
"Mau pulang sekarang Pak Nathan?"
Tanya salah satu staf yang berpapasan dengan Nathan di pintu keluar ruangannya,
Staf tersebut hendak meminta tanda tangannya,
Nathan tampak mengangguk, ia seperti terburu-buru,
Bukan apa-apa sebenarnya, tapi ia melihat dari kaca ruangannya, di luar sana mendung bergelayut tebal di sisi-sisi langit,
Melihat mendung yang demikian ia khawatir hujan akan segera turun deras dan ia ingat Bunga,
Ah yah, ia tahu meski ini sebetulnya konyol, namun ia sulit percaya jika Bunga akan baik-baik saja di rumah calon mertuanya yang wajahnya sudah mirip dengan kuburan angker,
Ia menunggu Bunga menghubungi namun pada akhirnya ia merasa harus ke sana langsung saja,
Kekhawatiran Nathan telah memuncak dan tak lagi ia bisa tahan kembali,
"Tidak harus sekarang kan?"
Tanya Nathan pada staf yang membawa setumpuk berkas untuk ia tanda tangani,
Staf tersebut menggeleng, Nathan pun tersenyum sekilas,
"Besok aku akan berangkat lebih awal, letakkan saja di mejaku, besok pagi-pagi sekali aku akan periksa satu persatu,"
__ADS_1
Ujar Nathan,
Staf yang membawa setumpuk berkas itupun mengangguk, lantas menurut masuk ke ruangan Nathan untuk meletakkan setumpuk berkas di meja Nathan,
Sementara itu, Nathan sendiri tampak bergegas menuju keluar kantor,
Saat menuju keluar, disempatkannya menyapa beberapa staf lain, dan menyempatkan pula memberikan uang rokok untuk satpam kantor,
Dan benar saja, saat Nathan keluar dari kantor dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pelataran depan kantornya,
Hujan mulai turun rintik-rintik dari gumpalan-gumpalan awan mendung yang mulai memenuhi seluruh sisi langit kota,
Nathan masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru, yang kemudiannya tanpa menunggu lama langsung saja tancap gas untuk kembali ke rumah calon mertua Bunga,
"Jangan pulang dulu Nga, sebentar lagi hujan, nanti kamu sakit,"
Sekitar lima menit setelah Nathan membawa mobilnya keluar dari kantor, hujan pun benar-benar turun dengan derasnya,
Nathan pun tampak semakin tergesa dengan menambahkan kecepatan laju mobil yang ia kendarai,
Dan ketika ia akhirnya melihat jalan masuk kawasan rumah calon mertua Bunga, Nathan pun tampak semakin tak sabar untuk bisa segera sampai guna memastikan Bunga belum pulang dan bisa ia jemput,
Namun...
Di saat Nathan membawa mobilnya memasuki jalanan yang akan menuju rumah calon mertua Bunga, tiba-tiba...
__ADS_1
Nathan dikagetkan dengan sosok mirip Bunga yang berpapasan dengan mobilnya,
Sosok mirip Bunga itu berjalan di pinggiran sambil menunduk dan membiarkan dirinya diguyur hujan yang begitu deras,
Nathan memelankan laju mobilnya sambil memastikan jika memang sosok itu adalah Bunga,
Hingga akhirnya...
Sosok itu, yang seperti menyadari mobil yang sempat berpapasan dengannya tiba-tiba menjadi pelan dan kemudian berhenti tampak menoleh,
Yang tentu membuat wajahnya terlihat hingga membuat Nathan di dalam mobil pun yakin jika itu adalah Bunga,
Nathan cepat turun dari mobil, rela basah pula diguyur hujan yang semakin deras,
"Bunga, mau ke mana? Hujan sederas ini kenapa tidak menunggu aku jemput saja kalau memang tidak mau menghubungi ku untuk minta dijemput,"
Nathan meraih tangan Bunga untuk menahannya pergi,
Bunga menatap Nathan di bawah guyuran hujan,
Hatinya yang kini tengah tak baik-baik saja seolah membuatnya begitu butuh sandaran,
Dan...
Tangis itupun pecah, yang kemudian entah kenapa mendorongnya menghambur ke arah Nathan dan kemudian semakin menangis di dada bidang Nathan yang bahkan untuk sesaat tak tahu harus bagaimana karena tak menyangka Bunga akan memeluknya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...