
Tok tok tok...
Terdengar suara ketukan di pintu kamar, Bunga yang terkejut karena sedang fokus mengerjakan tugas tampak akan menoleh ke arah pintu saat kemudian matanya tanpa sengaja melihat ke arah luar jendela kamar yang langsung berhadapan dengan pintu rumah kontrakan meskipun jaraknya ada beberapa meter.
Di sana Nathan tampak masih berdiri di pintu dan tersenyum ke arah Bunga, membuat Bunga yang tak menyangka akan mendapati Nathan di sana sempat salah tingkah meskipun pada akhirnya membalas senyum ala kadarnya.
Ah...
Apa ini?
Kenapa setiap kali hanya melihat senyuman laki-laki itu dada berdebar-debar tak jelas? Batin Bunga.
Bahkan sampai kemudian Nathan menutup pintu rumah kontrakannya, Bunga masih merasa debar di jantungnya masih saja tak normal.
Aneh memang...
Jelas ini memang tidak seperti yang biasa terjadi pada dirinya, yang baru bertemu seorang laki-laki baru rasanya hatinya merasa ada sesuatu.
Tok tok tok...
Terdengar lagi ketukan di pintu, lalu terdengar suara Mbok Siti,
"Non Bunga... Non, ini titipannya."
Titipan?
Bunga berdiri dari duduknya, ia lantas cepat berjalan menuju pintu kamar, membuka pintu kamarnya dan mendapati Mbok Siti di sana.
"Titipan nopo Mbok?"
Tanya Bunga,
__ADS_1
"Calon mertua Non Bunga yang titip maksudnya untuk Non Bunga."
Kata Mbok Siti seraya menyerahkan bungkusan ke arah Bunga.
Ah yah...
Calon mertua. Ibunya Mas Fandi. Bunga sampai lupa harusnya ia memang sering berkunjung ke tempatnya.
"Oh nggih Mbok, maturnuwun,"
Kata Bunga sambil menerima bungkusan tersebut.
"Tadi Pak Darso kebetulan mampir ke rumah Pak Gito yang rumahnya dekat calon mertua Non Bunga."
Jelas Mbok Siti.
"Oh Nggih, yang Guru di pondok apa ya Mbok?"
"Betul Non Bunga, yang ngajar di sekolah yang di pondok itu, Bapak biasa titip untuk keponakan yang mondok di sana, kasihan tidak ada Bapaknya."
Kata Mbok Siti.
"Ooh iya Mbok,"
Bunga pun mantuk-mantuk.
"Nggih sampun, barangkali mau istirahat lagi, maaf soalnya takut nanti ditanyakan lebih dulu sama calon mertua Non Bunga, tidak enak kalau tidak langsung disampaikan."
Tutur Mbok Siti, tentu saja mendengarnya Bunga tampak tersenyum lalu mengangguk.
Ia tahu betul sosok Mbok Siti yang memang jujur dan sangat tidak enakan, selama bekerja di rumah Eyang dan Bunga mengenalnya memang begitu orangnya pada siapa saja.
__ADS_1
Bunga pun lantas menutup pintu kamarnya kembali, ia membawa bungkusan pemberian Ibunya Mas Fandi ke tempat tidur, tampak Bunga naik ke atas tempat tidur sebentar untuk membuka bungkusan.
Tampak jilbab segi empat motif terang bulan warna abu-abu dan juga kemeja batik dengan warna abu-abu pula dikeluarkan Bunga dari bungkusan.
Bunga menghela nafas, ini sudah kesekian kalinya Ibunya Mas Fandi memberinya jilbab yang pastinya adalah perintah secara tidak langsung agar Bunga bisa segera mengenakan jilbab.
Bunga lantas turun dari atas tempat tidur untuk berjalan menuju meja belajarnya.
Diambilnya hp miliknya, lalu membawanya berjalan lagi ke arah tempat tidur.
Bunga memfoto jilbab dan baju batik pemberian sang calon mertua, setelah difoto tentu saja ia kirimkan foto itu pada Ibu calon mertuanya.
Terimakasih Ibu, titipannya sudah sampai. Nanti Bunga akan pakai.
Begitulah tulis Bunga.
Bunga setelah itu kembali ke meja belajar dan mulai sibuk belajar lagi.
Lalu...
Tak sampai lima menit, ketika akhirnya balasan dari sang calon mertua masuk ke nomor Bunga,
Tampak Bunga cepat membuka pesan dari Ibu calon mertuanya itu,
Syukurlah sudah sampai Bunga, kapan ke tempat Ibu? Banyak yang ingin Ibu bicarakan, mampirlah besok atau lusa ke rumah.
Bunga menghela nafas,
Ah pasti akan menasehati sepanjang jalan kenangan lagi. Batin Bunga galau.
**------------**
__ADS_1