
Nathan yang merasa lapar akhirnya memutuskan menyantap makan siangnya sebelum bebenah.
Setelah mengganti lilitan handuknya dengan celana pendek, Nathan kemudian duduk di kursi depan TV, menyalakan TV dan bersiap bersantap siang.
Lauk yang terlihat cukup menggiurkan untuk dinikmati, tentu saja Nathan langsung tanpa menunggu lagi langsung menyantapnya.
Di TV kini terlihat acara yang seperti biasa film TV yang entah siapa artisnya karena jaman sekarang rasanya artis banyak sekali dan tidak ada yang terlalu istimewa untuk dihafal.
Tapi...
Nyatanya Nathan tak terlalu peduli dengan hal itu, mau artisnya siapa, jalan ceritanya seperti apapun untuk Nathan nyatanya ia hanya butuh teman makan saja.
Meskipun sebetulnya ia sudah terbiasa makan sendirian karena punya isteri pun ia selalu sibuk sendiri.
Jam makan ia hanya mengingatkan makan saja, tapi dianya sendiri sibuk dengan laptopnya.
Tak ada hal semacam keluarga lain, yang duduk bersama dalam satu meja makan untuk menikmati jam makan agar bisa saling bertukar cerita.
Sama juga jika di tempat tidur, Citra, isterinya biasanya akan tidur jauh setelah Nathan tidur. Kesibukan Citra yang memang memiliki karir jauh lebih baik dari Nathan membuatnya seolah tak ada waktu sama sekali untuk rumah tangga mereka.
Sekian tahun, Nathan mencoba membiasakan diri, tapi tetap saja, ia selalu menginginkan kehidupan normal seperti orang lain.
Nathan menikmati makan siangnya dalam kesepian, sesekali melihat TV lalu berganti pada hp di sebelah piring.
Sampai kemudian makan siangnya habis tanpa sisa, dan ia kembali ingat ingin mengucapkan terimakasih pada Singgih.
Nathan pun membawa piring-piring kotornya ke dapur ke tempat cucian. Setelah mencuci tangan sebentar, Nathan kembali ke kursi di depan TV, meraih hp nya, lalu mengirim pesan pada Singgih.
Aku ingin menelfon, tapi takut kau sedang sibuk. Terimakasih banyak Singgih, tempat Eyang sangat nyaman, aku beruntung.
__ADS_1
Nathan mengirimkannya kemudian pada Singgih sahabatnya, tentu itu sudah satu keharusan bagi Nathan karena pastinya akan sulit baginya menemukan tempat senyaman di sini jika mencari sendiri.
Benar satu keberuntungan, ia tak sengaja memposting mencari rumah kontrakan di salah satu akun media sosialnya, karena akhirnya Singgih jadi menghubunginya.
Dan tak disangka, balasan dari Singgih langsung masuk tak selang berapa lama.
Syukurlah Than, semoga nyaman dan kerasan terus. Sekalian aku titip Eyang dan adik sepupuku Bunga. Paman sekarang tidak ada di rumah, jadi aku sedikit tenang ada laki-laki lagi di rumah.
Nathan membaca pesan balasan Singgih sambil tersenyum.
Lalu Nathan pun membalas pesan Singgih lagi,
Ya, semoga aku bisa menjalankan amanahmu Singgih. Sekali lagi terimakasih.
Nathan baru saja mengirimkan pesan tersebut, manakala ada panggilan dari nomor isterinya.
Sejenak Nathan mengatur emosinya, agak kesal dia karena tadi menelfon tak diangkat, entah ke mana dia hingga jam segini baru menelfon balik.
Nathan menjawab sedikit malas,
"Kamu ke mana? Aku menelfon tidak diangkat, sudah sampai apa belum? Kenapa tidak kasih kabar."
Citra malah belum apa-apa langsung lebih dulu mengomel, membuat Nathan jadi tambah emosi,
"Harusnya aku yang tanya, kamu dari mana tadi saat aku langsung telfon balik. Kalau aku jelas untuk nyari alamat kontrakan saja aku butuh waktu, sampai kontrakan juga aku harus bebenah."
Ujar Nathan memberi alasan,
"Apa susahnya kalau niat kasih kabar tidak sampai lima menit bukan?"
__ADS_1
Citra malah tambah nyolot pula, Nathan yang sejatinya sedang lelah akhirnya emosinya kini benar-benar jadi terpancing.
"Ya sudahlah, memangnya kapan kamu salah? Karirmu pastinya terlalu bagus untuk bisa disalahkan suami seperti aku yang gajian saja jauh di bawahmu."
Nathan suaranya saat mengatakannya sedikit tergetar.
Citra terdiam, Nathan yang kesal akhirnya menutup telfon isterinya.
Dadanya terasa sesak. Nathan pikir setelah sedikit berjauhan, Citra akan sedikit perhatian padanya, paling tidak bertanya dengan nada suara yang lebih lembut atau tak mudah cepat marah padanya hanya karena masalah sepele.
Baiklah...
Mungkin karir Nathan yang memang belum sebagus dirinya, mungkin karena penghasilan Nathan yang belum setinggi dirinya.
Tapi...
Nathan tetap laki-laki, Nathan adalah seorang suami. Ia adalah pemimpin rumah tangga mereka.
Jadi apa salah jika Nathan ingin isterinya sedikit saja menghargai keberadaannya?
Berbeda saat dulu masih berpacaran, rasanya Nathan begitu mengagumi sosok isterinya itu.
Perempuan yang mandiri, perempuan yang sangat cekatan dan selalu profesional dalam pekerjaannya.
Untuk Nathan, saat akhirnya bisa meminang Citra tentu adalah satu kebanggaan.
Bukan hanya dia cantik dan berasal dari keturunan orang terpandang, namun juga memang dia sosok yang sangat mengagumkan.
Tapi...
__ADS_1
Ternyata setelah menikah, semua itu tak lagi menjadi sesuatu yang membuat hati Nathan bahagia, malah justru sebaliknya, ia merasa sangat terintimidasi dan tak nyaman.
**-----------**