Twinflame

Twinflame
42. Tak Disangka


__ADS_3

Nathan tampak melirik Bunga yang duduk di sampingnya sambil sibuk berbalas chat dengan seseorang,


Gadis itu masih sedikit pucat, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya.


Nathan kembali fokus ke jalan, ketika gantian Bunga yang menoleh ke arahnya,


Berada di dekat Nathan yang terlihat tenang, membuat Bunga merasa nyaman, seolah benar mereka telah lama kenal,


"Ke rumah saudara?"


Tanya Nathan tiba-tiba, di sela kesibukannya mengemudi,


Bunga terdiam, lalu...


"Ke rumah Ibu,"


Jawab Bunga kemudian,


Nathan menoleh seketika,


"Ibu?"


Nathan terlihat bingung,


Bunga mengangguk kecil,


"Ibu..."


Kalimat Nathan tak selesai, entah kenapa dadanya kini seperti berdegup kencang,


"Ibunya Mas Fandi, tunangan Bunga,"


Jawab Bunga lugas,


Seolah tak ada keinginan menutupi sama sekali,


Nathan terkesiap, tentu perasaannya langsung campur aduk,

__ADS_1


Ingin marah tapi marah pada siapa?


Cemburu tapi sebagai apa?


Nathan sendiri bahkan belum tahu persis apa sebetulnya perasaan dia kepada Bunga,


Ia juga tak mengerti kenapa ia kini seperti begitu terluka mendengar Bunga mengucapkan nama laki-laki lain,


Fandi?


Itukah namanya?


Laki-laki seperti apa dia?


Bekerja apa dia?


Sebaik apa dia?


Ah Nathan benci sekali dengan situasi ini,


"Oh, itu Mas, di depan ada jalan masuk, tapi Bunga turun di sana saja tidak apa-apa, nanti Bunga jalan masuknya, cuma sebentar kok,"


"Tidak apa-apa, Mas antar saja, kamu baru sembuh, Mas harus memastikan kamu sampai dengan selamat di tujuan, supaya nanti eyang juga tidak khawatir,"


Ujar Nathan, masih tetap bicara dengan suara halus,


Bunga terdiam, ia bingung ingin menolak tapi juga nyatanya memang jika berjalan sebetulnya tak sedekat itu,


Walhasil, jadilah Nathan mengantar Bunga sampai rumah calon Ibu mertuanya,


Ah calon Ibu mertua, rasanya ada yang tidak nyaman di hati Nathan memikirkan jika sosok yang disebut Ibu adalah calon Ibu mertua Bunga,


Cukup jauh dari jalan masuk menuju perkampungan, sekitar tiga ratus meteran dari jalan raya utama, barulah Bunga akhirnya meminta Nathan menghentikan mobilnya,


Nathan pun menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis dengan pagar pendek berwarna putih, dengan halaman kecil ditanami bunga dan beberapa tanaman perdu lain yang ditata rapi,


Bunga bersiap turun, melepas sabuk pengamannya, dan kemudian mengucapkan terimakasih pada Nathan,

__ADS_1


"Pulang jam berapa?"


Tanya Nathan,


Bunga sejenak seperti berpikir, lalu baru menjawab pertanyaan Nathan,


"Mungkin nanti sore Mas, sudah lama tidak nengok Ibu, mumpung ini ada waktu, lusa juga sudah mulai sibuk garap pesanan,"


Kata Bunga,


Nathan memaksakan senyuman pada Bunga,


"Simpan nomorku,"


Kata Nathan sambil menyodorkan kartu namanya kepada Bunga,


Tampak Bunga mengambil pelahan kartu nama Nathan dari tangan laki-laki itu,


Sekilas dibacanya kartu nama berbahan transparan di tangannya tersebut, setelah itu dimasukkannya ke dalam tas dompet kecil selempang yang dibawanya,


"Hubungi Mas kalau nanti mau pulang, ya?"


Nathan menatap Bunga yang bersiap membuka pintu mobil,


Bersamaan dengan itu seorang perempuan setengah baya terlihat keluar dari pintu samping rumah minimalis yang merupakan rumah Fandi,


Perempuan itu tampak memandangi mobil Nathan yang berhenti tepat didepan pagar rumahnya,


Bunga seketika langsung terlihat gugup, lalu dengan cepat pamit untuk turun pada Nathan,


Gadis itu buru-buru turun, dan tampak perempuan yang ada di rumah Fandi sedikit terkejut melihat Bunga yang turun dari mobil,


Dan,


"Dik Bunga,"


Tiba-tiba suara Nathan terdengar memanggil, seiring dengan ikut turunnya laki-laki muda itu pula, yang tentu saja membuat perempuan di rumah Fandi yang tak lain adalah Ibunya Fandi itupun menatap Nathan dan Bunga dengan tatapan seolah tak suka.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2