama hingga maut memisahkan.
Tapi nyatanya, banyak orang menikah karena cinta yang akhirnya memilih untuk berpisah di saat pernikahan kadang baru berusia hitungan jari.
"Bagaimana suamimu? Apa dia sudah dapat tempat tinggal sekarang?"
__ADS_1
Tanya Ibu pula, ketika Citra akhirnya memilih keluar dari kamar untuk mengambil minum.
"Sudah."
Sahut Citra tampak menoleh apalagi berhenti sebentar demi menjawab pertanyaan Ibu dengan lebih baik.
"Baguslah, semoga bukan kontrakan kecil yang hanya satu pintu saja, bisa-bisa nanti kamu kalau ke sana juga tidak tahu harus tidur di mana."
Ujar Ibu sambil kembali ke tempatnya semula duduk.
Citra menghela nafas, sudah biasa ia mendengar kata-kata sinis Ibunya soal Nathan, suaminya, tapi yang biasanya Citra akan membela Nathan, kini perempuan itu hanya memilih diam.
Malas.
Ia tak berniat membela meskipun hatinya masih tetap teriris juga mendengar kata-kata Ibu.
Ibu terlihat mengikuti Citra dengan tatapan matanya,
Rasanya masih sulit ia mengerti bagaimana bisa anaknya yang cerdas sejak kecil tiba-tiba jadi bodoh begitu memilih pasangan.
Apa yang bisa dibanggakan dari Nathan selain wajah tampannya saja? Ia anak orang biasa, karirnya biasa, bahkan sekolah juga dari universitas biasa yang juga jauh di bawah Citra.
Ibu menggelengkan kepalanya.
Masih bagus mungkin jika anaknya itu selama menikah terlihat bahagia. Melihat hari ini matanya sembab saja, Ibu sebagai orangtua rasanya jadi makin kesal saja.
**-------------**
__ADS_1