Twinflame

Twinflame
28. Tak Mudah Jujur


__ADS_3

"Sudah lama di sini Mas?"


Tanya dokter Imam ketika akhirnya ia dan Nathan satu mobil dalam perjalanan menuju tempat kerja mereka yang masih satu arah,


Nathan yang duduk di samping dokter Imam mengemudi tampak menggeleng,


"Belum Pak dokter, baru hitungan hari,"


Jawab Nathan,


"Oh masih baru hitungan hari... berarti karyawan baru atau..."


"Karyawan lama hanya baru ditempatkan di kantor cabang yang kebetulan ada di kota ini,"


Kata Nathan,


dokter Imam mantuk-mantuk mengerti,


"Oh tadi, terimakasih sudah membantu saudara saya, Eyang cerita kalau panjenengan juga yang mengangkat dik Bunga ke kamar karena dik Bunga pingsan,"


Kata dokter Imam,


Nathan terlihat sekilas tersenyum,


"Sejak orangtuanya tiada, memang dik Bunga itu sering begitu, dulu Mas Singgih waktu belum berangkat ke Jepang sering cerita khawatir sekali dengan adik sepupunya itu,"


Dokter Imam bercerita,

__ADS_1


Nathan yang sudah tahu Bunga tak memiliki orangtua terlihat mengangguk dan tampak sekali ia memberikan perhatian lebih,


"Tapi Bunga baik-baik saja kan Pak dokter? Ngg... Maksudnya, tidak ada sakit yang serius?"


Tanya Nathan hati-hati,


Dokter Imam menggeleng seraya tersenyum,


"Tidak apa-apa Mas, dia hanya butuh istirahat lebih saja. Dulu waktu sekolah juga sering dik Bunga ini jatuh pingsan, terutama kalau pelajaran olahraga, untungnya dulu ada saya dan Mas Singgih yang satu sekolah, sementara setelah kami lulus kondisi dik Bunga sudah cukup baik,"


Nathan mantuk-mantuk mendengar cerita dari dokter Imam,


"Panjenengan katanya teman Mas Singgih bukan? Tadi Eyang sempat menyinggung soal itu waktu Mas Nathan baru pulang ke rumah kontrakan setelah saya datang,"


Kata dokter Imam,


"Iya pak dokter, saya kebetulan sempat satu kampus dengan Mas Singgih waktu S1, lama tak ada kontak karena beliau sibuk meneruskan S2 dan saya bekerja, tiba-tiba saya ditempatkan di kota ini dan akhirnya kami tak sengaja jadi komunikasi lagi karena saya mencari tempat tinggal."


"Ini kenapa kita harus menjalin silaturahmi sebaik mungkin dengan orang-orang yang kita kenal kan Mas? Karena kita tidak tahu kapan saatnya kita butuh bantuan, atau kapan kita punya kesempatan membantu teman, sahabat maupun kerabat,"


Kata dokter Imam,


Nathan mengangguk setuju,


Laki-laki muda itu jadi ingat Mas Singgih saat bicara ditelfon menitipkan keluarganya, di mana di sana ada Eyang dan Bunga,


Mas Singgih membantu Nathan menemukan tempat, namun juga meminta bantuan Nathan untuk mewakili dirinya menjaga Eyangnya dan adik sepupunya yang ternyata adalah seorang anak yatim piatu,

__ADS_1


Ah...


Nathan jadi ingat wajah Bunga saat tadi ia pertama kali baringkan di tempat tidur, saat kemudian gadis itu mengigau terus menerus, air mata yang menetes dari sudut matanya, hingga kemudian ketika Nathan mengompres keningnya,


Getar halus di dada Nathan kini kembali berdesir, beriringan dengan rasa iba di hatinya atas keadaan Bunga yang baru ia ketahui,


Menjadi yatim piatu sejak kecil dan akhirnya membuatnya hidup bersama Eyangnya, pasti selama ini hidupnya tak semudah anak gadis lain,


"Sudah menikah Mas?"


Tanya dokter Imam tiba-tiba, seraya membawa mobilnya berbelok ke arah kiri di pertigaan lampu merah,


Nathan yang ditanya soal status tiba-tiba terlihat terkesiap,


Entah kenapa ia ragu menjawab iya,


"Sepertinya belum ya,"


dokter Imam terkekeh,


"Tidak apa Mas, kita kaum laki-laki memang lebih santai dan tidak terlalu dituntut cepat menikah,"


Kata Dokter Imam pula,


Nathan tersenyum sekilas lalu, hatinya mencoba memberontak menuntut Nathan mengatakan jika sebetulnya ia telah menikah,


Tapi ...

__ADS_1


Nathan pada akhirnya tetap diam tak mengatakan apapun soal pernikahannya hingga ia kemudian sampai di kantor.


**-------------**


__ADS_2