
Kukuruyuuuuuk... yuk ayuk bangun...
Suara ayam jantan terdengar menyambutnya sang fajar, Bunga membuka matanya pelahan dan mengerjap sesaat,
Matanya terasa sedikit panas karena semalaman ia menangis, tentu apalagi jika bukan karena Fandi marah luar biasa,
Bunga berjanji pagi ini ia akan benar-benar ke rumah Ibunya Fandi apapun yang terjadi, tapi...
Bunga terlihat akan bangun, saat kemudian ia merasa tubuhnya lemas dan kepalanya juga terasa berat,
Gadis itu bergerak pelan dari berbaringnya, berusaha bangun duduk di atas tempat tidur, namun kepalanya justeru seperti berputar-putar karena pusing luar biasa,
Bunga pun akhirnya memilih berbaring kembali,
"Aku harus ke rumah Mas Fandi, aku harus ke rumah Mas Fandi,"
Lirih Bunga mencoba menguatkan dirinya sendiri,
Bunga lantas kembali berusaha bangun, ia tak mau nanti dikira membuat alasan lagi,
Gadis itupun memaksakan diri bangun lagi, menahan pusing di kepalanya sekuat tenaga,
Bunga turun dari tempat tidurnya, ia mengambil handuk kecil untuk ke kamar mandi,
Bunga berjalan keluar kamar, terhuyung-huyung menuju kamar mandi,
Mbok Siti di dapur sedang merebus air dan seperti sedang mengirisi kobis dan wortel,
Bunga melewati dapur yang bersebalahan dengan kamar mandi, namun tiba-tiba saat akan masuk kamar mandi pandangan matanya menjadi gelap, kepalanya yang sudah pusing luar biasa seperti ditindih batu besar,
Mbok Siti yang baru akan menyapa Bunga kaget luar biasa, manakala melihat Bunga tiba-tiba jatuh limbung ke lantai tak sadarkan diri,
__ADS_1
Mbok Siti pin menjerit panik, membuat Eyang di kamar juga kaget dan tergopoh-gopoh keluar dari kamar,
"Ada apa Mbok... Ada apa Mbok?"
Eyang bertanya sambil tergopoh menuju dapur,
Dan betapa terkejutnya Eyang melihat Mbok Siti yang kini tengah berusaha menolong Bunga yang tergeletak di lantai.
"Astaga, ada apa Mbok? Kenapa Bunga?"
Tanya Eyang tak kalah panik dengan Mbok Siti,
"Aduh, tidak tahu Eyang, ini Mbak Bunga tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri, ini badannya panas sekali,"
Suara Mbok Siti tergetar,
"Darso... Mana Pak Darso, minta tolong angkatkan Bunga ke kamar dulu,"
Kata Eyang,
Ujar Mbok Siti,
"Oalah, iya, aku lupa Mbok,"
Eyang mengurut kening,
"Aduh, telfon siapa jam begini pagi yang mau direpotkan, apa minta tolong orang di mushola saja Mbok, sebentar lagi adzan subuh, mungkin sudah ada orang,"
Kata Eyang,
Mbok Siti berdiri dari posisinya di sebelah Bunga, ia akan menuruti Eyang untuk pergi ke mushola, saat tiba-tiba ia ingat Nathan di rumah kontrakan depan,
__ADS_1
"Eyang, tek panggil Mas Nathan saja nggih? Tek minta tolong Mas Nathan saja."
Kata Mbok Siti sembari tergopoh-gopoh keluar dari dapur dan cepat menuju pintu samping rumah.
Eyang yang tak peduli mau minta tolong siapa asal Bunga bisa diangkat ke kamar tentu saja tak merasa perlu mengiyakan,
Eyang cepat menghampiri Bunga dan berusaha menyadarkannya,
"Bangun Bunga... Bangun nak, ya Tuhan, kamu ini kenapa to? Kamu ini kenapa sampai begini.."
Eyang jadi menangis karena mengingat nasib malang Bunga yang telah menjadi yatim piatu sejak kecil,
Sementara itu, di rumah kontrakan, Nathan baru saja bangun dan akan menuju kamar mandi, saat pintu depan kontrakannya diketuk cukup keras disertai suara Mbok Siti memanggil-manggil nama Nathan,
"Mas Nathan... Mas Nathan..."
Mendengar suara Mbok Siti yang seperti panik, maka Nathan pun bergegas menuju pintu untuk cepat membukanya,
"Mas... Tolong..."
Kata Mbok Siti begitu Nathan membukakan pintu,
"Ada apa Mbok?"
Tanya Nathan melihat Mbok Siti terlihat begitu panik,
"I... Itu Mas, aduh... Mbak Bunga pingsan, tolong diangkatkan ke kamar, anu Pak Darso..."
"Di mana Bunga nya?"
Nathan tanpa ingin mendengar kalimat Mbok Siti selesai langsung keluar dan menutup pintu,
__ADS_1
Mbok Siti pun segera mengajak Nathan menuju rumah Eyang.
**--------------**