Twinflame

Twinflame
33. Tak Ingin Berkhianat


__ADS_3

Sepeninggal Nathan dan Eyangnya, tampak Bunga turun dari atas tempat tidur,


Kepalanya sudah tak begitu pusing, hanya tubuhnya masih lemas,


Bunga ingin cuci muka, rasanya ia risih sekali karena seharian ini ia benar-benar hanya di atas tempat tidur.


Bahkan, saat tadi Nathan masuk saja, sebetulnya Bunga sama sekali tidak percaya diri.


Gadis berparas ayu itu lantas berusaha membawa langkahnya pelahan menuju pintu kamar, manakala tiba-tiba masuk Mbok Siti,


"Lho Mbak Bunga, mau ke mana? Sudah... sudah di tempat tidur saja, nanti dimarahi Eyang lho,"


Ujar Mbok Siti yang bergegas menghampiri Bunga dan memapah tubuh Bunga ke atas tempat tidur lagi,


"Bunga hanya ingin cuci muka Mbok,"


Kata Bunga lirih,


Mbok Siti memaksa Bunga duduk di atas tempat tidur lagi,


"Manut saja to sama si Mbok, nanti daripada Eyang marah, mendingan Mbak Bunga tetap di tempat tidur saja sampai nanti tidak lemas lagi."


"Mbook,"


Bunga sedikit merajuk, tapi Mbok Siti tetap keukeh menggelengkan kepalanya,


"Sudah Mbak Bunga, pokoknya percaya deh sama Mbok, nanti biar Mbok ambilkan air hangat saja untuk cuci muka kalau Mbak Bunga mau, yang penting tidak usah jalan jauh ke belakang, lihat ini wajahnya, ish ish ish... pucat sekali,"


Kata Mbok Siti,


Bunga menghela nafas,

__ADS_1


Asisten Rumah Tangga Eyangnya ini memang paling luar biasa pintar kalau urusan memberikan solusi,


"Manut pokoknya, jangan ngeyel, nanti enaknya buat Mbak Bunga sendiri, lagipula biar Mbak Bunga tetap bisa bikin pesanan kan?"


Bunga yang begitu mendengar soal pesanan langsung terkesiap, jelas ia sempat melupakan soal pesanan temannya beberapa hari nanti hanya karena perintah Fandi,


"Ah iya Mbok, bagaimana ini..."


Bunga jadi panik,


"Makanya Mbak Bunga istirahat total saja, biar Mbak Bunga cepat sehat terus kan nanti bisa aktivitas seperti biasa,"


Ujar Mbok Siti,


Bunga menatap Mbok Siti dalam diam, ia tak bisa langsung menjawab, lalu...


"Ya, manut ya cah ayu,"


Mbok Siti kemudian tersenyum, lalu tampak ia beralih ke arah kursi di mana ada kotak-kotak kue dari Nathan yang masih utuh di dalam kantong kresek,


Eyang tadi meminta Mbok Siti mengambilkannya untuk dipotong sebagian dan disimpan di kulkas sebagian lainnya.


"Mbak Bunga ini Mbok bawa ya, disuruh dipotong sama Eyang, sama disimpan, takut di sini nanti semuanya disemuti."


Ujar Mbok Siti,


Bunga mengangguk saja, buatnya tentu tak ada masalah mau diapakan kue-kue dari Nathan.


"Mbak Bunga mau dipotongkan yang mana? Yang brownies apa yang mana? Ini sepertinya ada tiga macam."


Tanya Mbok Siti seraya kepo melihat penampakan kotak-kotak kue di dalam kresek dari cara menerawang kotak-kotak kreseknya,

__ADS_1


Bunga menggeleng,


"Nanti sajalah Mbok, saya cuma ingin cuci muka lalu ganti baju,"


Kata Bunga.


"Oalah, iya iya... Mbok ambilkan airnya dulu, sekalian nanti Mbok buatkan makan malam sama air madu biar tidak lemas lagi, ya,"


"Iya Mbok, maturnuwun,"


Bunga tersenyum,


Mbok Siti mantuk-mantuk seraya menatap Bunga,


Asisten Rumah Tangga Eyang Putri itu baru akan keluar kamar, ketika kemudian ia tiba-tiba berhenti dan menoleh lagi,


Bunga menatapnya bingung, lalu...


"Mbak, kalau lihat Mas Nathan tadi pagi, kelihatan sekali dia kalau jadi suami akan jadi suami yang sangat sayang dengan isterinya, benerlah, kalau tidak ada Mas Nathan, kita semua bingung Mbak Bunga tiba-tiba pingsan lagi kayak dulu waktu masih kecil."


Ujar Mbok Siti, mendengarnya Bunga hanya bisa menghela nafas,


Mbok Siti kemudian cengengesan dan akhirnya kembali meneruskan langkahnya keluar kamar begitu melihat ekspresi Bunga yang tetap datar tak komen apapun,


Bunga meletakkan telapak tangannya di dada sebelah kirinya, merasakan detak jantungnya yang selalu tak biasa ketika mendengar orang membahas Nathan.


Ah sungguh...


Tidak.


Aku tidak mungkin mengkhianati Mas Fandi. Batin Bunga.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2