Twinflame

Twinflame
17. Yang Teristimewa


__ADS_3

"Sudah dibilang nanti saja gampang Nak Nathan, pakai dulu saja barangkali butuh untuk belanja keperluan selama di sini."


Ujar Eyang begitu akhirnya acara sarapan selesai, dan Nathan menyerahkan uang biaya kontrakan selama dua tahun.


Masa dua tahun itu memang masa Nathan ditempatkan di sana, dua tahun kemudian, bisa jadi Nathan akan kembali ditarik ke Jakarta, atau mungkin ditempatkan di kota yang lain lagi.


"Tidak apa-apa Eyang, biaya tempat tinggal ini disiapkan dari kantor, untuk keperluan lain sudah ada sendiri,"


Ujar Nathan,


"Ooh begitu rupanya,"


Eyang tampak mantuk-mantuk, Nathan tersenyum,


Setelah itu, Nathan pun pamit untuk langsung berangkat bekerja,


"Naik apa Nak?"


Tanya Eyang putri yang ikut berdiri,


"Naik ojek Eyang, kemarin ojek yang ketemu di stasiun,"


Jawab Nathan,


"Ojek sopo to?"


Eyang mengerutkan kening,


"Mas Sunarto, Eyang."


Kata Bunga,


"Ooh si Sunarto, kemarin diantar Narto?"

__ADS_1


Tanya Eyang,


"Nggih Eyang, kebetulan di stasiun ketemunya Mas Narto itu, jadi tidak sampai kesasar."


Kata Nathan,


"Narto sekarang ngojek di stasiun to, Eyang malah baru tahu,"


Ujar Eyang,


Bunga tersenyum,


Nathan lantas kembali berpamitan, Eyang mengantar hingga pintu depan, sedangkan Bunga membawakan amplop berisi uang yang diberikan Nathan ke kamar Eyang untuk disimpan di sana, setelah itu ia ke kamarnya sendiri untuk bersiap pergi ke kampus pula.


Bunga tampak mengambil kemeja dan celana panjang dari lemari pakaian yang lurus dengan jendela kamarnya yang terbuka lebar, manakala dari sana ia bisa melihat Mas Sunarto telah menunggu Nathan di depan rumah kontrakan.


Nathan, laki-laki muda itu lantas naik ke boncengan, dan dalam sekejap mereka pun pergi.


Bunga meletakkan telapak tangannya di dada sebelah kirinya,


Nathan...


Laki-laki itu, tatap matanya kenapa begitu lembut? Kenapa suaranya begitu lembut? Kenapa senyumannya begitu lembut?


Bunga menutup pintu lemari pakaiannya, di mana di sana terdapat cermin besar yang menempel,


Tampak pantulan bayangan dirinya di cermin kini menatap dirinya pula,


"Kamu kenapa Nga?"


Tanya Bunga pada bayangannya sendiri,


Tanya yang jelas tak mungkin mendapat jawaban,

__ADS_1


Sementara itu, di jalan, Nathan yang membonceng ojek Mas Sunarto terlihat sibuk memandangi kanan kiri jalan menuju kantor baru tempat ia bekerja,


Mungkin jika satu bulan nanti ia sudah mulai merasa kerasan, ada baiknya ia akan mencari kendaraan sendiri, mungkin motor bekas atau mobil bekas sekalian,


"Mas Nathan kok tahu rumah Eyang Putri, tahu darimana ya Mas?"


Tanya Mas Sunarto,


"Oh, saya belum cerita kalau saya tahu dari Mas Singgih ya Mas?"


Tanya Nathan,


"Ooh, iya iya, nopo saya yang lupa mungkin nggih Mas, hehehe..."


Mas Sunarto terkekeh,


Nathan tersenyum,


"Saya dulu kuliah bersama Mas Singgih, kebetulan saya dapat tugas dari kantor untuk ditempatkan di kota Mas Singgih ini, jadi saya terimakasih sekali tidak usah kesulitan mencari tempat tinggal, karena kantor saya memang belum ada asrama sendiri,"


Kata Nathan,


"Tapi malah lebih baik tinggal di rumah Eyang, Mas, baik sekali itu Eyang Putri, semua warga kampung hormat sekali pada beliau."


Ujar Mas Sunarto,


Nathan tersenyum sambil mantuk-mantuk setuju,


"Apalagi ada Mbak Bunga, cucunya Eyang Putri itu bisa tambah membuat betah to Mas Nathan?"


Mas Sunarto terkekeh lagi,


Nathan hanya mampu tersenyum saja menanggapi.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2